ARUMI

ARUMI
Bertemu



Mendengar Arumi sudah di operasi dan bisa melihat lagi Anwar langsung bergegas pulang untuk menjenguk sang kekasih. Masih di anggap kekasih atau bukan bagi Arumi karena Arumi yang dalam kondisi tersebut Anwar tidak ada di sampingnya


Beruntung Anwar dan teman-temannya mendapat libur satu Minggu full, mereka mempergunakannya untuk pulang kampung guna melepas rindu kepada keluarga masing-masing tak terkecuali Anwar


Kemarin Anwar tiba di rumah dan keesokan harinya ia pergi ke rumah Arumi untuk menjenguk dan ingin mengetahui bagaimana keadaannya sekarang


Anwar tiba di halaman rumah Arumi, kemudian melepaskan helmnya dan langsung menuju ke pintu depan rumah


"Assalamualaikum" suara Anwar


"Waalaikumsalam" jawab Tika yang sedang menjahit kemudian keluar untuk melihat siapa yang bertamu sekarang


"Eh Anwar, nyari Arumi ya?" Tika sepertinya sudah membaca pikiran ini tamu milik siapa


"Iya kak"


"Sebentar ya kak Tika panggilin Arumi dulu, mungkin orangnya sedang tidur. Kamu duduk dulu aja"


"Iya kak"


Tika berjalan menuju ke kamar Arumi tak lama kemudian ia keluar lagi


"Arumi tadi tidur, tapi udah kak Tika bangunin kok. Tunggu aja mungkin dia sedang cuci muka dulu"


"Maaf kak, jadi ngrepotin" Anwar mengelus leher belakang tanda ia malu


"Nggak apa-apa, santai aja. Kakak tinggal keluar ya, biar enakan kalo ngmong"


"Iya kak makasih"


"Arumi pasti senang nih punya kakak seperti kak Tika ini, udah baik pengertian lagi. Hihihii" celetuk dalam Anwar yang tampak senang


"Udah senyum-senyumnya?" tiba-tiba Arumi muncul di hadapan Anwar


"Hehe, maaf ya yang" Anwar menengok ke Arumi


"Ternyata aku masih di anggap" umpat batin Arumi


sembari duduk di samping Anwar


"Loh..." Anwar terperanjat saat matanya bertemu dengan mata Arumi


"Kenapa?" Arumi langsung duduk di samping Anwar


"Kamu di rumah kenapa pake softlens segala? Apa mau jalan-jalan?" Anwar bingung


"Enggak"


"Terus mata kamu?" Anwar memang sudah tahu jika Arumi sudah melakukan operasi matanya tetapi ia belum tahu jika matanya berbeda dengan mata pada umumnya


"Ini asli, nggk pake softlens" Arumi melotot ke Arah Anwar


"Kok bisa?"


"Waktu itu di rumah sakit yang aku tempati kosong tidak ada donor mata, terpaksa pak Arya mencari di luar negeri katanya di Spanyol loh" Arumi sepertinya bangga mempunyai warna mata yang berbeda


"Siapa siapa? Pak Arya atasan di kerja kamu?" Anwar menebak


"Iya, siapa lagi?" Arumi mengangkat bahunya


"Ada hubungan apa kamu sama pak Arya? kok dia bela-belain nyari donor mata di luar negeri segala?" Anwar dengan ekspresi mengintimidasi


"Bukan begitu, katanya hanya bentuk tanggungjawab dari perusahaan aja" Jawab Arumi tenang


"Emang kamu kecelakaan saat bekerja?"


"Nggak sih"


"Fix itu. Yang aku tahu kalo jaminan kesehatan di berikan kepada karyawan saat bekerja mengalami kecelakaan bukan di luar jam kerja kan?"


"He um" Arumi mengangguk melongo


"Tolong ya kamu hati-hati sama atasanmu itu, aku nggak suka Yang kalo kamu Deket sama orang lain apalagi cowok" Anwar menunjukkan sikap tidak sukanya


"Apa benar sikap Pak Arya sudah lebih dari sekedar atasan sama karyawan saja? Tapi kalo di pikir-pikir memang benar aku kecelakaan saat mau pulang kampung bukan saat jam kerja" Arumi bertanya-tanya dalam hati


"Aiiish, apaan sih. Udahlah aku nggak ada hubungan apapun sama Pak Arya" Arumi tersadar dari gumamnya


"Janji ya pokoknya!" Anwar menyodorkan jari kelingkingnya pada Arumi


"Janji" Arumi menautkan juga jari kelingkingnya dengan kelingking Anwar


"Tolong kamu janji juga untuk menunggu aku sukses nanti ya. Aku janji sama kamu kalo aku udah mapan aku mau kita langsung menikah, dan kamu nggak usah bekerja-bekerja lagi biar aku yang menanggung semuanya" kata Anwar serius


"Jangan gitu Anwar. tolong kamu juga ngerti posisi aku disini, Aku nggak mungkin menyeret kamu untuk masuk di kehidupan aku yang serba kekurangan ini, biar aku perbaiki dulu keadaannya agar sedikit lebih baik" Senyum terpaksa Arumi munculkan agar Anwar tidak merasa khawatir


"Yasudah, jika itu mau kamu. Kalo kamu capek ambil cuti aja nggak usah di paksain, kesehatan itu lebih berharga daripada selembar kertas" Anwar mencubit hidung Arumi


"Idih sok puitis nih ya" Arumi mengelus-elus hidungnya bekas cubitan Anwar


"Sekali-kali dong.


Ngomong-ngomong Kaki kamu nggak kenapa-kenapa kan?" Arumi menunjuk Kaki Arumi menggunakan kedua matanya


"Emang ada apa?" Arumi menggerak-gerakkan kedua kakinya


"Bisa jalan?"


"Bisa dong"


"Yaelah, ngajak keluar aja pake basa-basi dulu"


"Nggak apa-apa kan?"


"Iyaya, sebentar aku mau izin dulu sama kak Tika"


Arumi beranjak keluar rumah untuk meminta izin ke Tika terlebih dahulu


Tak lama kemudian Arumi kembali masuk ke dalam rumah setelah meminta izin kepada Tika untuk bisa keluar sebentar


"Gimana yang?" Anwar


"Iya di bolehin tapi jangan lama-lama, takutnya nanti ayah sama ibu nyariin aku"


"Iya, nggak akan lama kok. Buruan ganti baju sana" Anwar mengibaskan tangannya


"Iya ini loh otw ganti baju" Arumi berjalan ke kamarnya


"Jangan yang cantik-cantik" Suara pelan Anwar tetapi masih bisa di dengar oleh Arumi


Mendengar pernyataan Anwar, langkah Arumi berhenti kemudian ia berbalik badan dan melangkah ke arah Anwar yang sedang duduk


"Cantik dong, biar kamu nggk malu jalan sama aku" Bisik Arumi tepat di telinga Anwar


Arumi merasa malu atas ucapannya ia buru-buru jalan cepat ke kamarnya untuk ganti baju dan meninggalkan Anwar yang terlihat senyam-senyum sendiri


Selang beberapa menit kemudian, Arumi sudah berganti baju dengan warna hitam celana kotak-kotak serta hijab berwarna putih tak lupa dengan tas selempangnya


"Tuh kan, udah aku bilang jangan cantik-cantik sayang"


ucap Anwar setelah Arumi terlihat di balik gordennya


"Cantik apaan, cuma pake bedak sama lipstik doang kok" elak Arumi sembari berjalan ke arah Anwar


"Terus yang ini apa?" Anwar berdiri dan menunjuk bulu mata Arumi


"Cuma pake maskara sedikit aja, ini juga udah tipis kok" Arumi bercermin di layar ponselnya sendiri


"Terserah deh, ayo jalan keburu kesorean nanti"


Anwar menyambar kunci motornya yang ia letakkan di meja tamu


"Cuus" Arumi berjalan ke rak sandal sepatu untuk mengambil alas kakinya itu


"Kamu maunya kemana?" Tawar Anwar, kemungkinan ada suatu tempat yang Arumi ingin kunjungi


"Katanya ada wisata baru, namanya kalo nggak salah pantai pasir putih. Bener nggak sih lokasinya tepat di hotel A?" Arumi mengingat-ingat tempat wisata baru dari akun sosmednya


"Aku aja juga nggak tahu, kita coba ke sana aja kali ya"


Anwar juga belum tahu karena selama ini ia jarang sekali memegang ponsel hanya saja sebulan sekali ia memberi kabar ke keluarganya itupun memakai ponsel milik temannya


"Oke"


***


30 menit kemudian


Melalui arahan dari google maps, mereka sampai juga di tempat wisata baru. Ternyata memang benar adanya jika pantai tersebut baru saja dibuka beberapa bulan yang lalu


"Ayo Anwar jalan-jalan ke pinggir pantai" Arumi senang sekali saat melihat air laut


"Panggil yang bener!"


"Ayo SAYANG!" Arumi sudah tak sabar ia menyeret tangan Anwar ke tepi pantai


"Jangan lupa pake kacamatanya, nanti mata kamu kenapa-kenapa loh yang" Anwar mengingatkan bahwa Arumi baru saja operasi mata


"Iyaya, nih aku pake" Arumi memperlihatkan jika ia sudah memakai kacamatanya


Setelah sudah merasa lelah berjalan menyusuri tepi pantai, Arumi dan Anwar langsung duduk di gazebo yang sudah di sediakan


"Oh ya, aku belum sempat foto. Tolong fotoin ya yang" Arumi bersikap manja dengan Anwar


"Di mana? Aku di bawah ini?" Anwar turun dari tangga


"Aku mau foto di bawah aja deh"


Arumi juga ikut turun dari tangga


Ternyata Arumi ingin berfoto duduk mungkin ia merasa sudah lelah



Saat Arumi ingin berdiri tiba-tiba kepala Arumi merasa pusing dan samar-samar melihat di sekitarnya, lama kelamaan pandangannya mulai kabur dan...


Bruuuk...


***


Makasih ya kak udah mampir di novel aku


dan makasih juga udah nunggu author update


Semoga sehat selalu kaka❣️❣️❣️