ARUMI

ARUMI
Pulang



Beberapa hari kemudian


Hanya butuh 4 hari Arumi masa pemulihan, hari ini perban pada matanya akan di buka. Semua keluarga tak terkecuali Dayat juga ikut serta melihat pembukaan perban Arumi tetapi sang ayah tidak ada di sana


"Sekarang kita buka perbannya ya" ucap dokter Dharma yang berdiri di samping Arumi


"Iya dok" Arumi dengan wajah sumringahnya


Dokter Dharma mulai membuka perban Arumi dengan pelan-pelan, menggulung sedikit demi sedikit kain yang melilit di sekitar kepalanya. Kini tinggal dua lembar yang seperti kapas untuk segera di buka dan dokter Dharma pun mengambilnya


"Nanti saat buka mata pelan-pelan saja, supaya bisa menetralisir cahaya sedikit-sedikit" arahan dari dokter Dharma


Arumi menganggukkan kepalanya


"Sekarang buka matanya, pelan-pelan saja" Dokter Dharma mundur memberi jarak antara keduanya


Semua orang yang berada di sana merasa tegang apakah operasinya membuahkan hasil atau tidak. Arumi masih dalam memejamkan matanya belum siap untuk membukanya


"Ayo sayang buka matanya" Ningrum mendekati Arumi sembari memegang tangannya


"Arumi takut Bu" ucap Arumi dengan tangan dingin


"Kenapa takut? kan ada dokter juga ada susternya kok" Ningrum menenangkan, siapa tahu dalam hatinya ia juga tak kalah tegangnya


"Tapi kalo tidak berhasil bagaimana?"


"Ikhlas saja, semua pasrahkan kepada Allah.


Buruan gih buka matanya, ibu pengen tahu"


Sedikit demi sedikit Arumi membuka kedua matanya, samar-samar ia melihat cahaya yang menembus membuat Arumi kembali memejamkan mata


"Loh, kok merem lagi?" kata dokter


"tiba-tiba pusing dok, ada cahaya sedikit tapi kok silau ya" Arumi memijat pelipisnya


"Tidak apa-apa, coba buka matanya pelan-pelan saja"


Arumi perlahan-lahan membuka matanya, kini ia bisa menerima cahaya yang masuk di kornea matanya. Arumi diam mematung lurus ke depan tanpa berkedip, tak lama kemudian ia menelusuri ruangannya


"Bagaimana?" tanya sang doky


"Iya dok" Arumi memutarkan bola mata menjelajahi setiap sudut di ruang tersebut


"Iya bagaimana?" dokter Dharma mengulanginya lagi


"Alhamdulillah, saya bisa melihat lagi" Arumi menatap satu persatu ayah dan ibunya


"Alhamdulillah" semua orangmengucapkan rasa syukur


"Tapi dok, matanya kok berwarna kecoklatan ya? Apa ada yang salah?" Ningrum mengetahui itu


"Apa ibu belum diberitahu oleh Arya jika mata ini ia dapatkan dari luar negeri?"


Ningrum menggelengkan kepalanya


"Oh, begini Bu, disini tidak ada pendonor mata yang sesuai dengan kondisi mata anak ibu. Saya menyarankan Arya untuk mencari donor mata di luar negeri, kemungkinan besar warna mata tersebut berbeda dengan warna mata pada umumnya. Cenderung yang di luar negeri berwarna kecoklatan, ada yang biru, silver dan masih ada banyak lagi"


"Iya dok, tidak apa-apa. Yang penting anak saya bisa melihat lagi" Ningrum memeluk erat tubuh Arumi


"Terimakasih banyak ya dokter" Arumi kini bisa melihat dokter Dharma yang selama ini memeriksanya


"Iya Arumi, sama-sama"


"Ini cermin supaya Anda bisa melihatnya sendiri"


Seorang suster memberikan Arumi cermin persegi


"Terimakasih" Arumi mengambil cermin yang disodorkan oleh suster


Arumi melihat wajahnya sendiri lewat cermin di genggaman tangannya, ia terkesima betapa indahnya kedua matanya yang di donorkan


"Ini mah nggak usah pake softlens tetap bagus" Dalam hati Arumi senang bukan main


"Bagus ini dok. Terimakasih"


"Terimakasihlah kepada Arya yang sudah mencari donor mata seindah itu"


"Sebentar dok, sepertinya dokter kok sudah kenal dekat sama Pak Arya ya?" ucap Arumi yang sedikit mengganjal


"Maksudnya? Arumi bingung


"Hampir 2 tahun yang lalu Arya dikirim papanya untuk berada di Indonesia, selama di sini Arya di bawah pengawasanku karena orangtuanya tinggal di Spanyol. Tetapi dia itu keras kepala jika dia bisa hidup mandiri, mau bagaimana lagi saya harus melepaskannya. Dia bilang Arya juga sudah dewasa bia bebas memilih hidup apa yang dia mau. Terpaksa saya mengiyakan keinginannya dengan memantau Arya dari kejahuan.


Oh maaf ibu-ibu, saya malah curhat Ke kalian semuanya"


Dokter Dharma menyadari sudah mengeluarkan apa yang di rasakan saat ini


"Tidak apa-apa dokter" jawab Tika dengan senyum terpakaanya


"Sebenarnya sih aku nggak mau tahu tentang si Arya tadi, berhubung untuk menghargai apa kata dokter ya aku mau mendengarnya" Umpat Tika dalam hati


"Apa Pak Arya lulusan dari luar negeri?" tanya Arumi yang mulai penasaran


"Iya, lulusan terbaik" Dokter Dharma mengacungkan jempolnya ke depan


"Terus ada hubungan kekeluargaan atau semacamnya?" Mata coklat Arumi mengarah ke dokter Dharma seperti sedang mengintimidasi


"Saya kakak dari papanya Arya" jawab Dokter Dharma dengan tenang


"Berarti dokter pamannya pak Arya?"


"Betul sekali" Sembari mengangguk


"Pantesan"


"Pantesan?" Dokter Dharma mengulangi lagi sembari memicingkan matanya


"Pantes dokter memanggil nama pak Arya seperti sudah kenal saja. Hehe" jawab Arumi dengan cengengesan


"Ada-ada saja, saya tinggal keluar ya" Izin sang dokter untuk pergi keluar ruangan


***


Sudah dua Minggu kata dokter Dharma mata Arumi sudah normal untuk menjalani aktifitas lainnya, Arumi memutuskan untuk pulang dari Rumah sakit. Haahtinya sangat rindu dengan suasana rumah apalagi dengan kasur kamarnya yang sering ia ajak curhat


"Ehmm, nyamannya" Arumi berguling-guling di kasur kesayangannya


"Kamu rindu tidur disini?" Tiba-tiba Ningrum masuk ke kamar Arumi membawa beberapa barang


"Iya Bu, hari ini aku mau full time dengan kasur aku ini"


"Ingat, jangan lama-lama. Kamu harus mencari kegiatan untuk menetralkan mata kamu"


"Iya Ibuku sayang"


"Nak, setelah ini kamu mau kerja dimana? Ayah minta kamu jangan merantau lagi, cari kerja daerah sini aja"


Ningrum duduk di tepi ranjang Arumi


Arumi yang tadinya sedang asik berguling-guling, ia langsung ikut duduk menghadap ibunya


"Ibu, Arumi harus kerja di sana lagi. Arumi kan sudah mendapat jaminan kesehatan semahal ini, masak iya Arumi tidak membalas kebaikan perusahaan? Arumi berfikir bekerja di sana mungkin bisa membayar apa yang perusahaan berikan selama ini. Jadi Arumi mohon izinin Arumi bekerja di sana lagi, Arumi janji akan lebih hati-hati saat bekerja" terang Arumi mengingat beberapa cuplikan saat Arya menjelaskan bagian ini


"Apa tidak ada cara yang lain?"


"Apa ibu mau menggantikan uang yang selama ini perusahaan berikan?"


Huuufts... Ningrum berdiam diri kemudian menghela nafas


"Kalau ini memang untuk kebaikanmu, ibu hanya bisa mendukung saja nak" Ningrum mengelus kepala Arumi


"Bilangin ke Ayah, kalau Arumi tidak apa-apa kerja di sana lagi" Arumi memegang tangan ibunya


"Iya nanti ibu bilangin ke Ayah. Ibu mau memasak dulu ya nanti ayah pulang tinggal makan aja" Ningrum beranjak berdiri


"He em, masak ampela ati ya Bu itu kan kesukaanku" Teriak Arumi dari dalam kamar


"Iya kalo ada barangnya, ibu harus belanja dulu sepertinya Bu Las udah di depan" ucap Ningrum yang di luar


"Iya!"


Setiap hari Ningrum belanja sayuran di depan rumahnya, karena tetangga Arumi memang seorang tukang sayur keliling Ningrum akan pergi ke pasar jika ada acara tertentu


Happy weekend kaka


Jangan lupa Like-nya ya❣️❣️❣️