
Sudah dua bulan tidak bertemu dengan keluarga, Arumi memutuskan akhir bulan ini akan pulang kampung untuk menemui keluarganya.
Sabtu pagi Arumi bersama Vita bergegas bangun pagi untuk bersiap-siap agar bus tidak terlewatkan, sebenarnya ada beberapa bus yang tujuannya langsung ke kota Arumi. Tapi ia memutuskan untuk naik bus yang pertama kali lewat, dengan alasan supaya cepat-cepat sampai di kampung halaman
"Vita ayo buruan, nanti busnya sudah lewat!" Ucap Arumi membuat Vita semakin tergesa-gesa
"Haduh Arumi, busnya kan lewatnya pukul lima pagi ini aja masih kurang lima belas menit. Santai aja dong" Vita sembari memoleskan bedaknya
"Jam lima itu jangan jadi patokannya, bus kan tergantung banyak penumpangnya. Kalo rame kan busnya bisa molor, tapi kalo sepi ya langsung jalan aja" Arumi yang tengah sibuk memainkan ponselnya
"Aiiish, Iyaya. bentar aku mau pake jilbab dulu" Vita mengambil jilbab yang sudah ia setrika semalam
"Kalo pake jilbab jangan aneh-aneh, simpel aja. Nanti di sana kamu malah repot membenarkan jilbab Mulu" Arumi mengingatkan Vita
"Nggak kok, ini cuma pake peniti disini aja" Vita memasangkan jarum pentulnya dibawah dagu untuk mempererat jilbabnya
"Udah kan, ayo" Arumi beranjak berdiri
"Bentar aku mau pake sepatu" Vita buru-buru mengambil sepatu dan memasangkannya
"Huuufts... Ribet deh" Arumi menghela nafas
"Ayo" Vita menyambar tas selempangnya dan juga tas bawaannya yang akan di tenteng nanti
"Nggak ada yang ketinggalan kan?" Arumi memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal
"Hmmm... Nggak ada" Vita mengingat-ingat barang yang ia sudah bawa
"Oke, let's go!" Ucap Arumi dengan raut muka yang bahagia
Kini Arumi dan Vita berjalan menuju jalan raya dimana bus yang akan mereka tumpangi lewat, hanya butuh lima menit mereka sudah sampai di pinggir jalan raya
"Eh Rum, bukannya mereka juga kerja bareng kita kan?" Vita menunjuk beberapa orang yang tak jauh dari mereka
"Iya, sepertinya begitu. Aku juga pernah lihat mereka di pabrik kita "
"Ternyata banyak juga ya yang mau pulang kampung halaman saat akhir bulan"
"Iyalah, kan kita akhir bulan gajian"
"Hahaa, anda benar sekali" Merekapun tertawa
"Eh busnya udah datang" Arumi menunjuk ke depan
Vita yang di depan Arumi langsung melambaikan tangannya tanda mereka ingin naik bis, setelah bisnya berhenti lalu mereka segera masuk ke dalam
"Yah, kok penuh. Gimana Rum?" kata Vita setelah masuk ke dalam bis
"Itu ada yang kosong" Arumi melihat ada kursi yang kosong
"Ada dua Rum, aku di sini ya kamu yang di sana" Vita berjalan ke kursi kosong yang tak jauh darinya
"Oke. Nanti kalo udah deket terminal langsung ke depan aja ya" Arumi memberi kode
"Siap Rum!" Vita langsung duduk
Arumi berjalan mendekati kursi yang kosong, padahal di sampingnya ada seseorang entah kenapa ia tidak mau bergeser sehingga Arumi yang duduk di pinggir jendela
"Permisi Mas!" Arumi melewati penumpang yang duduk tadi
Kini Arumi sudah duduk di kursi yang berada di pinggir jendela. Untuk mengisi kejenuhan Arumi menyalakan musik menggunakan earphone sembari menatap foto Anwar yang ia peroleh dari Anwar sendiri
"Makin kesini makin hitam aja sih kamu. Hihihi" Arumi memandang foto Anwar yang kini kulitnya tampak sedikit gelap mungkin efek dari pelatihannya
"Gapapa hitam, yang penting aku sayang" dalam hati Arumi yang senyam-senyum sendiri
Di rasa perjalanannya masih jauh, Arumi luangkan waktunya untuk tidur agar tidak bosan di sepanjang jalan
Saat Arumi membuka mata dari tidurnya, Arumi merasa berada di suatu tempat yang gelap bahkan tidak ada cahaya sedikitpun. Arumi langsung menangis histeris takut jika tersesat di tempat yang ia tidak bisa lihat
"Tenang sayang" Suara wanita paruh baya menenangkan Arumi
"Ibu? Apa ini Ibu Ningrum Ibuku?" Arumi terkejut mendengar suara yang tidak asing
"Iya nak, ini Ibu Ningrum. Ibu disini di sampingmu" Ningrum menahan isak tangisnya lalu memeluk dan membelai kepala Arumi untuk menenangkan
"Kita di rumah sakit nak"
"Kita kok bisa disini, siapa yang sakit?"
"Hiks, Yang sabar ya nak"
"Kok Ibu nangis, tolong lampunya di hidupkan Bu. Arumi nggak bisa lihat ini"
"Bukan nak, Mata kamu memang sedang di perban dokter"
"Kok di perban, emang mata aku kenapa Bu?"
"Kamu nggak ingat nak?"
"Aku ingat terakhir kali aku sedang naik bus dan tertidur, tapi setelah aku bangun dari tidurku kok jadi seperti ini?"
"Begini nak,
Flashback on
Saat Arumi tidur pulas, sang sopir sudah memberitahukan kepada penumpangnya untuk berjongkok di bawah kursi masing-masing bahwa rem yang tadinya di tancapkan mendadak tidak berfungsi
Suasana menjadi ricuh tetapi Arumi seperti pingsan yang tidak mendengar keributan di sekitarnya, sayang di sayang penumpang yang berada di samping Arumi sudah turun sejak tadi sehingga Arumi tidur tidak ada yang membangunkannya
"Pak Buk, mohon tenang sebentar!" teriak sang sopir padahal dalam hatinya ia sedang di Landa takut
"Astaghfirullah...
"Allahuakbar...
"Laailahaillallah...
dan masih banyak penumpang yang menyebutkan nama Allah serta istighfar
Sang sopir mengendarai busnya dan mencari jalan yang datar agar bahan bakar bisa langsung habis tanpa menyebabkan kecelakaan. Tapi di jalan datar pun pasti ada lampu merahnya
Sayang sekali saat di lampu merah, lampunya sudah berubah menjadi merah. Bus langsung menerobos jalan lurus tanpa melihat arah, ternyata ada truk dari arah samping langsung menabrak bus tersebut sampai jatuh terbanting
BRAAKK...
Suara dua kendaraan bertabrakan
Bus tersebut terbanting cukup keras mengakibatkan kaca jendela menjadi pecah mengenai kepala Arumi yang notabenenya sedang tidur bersandar di jendela
Para penumpang yang tadi berjongkok di bawah, seketika langsung keluar dari bus. Tapi ada seseorang melintas yang tak sengaja melihat kepala Arumi sudah berlumuran darah
"Pak Pak,Tolong!! ini ada orang kena serpihan kaca!" ucap seorang pemuda yang melihat ke kursi Arumi
Tanpa ada respon dari orang yang lalu lalang, pemuda tersebut lalu menggendong Arumi dengan sedikit tertatih-tatih karena masih dalam keadaan syok
Arumi sudah dibawa keluar oleh pemuda tadi, Vita yang sudah keluar segera mencari Arumi tapi tidak ketemu. Ada gerombolan yang sepertinya sedang mengepung seseorang, Vita langsung mendekati
"Astaghfirullah, Arumiiii!" teriak Vita yang terkejut
"Tolong bawa temanku ke rumah sakit, tolong!" Vita menangis melihat di kepala Arumi yang berdarah
Sembari menunggu ambulance datang, ia segera menghubungi keluarga Arumi. Suara di sebrang sana sama halnya terkejut dan menangis mendengar bahwa bus yang mereka tumpangi terjadi kecelakaan
Tak lama kemudian ambulance pun datang, Arumi langsung dibawa masuk ke dalam mobil. Vita juga ikut serta masuk untuk menemani Arumi dan mereka segera pergi ke rumah sakit tak lupa Vita mengabari ke keluarga Arumi dimana rumah sakit yang mereka gunakan
Flashback off
"Bus yang kemarin kamu tumpangi itu terjadi kecelakaan. Kata dokter kamu terkena kaca pecah mengenai saraf otak yang berhubungan dengan Indra penglihatan mu" terang Ningrum
"Maksudnya aku buta Bu?" Arumi yang menatap lurus walaupun matanya kini di perban
"Semoga saja ini hanya sementara ya nak" Ningrum memeluk tubuh anaknya
"Bu, kok jadi begini kenapa? Hiiiiks...." Arumi menangis histeris saat tahu yang sebenarnya
"Tenang nak, Ibu akan selalu ada di samping kamu. Sabar ya nak" Ningrum yang masih setia membelai kepala Arumi
"Bu.. Hiiiiks, aku--" tiba-tiba Arumi pingsan
❣️❣️❣️