
Sedikit demi sedikit Arumi membuka matanya, dilihat sekelilingnya yang sangat asing dimana ia saat ini berada. Pusing menyelimuti kepalanya mengingat-ingat kejadian sebelum ada disini, sedikit cuplikan-cuplikan yang mulai melintas sekilas. Setelah ingat ia baru percaya apakah kejadian kemarin itu bukanlah hanya mimpi
"Astaghfirullahaladzim" Arumi beristighfar dan mulai menangis mengingat kejadian kemarin
Flashback on
Beberapa menit kemudian Arumi keluar dari toilet, tak lama saat membuka pintu ternyata didepan sudah ada segerombolan anak muda tadi
"Hai Sayang?" ucap salah satu pemuda itu
"Ka-kalian mau apa?" Arumi merasa gugup melihat segerombolan pemuda berada di depannya
"Ayo sayang aku tunjukkan kenikmatan duniawi" Pemuda A menarik tangan Arumi
"Nggak mau!" Arumi menghempaskan tangannya dari cengkraman pemuda A dengan keras
"Galak amat sih sayang"
"Jangan sentuh aku!" ucap Arumi dengan mata melotot
"No no no. Ayo ikut kita, ada hal baru yang harus kita lakukan"
"Nggak mau!"
"Ah bacot lu" Pemuda B langsung membekap mulut Arumi menggunakan obat bius
"Eeeemmmb...." Arumi berontak ingin berlari tapi apalah dayanya yang seorang perempuan bila di bandingkan dengan lelaki apalagi mereka lebih dari 2 orang dan Arumipun mulai kehilangan kesadaran entah apa yang dilakukan mereka kepadanya
Flashback off
"Hiiiiks... Hiiiiks..."
Arumi menangis saat merasakan sekujur tubuh terdapat beberapa lukanya yang terasa perih
Ceklek
Gagang pintu di putar dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya
Seketika Arumi berhenti menangis saat mendengar pintu terbuka, ia ingin sekali bertanya-tanya siapa wanita tersebut dan ia berada dimana
"Kamu sudah sadar nak?" tanya wanita tua itu dengan suara puraunya
"I-Iya nek" Arumi gugup pasalnya ia tidak kenal wanita itu
"Kamu ada di rumah nenek. Maaf, pastinya rumah nenek tidak sebagus rumah kamu kan?" ucap nenek sembari berjalan tertatih ke arah Arumi
"Tidak kok nek, sama saja" Arumi memaksakan senyumnya
"Nama kamu siapa cah ayu?" Nenek mengusap pipi Arumi yang sedikit basah
"Nama saya Arumi nek. Kalo nenek?"
"Panggil aja Nenek Sri"
"Nek, disini daerah mana ya?"
"Disini daerah terpencil jauh dari perkotaan" ucap nenek Sri memelas
"Ya terpencil lah Arumi, kemarin arah ke puncak aja jalannya terlalu jauh semak-semak pula" Arumi merutuki kebodohannya
"Gitu ya nek, disini ada bis atau kendaraan gitu agar bisa ke kota?"
"Kalo kendaraan jarang sekali karena penduduk sini tidak pernah ke kota mungkin terlalu jauh jalannya juga kurang bagus"
"Hiiiks, aku pengen pulang nek. Nanti orangtuaku mencariku" Arumi menangis histeris
"Bagaimana ya nak, nenek juga nggak tau. Oh ya setiap satu bulan sekali pemerintah selalu ke sini untuk memberi sembako ke penduduk, tapi-" kata nenek Sri menggantung
"Tapi apa nek?" seketika tangis Arumi berhenti
"Tapi baru kemarin pemerintah ke sini memberikan sembako" nenek menunjuk ke meja yang tak berada jauh darinya kemungkinan plastik berisikan beberapa sembako
"Jadi harus tunggu satu bulan lagi ya nek?" tebak Arumi
yang dibalas dengan anggukan sang nenek
"Hiiiks.. Arumi mulai nangis kembali
"Sabar nak, pasti orangtuamu sedang mencarimu" nenek mengelus punggung Arumi untuk memberikan ketenangan
"Nggak tau nek, kemarin saya muncak bersama teman-teman lainnya. Saat malam hari saya pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, di perjalanan ada segerombolan anak muda yang sedang minum-minuman saya mengacuhkan mereka nek, setelah selesai buang air kecil saat saya buka pintu ternyata mereka sudah berada di depan pintu kamar mandi terus tiba-tiba sepertinya mereka membekap saya karena saya sudah tidak tau terjadi apa-apa lagi" Arumi menjelaskan secara detail
"Apa mereka melakukan itu kepadamu?" sorot mata nenek Sri mengarah ke bagian bawah milik Arumi
"Nggak tau, aku takut nek" Arumi menutupi mukanya dengan telapak tangannya sendiri
"Maaf ya nak, saat nenek membersihkan luka-luka kamu nenek melihat cairan-cairan kental sepertinya milik laki-laki di daerah kaki kamu serta baju kamu"
Arumi kaget refleks ia berdiri dari duduknya
"Awww... Perih" Arumi mengadu merasakan perih di daerah area sensitifnya
"Nekk...." Arumi berhampur ke pelukan nenek Sri
"Sakit ya nak?" Nenek Sri memeluk erat tubuh Arumi
yang di peluk hanya bisa menganggukkan kepalanya
"Sabar. Apa kamu hafal wajah-wajah mereka?" Sambung nenek Sri
"Yang aku tahu ada cowok yang memiliki satu lesung pipi, terus yang lain nggak Arumi lupa" Arumi menjelaskan dengan menangis sesegukkan
"Memang banyak para pendaki yang kelewatan batas, semoga mereka melakukan itu kepadamu memakai pengaman ya nak agar tidak menjadi benih-benih..."
"Aamiin nek, semoga saja tidak" potong ucapan nenek Sri yang Arumi langsung paham
"Nenek!" Datanglah seorang anak kecil sekitar umur 12 tahunan
"Sudah pulang cu?"
"Sudah nek. Hai kak?" Anak kecil itu melambaikan tangannya ke seseorang dalam pelukan neneknya
Arumi hanya membalas dengan senyuman yang manis tanpa menjawab sapaannya
"Ini Angga yang kemarin menemukan kamu di semak-semak" Nenek Sri memperkenalkan cucunya, Angga
"Terimakasih banyak Adik Angga" ucap Arumi sembari menundukkan kepalanya
"Tidak usah sungkan kak" jawab Angga dengan wajah yang berseri
Walaupun di kampung nenek Sri terpencil tetapi cara berpakaian Angga tidak seperti orang kampung lainnya, sepertinya mereka pandai membersihkan diri. Kini rumah nenek Sri pun terlihat asri dengan di kelilingi berbagai macam pohon
***
Dilain tempat
Saat Anwar bangun dari tidurnya, ia sama sekali tidak melihat Arumi. Anwar berkeliling mencari Arumi kesana kemari tetap tidak menemukan. Alhasil Anwar tidak punya pilihan lagi ia memberitahukan ke panitia di sana bahwa ada yang merasa kehilangan seseorang
Anwar memperlihatkan foto wajah Arumi serta baju yang di pakai saat terakhir kali. Semua orang berpencar ke segala tempat bahkan ada yang di semak-semak sekalipun. Kini hati Anwar sangat kacau bagaimana ia akan menjelaskan kepada Dian, ayah Arumi
Sudah hampir seharian mencari keberadaan Arumi, ternyata tidak ada yang bisa menemukannya. Panitia sudah menyerah atas pencarian Arumi, sudah beberapa tempat mereka tidak ada yang menemukan satupun
Keesokan harinya Anwar terpaksa pulang sendirian, ia harus tetap memberitahukan kepada orangtuanya Arumi apa yang terjadi sebenarnya. Anwar tidak tahu apa yang akan dilakukan Dian kepadanya karena ia sudah diberi izin membawa anaknya hanya 2 hari tetapi sampai 3 hari ini baru ia pulang tanpa bersama Arumi
Siang hari Anwar baru sampai di halaman depan rumah Arumi, sepertinya ia tidak mempunyai keberanian untuk saat ini. Ia bingung bagaimana caranya ia bicara kepada Dian jika anak bungsunya hilang bak ditelan bumi
Dengan langkah gemetar Anwar tetap harus bisa berbicara walaupun bayangan-bayangan berbagai macam tinjuan yang akan ia dapatkan nanti dari seorang Dian
Tok..Tok..Tok..
Suara pintu yang tertutup diketok dari luar
"Iya sebentar!" suara Tika dari dalam rumah
Ceklek..
Pintu terbuka memperlihatkan Tika di belakang pintu
"Loh Anwar, Arumi Dimana?" Tika terkejut karena Anwar hanya seorang diri tetapi ia membawa barang bawaan yang banyak
***
Selamat berpuasa ya Kaka, maapin Author nggak bisa update terus karena Author sibuk kerja nggak ada waktu untuk bisa mengarang cerita
Semoga kalian semua masih mau sabar nunggu author update ya ❣️❣️❣️