
Melihat Anaknya pingsan, Ningrum langsung keluar memanggil dokter untuk segera memeriksakan anaknya. Dan sang dokterpun memeriksa Arumi
"Dokter anak saya kenapa?" suara Ningrum yang begitu cemas
"Anak anda Hanya syok, sepertinya belum bisa menerima semua ini. Tenang Bu, anak ibu baik-baik saja mungkin beberapa menit lagi akan bangun dari pingsannya" Terang dokter Ridwan
"Saya keluar sebentar Bu, kalau pasien sudah siuman Ibu bisa hubungi saya. Permisi" ucap Dokter Ridwan yang langsung pergi meninggalkan ruangan tadi
"Iya dok, terimakasih"
Ningrum melihat punggung Dokter Sampai di depan pintu, setelah hilang pandangannya kini ke arah Arumi yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Ningrum tidak sanggup melihat anaknya yang akan menjalani masa-masa tanpa bisa melihat sekelilingnya
Ruangan tersebut di selimuti dengan Isak tangisnya Ningrum, dimana Arumi bisa sembuh jika di lakukan dengan operasi mata. Tetapi ia bingung bagaimana membayar biaya yang tidak sedikit nominalnya
Bahkan semua aset yang dimiliki keluarga Ningrumpun belum tentu bisa membayar biaya untuk operasi Arumi, kata dokter biaya untuk mendapat donor mata saja sudah besar apalagi di tambah dengan biaya operasinya
Terpaksa Ningrum memendam tentang Arumi yang akan operasi, ia ingin merawat anaknya sendiri dengan apapun keadaannya. Tapi ia juga berusaha untuk mengumpulkan uang agar anaknya bisa operasi
"Nak, yang sabar ya nak. Ibu akan merawat kamu apapun keadaannya. Hiiks..." Ningrum memegang tangan Arumi yang di tempelkan pada pipinya
"Ibu akan berusaha mencari uang, untuk operasi kamu agar kamu bisa melihat lagi nak" Bisik Ningrum di depan Arumi
Di tempat lain
Sudah satu bulan lagi Anwar tidak berkomunikasi dengan Arumi, terakhir kali memberi kabar ia mengirim sebuah foto dimana saat Anwar sedang istirahat seusai pelatihan
Tapi berbeda dengan akhir bulan ini, nomor Arumi bahkan tidak aktif beberapa hari yang lalu. Firasat Anwar mengatakan jika terjadi sesuatu pada Arumi
"Arumi kemana saja ya, masak nomornya udah nggak aktif dari kemarin" ucap Anwar ketika melihat terakhir nomor Arumi aktif
"Tenang lah bro, mungkin dia nggak punya kuota" jawab Rudi yang mendengar ocehan Anwar
"Nggak mungkin kalo dia nggak punya kuota, setiap hari dia juga selalu ngabarin ke keluarganya. Ini malah udah nggak aktif beberapa hari yang lalu" Anwar memandang foto profil Arumi
"Ya siapa tau ponselnya rusak atau gimana gitu. Lo harus berfikiran positif" Rudi menepuk pundak Anwar
"Nggak bisa tenang aku Rud!"
"Kamu tanya aja sama temannya, siapa tau dia tahu keberadaan Arumi"
"Tapi gue nggak hafal nomornya"
"Heh, walaupun Lo nggak hafal tapi kan Lo berteman di medsosnya temen pacar Lo"
"Oh iya, kenapa nggak dari tadi ngarah ke situ ya"
Anwar langsung membuka aplikasi Facebook, masuk dengan akunnya dan segera mencari nama akun dari Vita teman kosnya Arumi
"Astaghfirullah, baru aja gue buka akun Facebook ternyata ada banyak pesan dari teman sekolah"
Anwar melihat banyak pesan dari teman-temannya satu sekolah dulu
Anwar membaca siapa saja yang mengirimkan pesan tanpa membaca isi dari pesan tersebut, tapi ia kembali fokus untuk mencari nama akun dari Vita. Ternyata Vita juga mengirim beberapa pesan untuknya
AtVita Malaa 📥
'Anwar, aku mau ngabarin ke kamu kalo Arumi berada di rumah sakit sekarang.
Di rumah sakit Dharmais kota S'
'Anwar, keadaannya sangat kritis. Tolong jenguk Arumi, dia butuh semangat dari kamu'
'Anwar, ternyata Arumi bermasalah dengan kedua matanya. Semoga saja dia tidak kenapa-kenapa'
'Anwar, kata Bu Ningrum Arumi kini matanya tidak bisa melihat kembali.
Ku harap kamu juga bisa menerimanya dengan keadaan apapun'
'Katanya mata Arumi bisa melihat kembali dengan cara operasi, tapi sepertinya keluarganya belum ada uang untuk melakukan operasinya. Kamu juga tahu kan bagaimana kondisi perekonomian keluarganya Arumi?"
'Tolong ya, jangan jauhi Arumi kalau memang kamu benar-benar sayang sama dia'
'Semoga kamu sama Arumi tetap bisa bersama dengan keadaan Arumi sekarang'
"Astaghfirullah Arumi, kamu di rumah sakit sekarang" Anwar yang syok setelah membaca isi pesan dari Vita
"Apa? pacar Lo sekarang di rumah sakit?" tanya Rudi yang tidak sengaja mendengar ucapan Anwar
"Iya Rud, gimana ini. Aku pengen banget jenguk Arumi"
"Nggak bisa bro, kita di beri waktu tiga bulan untuk menyelesaikan pelatihan ini. Dalam waktu tiga bulan juga kita harus hadir setiap harinya, kalau kita langgar tahu kan resikonya?" terang Rudi
"Iya aku tahu, kalo tidak hadir satu hari saja kita bisa gagal masuk ke tahap selanjutnya" celetuk Arumi yang semakin lemas
"Kita doakan saja dari sini, semoga dia bisa sembuh" Rudi menenangkan Anwar
"Aku harus bagaimana ini!" Anwar mengacak-acak kepalanya,
Eits.. kan Anwar sekarang botak tidak punya rambut
Hihihii
"Kalo aku hanya bisa mendoakannya yang terbaik, tenangin diri Lo bro. Jangan sampe usaha dua bulan ini menjadi sia-sia" Rudi menepuk pundak Anwar dan langsung pergi meninggalkannya
"Apa aku minta tolong sama papa ya, semoga saja papa mau nolongin anaknya" Ide yang terlintas di benak Anwar
Anwar langsung mencari kontak papanya, walaupun bukan ponselnya sendiri Anwar sudah beberapa kali memberi kabar keluarganya lewat ponsel temannya
Papa Irul 📞
"Assalamualaikum" Suara di seberang sana
"Waalaikumsalam pa" jawab Anwar
"Tumben-tumben nelfon papa, ada apa nak?"
"Pa, Anwar boleh minta bantuan nggak"
"Kalo papa bisa pasti papa akan bantu kamu"
"Boleh minta uang ya pa?"
"Loh, kan baru kemarin papa transfer kamu. Untuk biaya pelatihan juga papa sudah lunasi semuanya? Memang kurang banyak ya?"
"Bukan untuk yang itu pa"
"Terus minta uang untuk apa?"
"Begini pa, pacar Anwar kini di rawat di rumah sakit. Boleh nggak pa, biaya rumah sakitnya papa tanggung dulu. Kalo Anwar udah bekerja nanti Anwar akan nyicil ke papa" ucap Anwar dengan ragu-ragu
"Emang orang tuanya kemana, kenapa harus kamu yang nanggung?" tanya Irul
"Emm, Biayanya cukup besar pa kita kan bisa membantu mereka walaupun nggak seberapa"
"Nggak bisa Anwar, biaya operasi itu sangat mahal. Papa nggak bisa bantu kamu, pacar kamu juga belum tentu menjadi istri kamu kedepannya" ketus Irul yang sedikit membentak Anwar
"Pa, Anwar sayang sama Arumi. Tolong bantu dong pa" lirih suara Anwar
"Papa nggak bisa Anwar! mending kamu tetap fokus ke pelatihan kamu supaya kamu bisa lolos dan mewujudkan cita-cita kamu sendiri"
"Tapi kan pa--"
"Nggak ada tapi-tapian, papa ada kerjaan. Jangan urusi kehidupan orang lain!"
Tuuut... Suara sambungan telepon sudah berakhir
"Arumi bukan orang lain pa, dia orang yang Anwar cintai dari dulu" Anwar tetap menjawab walaupun panggilan sudah terputus
Anwar kini bingung harus mau bagaimana lagi untuk bisa membantu operasi mata Arumi, Ia juga belum benar-benar positif bisa lolos dari pelatihan ini. Jangankan untuk membiayai operasi Arumi kebutuhan sehari-hari saja ia masih diberi oleh orangtuanya.
Terimakasih Kaka karena udah mau mampir di novel aku
love you all❣️❣️❣️