ARUMI

ARUMI
Tergilir



Untungnya Arumi hanya terpeleset tidak sampai jatuh karena saat terpeleset ia memegang batang pohon kecil tapi kuat untuk menopang tubuhnya.


Sayang disayang, kaki Arumi tergilir sampai ia kesusahan untuk berjalan.


Saat Winda sengaja menyenggol Arumi, ternyata tak luput dari penglihatan Falah


"Apa apaan kamu win. Kamu sengaja kan menyenggol Arumi sampai terpeleset?" geram Falah


"Aku nggak sengaja kok, tadi kan becek aku coba menghindar tapi malah menyenggol Arumi. Beneran aku nggak sengaja" Winda beralasan agar tidak ketahuan


"Enggak, tadi aku lihat kamu sengaja menyenggol!" Falah marah


Anwar melihat Falah memarahi Winda, ia segera mendekati Arumi yang masih diam di tempatnya.


"Kamu nggak kenapa-kenapa kan Rum? Ada yang sakit nggak??" tanya Anwar dengan nada khawatirnya


"Hhrssstt.. suara Arumi menahan rasa sakitnya


"Kaki aku kayaknya tergilir deh, sakit banget"


"Kamu bisa jalan nggak?" tanya Anwar sambil memapah Arumi untuk berdiri


Setiap Arumi akan berdiri ia selalu jatuh, berdiri jatuh, berdiri jatuh


"Kayaknya kamu kesulitan untuk berjalan" Anwar


"Iya nih" mata Arumi yang mulai berkaca-kaca


Anwar melihat Falah yang sibuk memarahi Winda, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Anwar berjongkok membelakangi Arumi


"Ayo sini naik punggungku!" bukan nada menyuruh melainkan perintah


Mau tidak mau Arumi menuju punggung Anwar dengan hati-hati. Takutnya akan jatuh.


"Badan aku berat loh, nanti kamu nggak kuat" ucap Arumi setelah naik punggung Anwar


"Badan segini kok berat, ini mah masih Beratan sama karung beras" ejek Anwar


"Kalian nggak mau pulang? Kalau kalian ingin bertengkar, lanjut aja nanti di lapangan. Tapi kalau mau masih disini ya terserah kalian"


Anwar segera meninggalkan Falah dan Winda, ia menuju ke lapangan.


Saat di gendongan Anwar, tangan Arumi menempel pada punggung Anwar sehingga ada jarak antara keduanya. Anwar mempunyai ide, ia segera mengambil ancang-ancang untuk mengangkat tubuh Arumi agar tidak merosot kebawah. Secara tidak sengaja Arumi langsung mengalungkan tangannya ke leher Anwar.


"Ehh, apa apaan kamu!" Arumi terkejut


"Kamu sih nggak mau pegangan yang kuat, kan takutnya jatuh nanti" Jelas-jelas Anwar sedang menahan tawanya


"Iyaya bawel iih" Arumi mengerutkan bibirnya


Arumi mengalungkan tangannya di leher Anwar lama kelamaan ia mengendorkan tangannya, tapi Anwar langsung mencegahnya.


"Jangan dilepas ya" Anwar dengan nada memohon


Arumi mengangguk walaupun tidak di ketahui Anwar karena ia berada di punggung Anwar.


"Nggak papa kan?"


"Nggak mama"


"Idiih apaan sih" Ucap Arumi dengan pipih merah merona bagaikan kepiting rebus


Anwar hanya menanggapi dengan tertawa


Beberapa menit kemudian suasana menjadi hening, Arumi mulai mengantuk, ia tidak sadar jika sudah tidur di bahunya Anwar


"Pasti kamu lelah"


batin Anwar sambil menengok ke bahunya


Kurang beberapa meter tiba di lokasi, ternyata Arumi bangun dari tidurnya


"Udah mau nyampe yaa, aku turun disini aja deh" Arumi


"Gapapa, udah mau nyampe kok"


"Ehh jangan! nanti di lihat orang lain bisa bahaya"


"Yakin mau turun disini?"


"Iya, di sini aja. Aku takut nanti ada gosip yang enggak-enggak"


"Yaudah deh"


Anwar menurunkan Arumi sangat pelan, Anwar melihat kaki Arumi


"Tuh kan, udah bengkak kakimu" ucap Anwar sambil melihat kebawah, kaki Arumi


"Iya nih, sakit pula" Arumi merintih kesakitan saat hendak berjalan


"Sini aku bantu"


Anwar menuntun Arumi berjalan pelan-pelan.


***


Sekitar 5 menit Anwar dan Arumi sudah tiba di lokasi, ternyata Falah dan Winda sudah sampai terlebih dahulu.


"Loh, kan tadi kamu jalan di depan kok nyampe nya aku duluan?" tanya Falah dengan rasa penasarannya


"Hmm... kan kamu tau tadi Arumi tergilir jadi jalannya lumayan lambat" Alasan Anwar


Sebenarnya Anwar telah memilih jalur jalan yang lumayan jauh dari pada saat berangkat, supaya ia bisa berlama-lama dengan Arumi. Tentu tanpa sepengetahuan Arumi, karena saat itu Arumi telah tidur. Kalau Arumi tahu pasti ia memarahi Anwar.


"Arumi, kaki kamu kenapa?" Ifa yang kaget dengan kedatangan Arumi yang dituntun oleh Anwar


"Nggak kenapa-kenapa kok, cuma tergilir biasa"


"Udah sini, Ayo aku antarkan ke Pak Yuda agar kaki kamu langsung diurut"


Ifa mengambil Arumi dari tangan Anwar kemudian ia mencari pak Yuda. Ternyata Pak Yuda berada di tenda umum bersama para panitia lainnya.