
“Beloved Mister”
Author by Natalie Ernison
Heron akhirnya bersama dengan Jannet, namun kebersamaan mereka justru di tengah situasi yang kurang baik. Kesehatan Jannet sudah mulai pulih, namun keadaan Heron justru kian memburuk.
~ ~ ~
“Nona Jen, tolong berjalanlah dengan pelan sedikit, karena kondisi nona masih belum sepenuhnya pulih..” ujar para pelayan kastil yang membantu perawatan Jen.
“Aku ingin segera bertemu dengan tuan Heron, apakah itu salah!” tukas Jen dengan memicingkan matanya, sebagai tanda ia tak setuju dengan nasihat para pelayan.
“Nona, tolong jangan sekarang! tuan Heron..—“ ucap salah seorang pelayan dengan terbata.
Jen melangkah mendekati sang pelayan yang tiba-tiba saja menghentikan ucapannya. “Apa yang ketahui tentang tuan Heron, apa yang terjadi padanya!” tukas Jen penuh selidik.
“Maaf nona Jen, kami tidak berhak bicara..” ujar sang pelayan sembari menundukkan kepala mereka.
“Apa yang kalian coba sembunyikan dariku! apa!” bentak Jen. Jen kian cemas akan sikap diam para pelayan yang membuatnya semakin ingin tahu saja. Jen menerobos masuk ke dalam sebuah ruangan yang dijaga oleh beberapa orang pria.
“Nona Jannet, mohon maaf kami tidak bisa membiarkan nona masuk!” cegat para pria yang merupakan pelayan kastil.
“Apa yang kalian lakukan! apa yang terjadi dengan tuan Heron!” bentak Jen kesal, ia bahkan memaksakan diri untuk tetap masuk.
Hargghhhhkk…. suara seekor binatang terdengar jelas dari dalam ruangan tersebut.
“Tuan Heron! tuan!” panggilnya dengan nada lirih. Hati Jen sungguh tidak tenang kala itu dan sangat ingin melihat apa yang sedang terjdi di dalam sana.
“Bibi!” ujar Vestus yang tiba-tiba menepuk bahu Jen.
“Tuan Vestus, apa yang terjadi pada tuan Heron!” lirih Jen. Jen terlihat begitu cemas dengan keadaan Heron saat itu.
“Biarkan di masuk!” ujar Heron dari balik pintu dengan nada berat tak seperti biasanya. Jen pun bergegas masuk ke dalam.
>>>
Jen memandang sekeliling dan melihat Heron sedang duduk di atas kursi dalam keadaan bersandar. “Tuan Heron..” panggil Jen dan melangkah ke arah Heron.
“Kau kenapa menangis, baby?” ujar Heron mencubit gemas pipi Jen.
“Aku hanya mencemaskan keadaanmu tuan. Apakah itu salah..” lirih Jen, sembari menyeka air matanya.
“Aku sudah berjanji akan selalu berada di sampingmu, apapun yang terjadi” ujar Heron mencoba menenangkan perasaan Jen kala itu.
“Tapi kau tidak harus melarangku untuk menemuimu..” isak Jen, dan Heron pun memeluk tubuh Jen.
“Aku sangat mencintaimu, aku sangat takut jika dihari-hari ke depan nanti, aku tidak dapat memelukmu lagi..” ujar Heron sembari membelai lembut puncak kepala Jen.
“Kau jahat.. kau keterlaluan.. apakah kau bermaksud untuk meninggalkanku lagi…” isak Jen, dan memukul dada Heron.
“Baby, aku sangat mencintaimu.. katakan padaku bagaimana perasaanmu!” ujar Heron sembari meraih kedua tangan Jen, keduanya saling tatap.
“Aku pun sangat mencintaimu, tuan Heron…” ucap Jen seraya air matanya yang menetes pilu. Rasa rindu yang kian lama terpendam, dan jalan cerita cinta yang cukup rumit bagi Jen dan Heron.
Heron perlahan mendekati wajah Jen, dan ******* bibir mungil milik Jen. Jen pun memejamkan kedua matanya, menikmati setiap kecupan lembut ini. Sungguh kecupan yang membuat Jen tak sanggup terpisah jauh dari Heron.
Heron mulai menggerayangi tubuh Jen, dan Jen masih setia menutup kedua matanya. Heron melepaskan sejenak cumbuannya, dan menikmati ekspresi kenikmatan Jen malam ini. Heron tersenyum tak kuasa melihat, betapa menggairahkannya Jen kali ini.
“Baby kau sangat seksi..” bisikan nakal Heron di telinga Jen semakin membuat tak kuasa untuk terus bersuara dan mencengkram lengan kokoh milik Heron.
Hah hh hhh… Jen perlahan membuka kedua matanya yang terlihat begitu sayu.
“Tuan…” ucap Jen dengan wajahnya yang kian merona menahan malu.
“Kenapa baby?” kekeh Heron, Jen terlihat begitu menggemaskan saat merona.
“Aku sangat malu, tuan…” ucap Jen, dan menelusupkan wajahnya di dada kekar Heron. Sungguh tubuh yang profosional dan mampu membuat Jen semakin gila saja.
Jen membelai lembut setiap otot-otot tubuh Heron, Heron hanya menyeringai melihat kelakuan wanitanya. “Kau suka dengan tubuhku, baby?” tanya Heron dengan sengaja.
Jen tersenyum dan mengangguk seraya duduk di atas pangkuan Heron. “Mengapa kau selalu membuatku merindu setiap waktu kita bersama..” ujar Jen sembari membelai lembut wajah Heron. Wajah tampan dan terdapat bulu-bulu halus di wajahnya, seakan menambah daya pikatnya.
“Benarkah, apakah selama ini aku dirindukan!” Heron mengecup pundak polos Jen.
“Tentu sajahh tuannhh..” desah Jen, karena sentuhan bibir Heron dikulitnya membuat Jen bergidik tak karuan.
“Gadisku sudah dewasa sekarang?” kekeh Heron dan membawa tubuh Jen ke atas kasur miliknya.
Jen terus tersenyum, bahkan enggan untuk melepaskan pelukannya di tubuh Heron. “Baby kau sudah mulai nakal sekarang..” Heron mulai menggerayangi lagi tubuh Jen. Membelai **********************************😮.
Ahkk.. desah kenikmatan Jen. Jen gemetar menahan rasa yang lain di dalam tubuhnya.
“Kau menyukainya, baby?’ ujar Heron sembari mengecup lembut kening Jen hingga ke area **************#####****.
“Ttu-tuanhhh… akuhh…” desah Jen sembari menggigit bibir bawahnya.
“Baby, kau sangat manis dan menggemaskan..” racau Heron dan mulai dipenuhi kabut gairah yang mulai memuncak.
Jen merem** sprei milik Heron, dan menjambak rambut Heron sebagai pelampiasan rasa yang kian bergejolak di dalam dirinya.
“Kau sangat manis, baby..” ujar Heron dan terus mencumbu Jen dan perlahan *****sensorikk😄*****. Napas Jen kian memburu dan keduanya kini hanyut dalam kabut nafsu.
Argh… erang Heron tiba-tiba, dan mulutnya pun menganga menahan sakit pada dadanya. Sakit yang muncul kembali, di saat ia akan bercinta dengan Jen.
“Tuann…” Jen bangkit dari atas kasur tersebut, dan mencoba untuk menahan tubuh berat Heron. Heron terlihat menggigil, dan wajahnya pun memucat.
Arghhkk… erangnya dan rasa sakit itu kembali datang, dan sangat teramat menyakitkan bagi Heron.
“Baby, aku kedinginan..” lirih Heron, sembari meraih wajah Jen. Jen sangat kebingungan, padahal suhu kastil cukup dingin. Tanpa berpikir panjang lagi, Jen mendekap erat tubuh Heron, berharap Heron akan pulih.
Meraih selimut tebal, membuka juga seluruh pakaian milik Heron dan yang tertinggal hanyalah kaos tipis beserta celan pendek biasa Heron. Kini keduanya hanya terdiam. Jen mendekap tubuh Heron yang sedang menggigil, dan terasa semakin dingin.
Jen bersandar di bagian kepala kasur tempat mereka berbaring, dan tetap terjaga. Sementara Heron perlahan menutup matanya, dan mulai tenang, tak seperti beberapa saat yang telah lalu.
“Apa yang terjadi pada pria ini, mengapa disaat yang tidak tepat begini..” lirih batin Jen malam itu.
Sebuah kejadian tak terduga pun harus terjadi di saat keduanya sedang berada dalam masa bahagianya.
****