Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Wanita pamanku



"Beloved Mister"


Author by Natalie Ernison


Saat menerima panggilan dari seorang pria dan berkata bahwa Heron sangat membutuhkannya. Jannet tidak peduli akan hal itu, namun informasi tersebut seakan terdengar, ia memang harus datang.


~ ~ ~


"Sial... mengapa aku harus peduli pada pria brengs*k itu!" umpatnya, sembari mengemasi tas selempang yang akan ia bawa.


"Paman, aku akan keluar bersama teman dan mungkin akan menginap," ujar Jen pada paman Jim.


"Baiklah Jen, harap berhati-hatilah," tukas Mr. Jim.


Jen pun bergegas menuju sebuah kedai kopi, tempat alamat yang telah di berikan padanya. Mengapa harus di kedai kopi jika memang itu hal mendesak, pikirnya kala itu.


***


"Kedai Kopi X"


Jen sudah tiba dan kini duduk di pojok tembok.


"Nona Jannet Mercya!" seru seseorang yang baru saja tiba. Seorang pria yang cukup tampan dengan stelan kemeja, celana jeans, kets kasualnya.


Jen menatap pria itu dari atas hingga bawah. "Yah, aku Jannet," jawab Jen sinis.


Pria itu pun duduk. "Perkenalkan, aku Vestus" ujar si pria memperkenalkan diri, sembari mengajak Jen untuk saling bersalaman.


"Apa yang membuat tuan Vestus mengajakku untum bertemu. Tidakkah tuan tahu, bahwa ini sudah malam!" tukas Jen sinis.


Yah, Jen memang wanita yang cukup tegas, dan akan sini pada seseorang yang ia anggap menyebalkan.


"Nona Jannet memang tidak pernah berubah" kekeh si pria yang bernama Vestus tersebut.


"Apa maksud tuan?" tanya Jen, menyipitkan matanya.


"Tuan Heron menginginkan nona Jen untuk dapat menemaninya di kediaman Danish."


"Menemaninya--" Jen bingung dengan pernyataan si pria. Apa sebenarnya tujuan Mr. Heron, pikirnya.


Hmm... Mr. Vestus hanya mengangguk seraya tetsenyum.


"Apa urusannya denganku, aku bukanlah siapa-siapanya!" tukas Jen sinis.


"Bukankah nona calon istri dari tuan Heron!"


Cih... "sejak kapan! jangan asal bicara tuan. Tuan tahu, karena panggilan dari tuan dan mengharuskanku untuk datang kemari! aku sampai kehilangan jam istrahatku!" tukas Jen.



Ia berpikir sejenak, ia pun tidak ingin gegabah dalam bertindak. Ia pun harus berhati-hati pada siapa pun, karena bisa saja ia di tipu. Pikirnya kala itu.


"Jangan pernah mengatakan sesuatu yang belum tentu benar!" peringat Jen.


"Wanita ini sungguh menarik dan juga bukan wanita sembarangan. Pantas saja tuan Heron tergila-gila padanya" batin Mr. Vestus.


Vestus Danish



"Aku adalah keponakan dari tuan Heron. Tuan Heron mengutusku untuk membawa nona padanya," tukas Mr. Vestus seraya tersenyum lembut pada Jen.


"Jika tidak bersedia, apakah masih akan terus memaksa!" tantang Jen.


"Nona Jannet... oh tidak tidak... bibi Jannet, tolonglah!" pintanya dengan penuh harap.


"Apakah kau bisa menjamin keamananku!"


Hhmm... Mr. Vestus mengangguk. "Tentu nona"


"Baiklah" jawab Jen yang akhirnya meyetujui permohonan Mr. Vestus.


Mereka pun bergegas pergi. Jen percaya bahwa ia akan baik-baik saja bersam Heron. Karena walau bagaimana pun juga, Heron pernah membantunya saat ia sedang kesusahan bahkan berduka.


Namun hati Jen sungguh tangguh, sehingga ia perasaanbya pun tidak mudah goyah pada Heron.


***


"Mansion kediaman Heruon Danish"



"Sungguh rumah yang cukup megah, lebih tepatnya ini mansion" gumam Jen, seraya terkagum saat memandangi betapa mewahnya kediaman Heruon Danish.


"Selamat malam tuan muda, dan nona" sapa para pelayan sembari menunduk sebagai tanda hormat mereka.


Mr. Vestus menuntun Jen untuk pergi bersamanya menuju sebuah ruangan yang cukup remang.


"Paman Heron! aku sudah membawanya!" ujar Mr. Vestus dan langsung pergi menghilang.


Hah.. "Mr. Vestus!" panggilnya, namun Mr. Vestus sudah tiada lagi.


"Akhirnya kau datang juga" ujar seseoranh yang sedang terbaring di atas kasur serba merah kehitaman.


"Tuan Heron!" seru Jen dengan mata membelalak tak percaya akan apa yang kini ia lihat.


****