
"..."
"Apa? Pertemuan terakhir??"
Arumi kaget atas perkataan Anwar
"Maksud aku pertemuan terakhir bulan ini. Hehe"
"Kok terakhir?" Arumi mengerutkan dahinya
"Ya kan aku mulai Minggu depan udah masuk pelatihan"
"Oh iya, aku lupa" Arumi baru ingat bahwa ia sudah pernah diberitahu oleh Anwar
"Kamu nggak papa kan aku nggak ngabarin kamu tiga bulanan?"
"Emang ada apa?"
"Aku takut nanti kamu nyari yang lain, karena aku nggak ada kabar"
"Gitu doang?" Arumi seperti menyepelekan
"Ya aku harap kamu bisa nunggu aku" ucap Anwar serius
"Emang kita LDR-an belum cukup?"
"Kan kita LDR-an tapi masih bisa memberi kabar, tapi besok LDR-an nggak ada kabar apapun"
"Udahlah, jangan khawatir kok" Arumi menenangkan
"Aku khawatir banget sayang. Kamu janji ya jaga hati buat aku"
"Iyayaa"
"Iya apa?"
"Iya sayaang"
Mendengar Arumi mengiyakan perkataannya ia mulai tenang
"Wah, udah berani ya manggil aku sayang"
"Kan kamu yang ngajarin"
"Nggak kok, kan inisiatif aku sendiri"
"Itu juga aku inisiatif sendiri "
"Ikut-ikutan ih" Anwar memencet hidung Arumi
"Aduh, sakit tau"
"Salah siapa punya a hidung mancung begini”
"Punya hidung mancung salah, hidung pesek juga salah. Yang bener itu gimana sih"
"Kalo cewek itu bagusnya pesek, kalo cowok ya bagusnya mancung"
"Nggak adil ah, yang penting syukuri"
"Iyaya, pinter banget pacar aku yang satu ini" Anwar mencubit pipi Arumi
"Eh eh eh, emang pacar kamu ada berapa?"
"Kamu doang"
"Nggak percaya, coba liat ponselmu!"
Saat Arumi ingin merampas ponselnya Anwar tiba-tiba Anwar mengambil dan mengangkat ponselnya ke atas. Arumi ingin mengambilnya tapi Anwar langsung berdiri, Arumi tidak bisa menjangkau karena perbedaan tinggi badannya cukup jauh. Arumi mempunyai tinggi badan 152cm dan Anwar 170cm, jadi cukup jauh perbandingannya
"Sini ah, pinjem sebentar" Arumi merajuk
"Cium dulu dong" bisik Anwar tepat di telinganya
"Kalo nggak mau pinjemin yaudah" Arumi kembali duduk di kursinya
"Nggak-nggak bercanda kok yang. Nih" Anwar langsung menyerahkan ponselnya di depan Arumi
"Gini kan kamu tambah ganteng" Goda Arumi
"Berarti kemarin-kemarin aku nggak ganteng?"
"Hehe, tetep ganteng kok" Arumi meringis menunjukkan deretan giginya
"Dasar!" Anwar mengelus kepala Arumi pelan
Kini Arumi membawa ponselnya Anwar dan ia ingin melihat chatting-chattingannya kepada siapa saja. Arumi membuka aplikasi WhatsApp Anwar, ternyata ada beberapa pesan dari teman-temannya.
Arumi melihat ada nomor yang tidak disimpan tapi ia tahu karena ada foto profil yang terpampang jelas. Nomor yang di maksud adalah Linda, teman satu kelas serta satu anggota kepramukaan
"Ini nomornya Linda, kenapa kamu nggak simpan?"
"Aku buka ya pesannya" Arumi membuka pesan Linda yang belum terbaca
"Wah, pesannya banyak sekali masak dia nggak bales satupun, balasnya juga cuek. Kok Linda kaya kecentilan ya, pake emoticon segala kok ngeri sih aku"
"Ini ada pesannya Linda katanya mau minta foto di pantai kemarin? kok nggak kamu kirim ke dia?"
"Emang aku nggak kirim ke dia, aku kan ngirimnya ke kamu biar kamu yang ngirim ke Linda"
"Kenapa?" Arumi bertanya sambil tetap membaca pesan ke atas
"Aku kan udah bilang, nggak penting. Aku kirim ke dia atau ke kamu sama saja, ujung-ujungnya dia juga punya kok"
"Iya sih, tapi kan setidaknya kamu balas pesannya. Diabaikan nggak enak tauk"
"Biarin, kalo aku tanggepin kamu malah cemburu lagi"
"Sebenarnya aku udah cemburu walaupun kamu nggak balas pesannya" dalam hati Arumi
"Nggak ah" hanya jawaban itu yang bisa Arumi ucapkan
"Beneran?" goda Anwar
"Beneraaan"
"Yaudah, nanti malam kalo dia ngirim pesan lagi aku langsung jawab aja" kata Anwar dengan senyum-senyum
Arumi yang asik membaca isi pesan dari Linda, mendengar Anwar berbicara seperti itu Arumi reflek menengok ke Anwar dan segera melototinya
"Duh, mata kamu nanti kelilipan loh" Anwar langsung mengusap wajah Arumi dengan tangan kanannya
"Awas aja kalo berani menjawab" celetuk Arumi yang samar-samar di dengar oleh Anwar
"Ngomong apa?" Anwar pendengarnya ternyata kurang jelas
"Nggak ngomong apa-apa kok" elak Arumi
"Eh yang, udah malem. Pulang yuk, nanti kamu dimarahin lagi sama Ayah kamu"
"Yaudah ayo"
"Kamu tunggu di parkiran dulu, ku mau bayar ke karsir sebentar"
"Iya"
Arumi berjalan keluar pintu menuju ke parkiran dimana motor Anwar terparkir di sana, sedangkan Anwar pergi ke arah karsir untuk membayar pesanannya tadi
"Ayo yang, pulang sekarang"
Anwar siap-siap untuk segera memakai helmnya dan menghidupkan mesin motornya
setelah Anwar sudah menghidupkan mesin motornya Arumi segera naik ke jok belakang, dan mereka berdua segera langsung menyelusuri jalan yang sudah sepi walaupun belum terlalu malam
"Yang..." Anwar merasa kepala Arumi selalu kejedot helmnya Anwar
"Iya?" Arumi teriak karena takut Anwar tidak mendengar
"Kamu ngantuk yang?" Kini mereka berdua sama-sama berteriak karena suara motor yang lalu lalang terdengar bising
"Iya nih. Hoaaam" Arumi tak sengaja menguap
"Tidur gih, nanti aku bangunin"
"Nggak ah, mau nemenin kamu menyetir"
"Yaudah kalo gitu, pegangan yang kuat dong"
Arumi langsung melingkarkan tangannya ke perut Anwar, dikira kurang erat Anwar langsung memegang kedua tangan Arumi yang melingkar segera ua mempereratkan pegangannya
Ternyata pegangan Arumi yang tadi kurang erat dikarenakan Arumi tertidur sambil menyenderkan kepalanya di punggung Anwar, seketika Anwar menepikan motornya terlebih dahulu dan memastikan posisi Arumi kini lebih nyaman lagi
"Dasar katanya mau nemenin aku menyetir, kurang lima menit aja udah teler" Anwar menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum
Setelah Anwar memastikan posisi Arumi sudah nyaman, ia langsung melajukan motornya pelan-pelan mengingat nanti takutnya jatuh, bukan begitu saja ia juga harus menikmati momen-momen langka seperti ini
Anwar pulang sesuai Ayah Arumi katakan yaitu pulang sebelum jam 9 malam. Sekiranya cukup mendekati di depan rumahnya Arumi, Anwar segera membangunkan Arumi dengan pelan-pelan bahwa mereka berdua hampir sampai di rumah
Setelah itu Anwar sudah memastikan kekasihnya pulang dengan selamat, kini Anwar langsung memutar balik motornya menuju rumahnya sendiri. Anwar pulang ke rumah sudah terlalu larut malam, karena jaraknya juga tidak begitu dekat
Setibanya di rumah, Anwar langsung bergegas menuaikan sholat Isya sebelum tidur. Dan ia tak lupa untuk memberi kabar Arumi bahwa ia sudah sampai di rumah dengan selamat, dan mengingatkan Arumi bahwa besok Anwar akan mengantarkan Arumi ke kota J
***
Makasih ya Kaka udah mau mampir disini
Jangan Lupa Like ya, anggap saja uang parkir
Hehee ❣️❣️❣️