
"Dasar perempuan tak tau malu, mereka nggak kedinginan apa memakai pakaian yang hampir telanjang tadi"
Omelan Anwar di sepanjang perjalanan
Dua perempuan tadi perawakannya seperti seorang jalang yang memamerkan tubuhnya di hadapan semua orang. Anwar berharap jangan sampai Arumi kelak seperti itu
Malam semakin larut mengingat memasuki tengah malam, kini jalanan tampak sepi dengan begitu mempermudahkan Anwar untuk bisa mengebut di jalan.
Anwar harus fokus ke depan agar cepat-cepat sampai di rumah
Sekitar pukul dua pagi Anwar tiba dirumah dengan selamat. Anwar langsung membuka kunci rumah dan segera masuk. Anwar memegang kunci cadangan rumah disuruh oleh mamanya, karena biasanya Anwar setiap touring selalu pulang tengah malam agar tidak membangunkan mamanya yang sedang tidur
Di kamarnya, Anwar langsung masuk ke kamar mandi yang ada didalam kamarnya untuk mengambil air wudhu dan segera menuaikan sholat Isya. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya untuk tidur, tak lupa ia membalas pesan Arumi jika ia sudah sampai dengan selamat
Pagi hari
Arumi bangun langsung mencari benda pipih yang digunakan untuk berkomunikasi. Ia segera membuka layar ponselnya ternyata ada balasan dari sang kekasih
📥 Anwar ❤️
'Aku udah nyampe yang, night ya Mimpi Indah
Love you 😘'
Arumi membaca pesan dari Anwar dengan senyum-senyum, dilihatnya pesan masuk sekitar pukul dua dini hari bertandakan jika Anwar pulang di jam tersebut
"Lebay deh, pake emoticon segala" Arumi menggeleng-gelengkan kepalanya
Arumi bergegas masuk ke kamar mandi dan segera menuaikan sholat subuh dan bersiap-siap untuk kerja di pagi hari
Di Pabrik xx
Arumi memasuki line dengan menunduk, karena orang di sekitar memandanginya seperti tidak suka dengan Arumi. Semua karyawan sedang berbisik-bisik dan melirik ke Arumi, jelas mereka sedang membicarakannya
"Dia anak baru kok udah di angkat menjadi GL ya?"
"Iya, pasti pake guna-guna tuh"
"Atau jangan-jangan dia ada main sama atasannya"
dan "Bla...bla...bla..."
Bisikan tersebut jelas terdengar di telinga Arumi, mereka berbicara seolah ingin Arumi mendengar dan agar tidak betah kerja di sana
"...." Segerombolan karyawan membicarakan Arumi
"Eh Eh Eh, kalian kok pada ngerumpi apa nggak ada kerjaan atau gimana? Masih mau kerja kan?"
Ucap Bu Ida yang melihat segerombolan karyawan
Seketika segerombolan karyawan tadi langsung bubar dan pergi ke tempat kerja masing-masing untuk bekerja kembali
"Astaghfirullah, Ya Allah kuatkan hati hamba mu ini aku hanya ingin kerja nggak ada maksud lain"
Dalam hati Arumi
Arumi melamun tapi ia masih dalam keadaan bekerja, hanya saja fikirannya entah kemana
"Arumi" Bu Ida memegang bahu Arumi
"Oh iya Bu?" Arumi terperanjat kaget
"Kamu jangan masukin ke hati ya atas perkataan mereka" Bu Ida memahami jika Arumi pasti mendengar celotehan karyawan tadi
"Nggak kok Bu, saya bisa memakluminya" Jawab Arumi berbeda dengan apa yang di fikirannya
"Yaudah Ibu tinggal dulu ya. Lanjutin aja kerjaanmu" Bu Ida langsung pergi meninggalkan Arumi
Di tengah-tengah Arumi bekerja, ia sedikit melamun untuk itu karyawan yang berada di dekat Arumi langsung mengajak ngobrol sedikit agar Arumi tidak melamun
"Hai Rum" sapa Leni
"Iya Len, ada apa?" jawab Arumi dengan ramah
"Kamu ngelamunin apa sih?" Leni
"Emang ketahuan banget ya kalo aku melamun?" Bisik Arumi
"Ketahuan banget"
"Ya Allah" Arumi langsung kemas
"Nanti istirahat kita makan bareng ya?" ajak Leni
"Ya Ayo, kalo makan aku juga sering sendirian kok"
"Oke. Kerja dulu ya Rum"
"Iya" Arumi melanjutkan pekerjaannya
Memang benar, walaupun di pabrik xx terdapat ribuan karyawan tapi Arumi tetap merasa kesepian seperti tidak ada yang mau untuk berteman dengannya
Kring...kring...kring...
Bel istirahat berbunyi
"Ayo Rum keluar. Kamu makan dulu atau sholat dulu?" tanya Leni
"Aku lagi dapet, kalo kamu mau sholat dulu aku tungguin"
"Sama dong aku juga lagi dapet, langsung makan aja ya!"
"Iya, yuk ke kantin"
Arumi langsung menggandeng tangan Leni seperti orang yang akan menyeberang
Setelah mereka mengambil lepak makanan yang sudah di sediakan, mereka langsung mencari tempat duduk yang kosong ternyata tempat yang kosong tak jauh dengan segerombolan karyawan yang tadi membicarakan Arumi
"Aduh, kok ada mereka sih. Nggak ada tempat yang kosong lagi" batin Arumi yang matanya menyapu ke segala sudut untuk mencari tempat duduk agar bisa jauh-jauh dari mereka
"Disini aja ya Rum, yang lain udah pada ditempati"
Leni menunjuk tempat kosong tadi yang dekat dengan segerombolan karyawan
"Oh baiklah"
Arumi terpaksa mengiyakan
Segerombolan karyawan tadi berbincang-bincang memperlihatkan layar ponselnya seperti membicarakan tentang online shop, untung mereka tidak membicarakan Arumi. Arumi merasa bisa tenang akan hal itu
Arumi dan Leni memakan makan siangnya dengan tenang tanpa berbicara satu katapun. Karena kata orang tua zaman dulu orang akan terlihat cekatan tidaknya lewat bagaimana cara ia sedang makan. Maka dari itu jika Arumi sedang makan ia lebih fokus ke makanannya daripada ia makan sambil bermain ponsel
"Kamu udah Len?" tanya Arumi
"Udah kok" Leni menutup lepak makanannya
"Ayo" Arumi membereskan meja makanannya
"Kita ke koridor dulu yak" ajak Leni
"Buat apa? Arumi bingung
"Aku udah satu tahun bekerja tapi nggak pernah foto di sini. Hehe" Cengir Leni
"Waah, berarti kamu seniorku dong. Aku aja baru beberapa bulan disini" Arumi beranjak pergi dari tempat duduknya yang diikuti dengan Leni
"Iya, tapi lebih hebat kamu. Kamu baru beberapa bulan aja langsung udah jadi GL, kamu memang hebat" Leni mengacungkan jempolnya ke arah Arumi
"Ah, kamu berlebihan" Arumi malu akan pujian dari Leni
"Kenyataan kan?" Leni mengangkat sedikit kedua bahunya
"Terus kata kamu udah satu tahun belum pernah foto di sini, emang kenapa?"
"Emang kenapa? Kalo Selfi mah aku sering, maksud aku ya foto satu badan gitu" Leni sambil menunjuk ke seluruh tubuhnya
"Ya tinggal foto kan apa susahnya"
"Susahnya nggak ada yang mau fotoin aku"
"Kok bisa?" Arumi dan Leni sampai di tempat khusus lepak kosong dan menaruhnya di tempat. Kemudian di lanjutkan menuju ke koridor
"Aku di sini juga nggak ada teman buat kemana-mana, tau kan kalo aku istirahat ya seperti orang hilang nggak ada temannya" ucap Leni sembari tertawa kecil
"Tenang, mulai sekarang kan udah ada aku" Arumi mengelus bahu Leni"
"Makasih ya" Leni juga mengelus tangan Arumi yang ada di bahunya
"Udah yuk, langsung ke koridor aja" Ajak Arumi langsung menggandeng tangan Leni
Di sepanjang jalan menuju koridor mereka bergandeng tangan seperti seorang anak kecil, walaupun para karyawan melihat dengan tatapan tidak suka tetapi mereka tidak menggubrisnya
***
Makasih ya Kaka masih setia nunggu aku up date
Jangan lupa uang parkirnya
Hehe ❣️❣️❣️