
Arumi tidak menjawab pertanyaan Ica, tapi Arumi malah mulai menangis mengeluarkan air matanya
"Loh loh, kok nangis. Ada apa?"
"Aku mau curhat" ucap Arumi pelan agar tidak terdengar oleh orang rumahan
Ica menengok sekelilingnya untuk memastikan keadaan sepi, agar Arumi bisa curhat dengan tenang
"Yuk ke depan aja, di sini ada orang nanti kedengaran lagi" Ica berdiri menarik tangan Arumi dan Arumi hanya mengikuti langkah kaki Ica
Di depan rumah Ica memang ada taman kecil terdapat juga bangku untuk sekedar duduk santai saat pagi, sore bahkan malam hari
Mereka duduk bersebelahan seketika Arumi langsung berhamburan memeluk Ica dan melampiaskan kesedihannya.
"Cup..Cup.. udah ya nangisnya" Ica mengusap-usap punggung Arumi
"Kalo nangis terus kapan mau curhatnya nih"
Arumi melepaskan pelukannya lalu memberi jarak keduanya agar bisa berbicara lebih nyaman
"Jadi begini, a-aku di terima di pabrik xx"
"Bagus dong"
"Keberangkatannya 2 Minggu ini"
Ica mengerutkan keningnya, mulai mencerna setiap kalimat Arumi yang ucapkan
"Kata kakak itu terlalu mendadak, bahkan aku juga nggak punya uang pesangon untuk ke sana
Kakakku bilang kalo dia juga nggak punya uang,Dia nyaranin aku untuk cari kerja 2-3 bulan lagi. Bayangkan Ca aku tuh udah fix bisa masuk kerja di sana cuma datang terus langsung ikut training kerja
Hiks...Hiks...
Misal kalo aku kerja 2 bulan lagi, belum tentu itu di terima enggaknya. Belum juga mengikuti tes dan nunggu panggilan kerja lagi. Ini tuh udah FIX Ca, udah Fiks"
Hiks...Hiks...Hiks...
"Yang sabar Rum" Ica memegang tangan Arumi yang dingin itu
"Ca, aku boleh minta bantuan kamu nggak?"
"Kalo aku bisa bantu pasti aku bantu, dengan senang hati malah"
"Kamu punya uang nggak? dua ratus ribu aja"
(Buat di kota uang dua ratus nggak ada apa-apanya, tapi beda kalau di pedesaan. Jadi uang dua ratus ribu tadi sudah termasuk banyak)
"Ada sih, tapi mau aku gunakan buat bayar sekolahan agar bisa meringankan Abi. Kalo aku pinjemin ke Arumi terus aku bayar pake apa? Tapi kali ini Arumi lebih membutuhkan" Batin Ica sambil mikir
"Yaudah deh, gapapa. nanti aku cari uang yang lain"
"Ada kayaknya Rum, bentar ya aku ambilkan"
"Alhamdulillah ya Allah, engkau kirimkan aku sahabat sebaik Ica. Kini aku bisa berangkat ke kota J, Alhamdulillah" Dalam hati Arumi sangat bersyukur karena sahabatnya Sendiri bisa menolongnya
Ica keluar rumah dengan menggenggam uang di tangannya lalu duduk di samping Arumi
"Ini Rum, maaf ya cuman dua ratus ribu aja" ucap Ica sambil memberikan uang tersebut ke Arumi
"Gapapa, ini udah lebih dari cukup kok" Arumi menerima kemudian ia masukkan ke dalam tasnya
"Makasih ya Ca, kamu udah nolongin aku saat aku butuh bantuan" Arumi menangis di pelukan Ica
"Iya sama-sama, semoga aja uangnya bisa bantu kamu ya"
"Ini sangat berarti untuk masa depanku Ca"
"Udah ah, nangisnya" Ca melepas pelukannya ia mengusap air mata Arumi yang mengalir di pipinya
"Oh iya, katanya kamu mau ngelanjutin sekolah kamu ya? Dimana??" Arumi mengalihkan pembicaraan agar tidak berlalut kesedihannya
"Iya, doain ya semoga bisa di terima aku mau masuk jalur beasiswa. Aku nggak mau nyusahin Abi aku terus-terusan"
"Iya aku doain supaya kamu bisa di terima kuliah lewat jalur beasiswa.
Kamu udah cantik, baik pula hatimu. Makin sayang deh"
"Kamu nggak mau ngelanjutin sekolah?"
"Akunya sih mau banget, tapi aku udah janji sama orang tuaku kalau setelah lulus aku mau langsung kerja"
"Ya Allah, kasihan banget Arumi. Dia itu pintar sayang kalau harus berhenti sekolahnya"
"Di sana kerjanya berapa hari seminggu?" Ica
"Lima hari kerja, Sabtu Minggu libur"
"Nah kan sekarang ada kuliah sambil kerja. Kamu bisa ambil kuliah di hari weekend nanti"
"Ah betul juga, aku kok nggak kepikiran ya kesana. Sebenarnya aku juga mau kuliah, tapi orang tua aku bolehin nggak ya"
*
Makasih ya Kaka udah mampir di novel aku
Semoga suka❣️❣️❣️