ARUMI

ARUMI
Sudah menerimanya



Arumi keluar dari toilet, testpack yang ia gunakan belum juga muncul garis sembari menunggu hasilnya ia menyerahkan testpack tersebut ke dokter, dokterpun mengambilnya. Tak lama kemudian muncullah garis dua merah pertanda


"Alhamdulillah positif" Kata Dokter dengan senyum sumringahnya


"Apa? Po-positif?" Arumi terkejut


Dokter hanya menganggukkan kepalanya


"Memang ada masalah?" tanya dokter terheran karena sepertinya Arumi tidak merasa bahagia


"Tidak ada apa-apa dok, kalo boleh tahu usianya berapa bulan?" Nenek Sri langsung menjawab ucapan dokter, sedangkan Arumi masih mematung tidak percaya sembari mengusap-usap perutnya


"Di lihat dari terakhir mbaknya datang bulan mungkin belum sampai satu bulan. Kemungkinan kandungannya hanya 2-3 Minggu, lebih jelasnya kita bisa melakukan cek di USG?" ucap dokter


"Oh, tidak perlu dok. Kita cek kandungan Minggu depan saja" balas Arumi dengan senyum terpaksanya


"Oh baiklah"


Arumi dan nenek Sri terkejut apa yang di khawatirkan kini terjadi juga, tetapi berbeda dengan Yuda ia malah bingung seharusnya ini berita bagus melainkan, Ah sudahlah


"Mari nek saya antarkan pulang lagi" tawar Yuda


"Iya nak, terimakasih banyak ya atas bantuannya. Nenek jadi nggak enak nih" ucap nenek Sri malu-malu


"Tidak apa nek, sesama manusia harus saling tolong menolong" elak Yuda


***


Sama halnya dilain tempat, Kini di rumah Arumipun sendiri sedang bersedih karena Dian baru saja meninggal dunia karena serangan jantung. Betapa bersedianya keluarga mereka sudah ditinggal Arumi menghilang kini Dian juga meninggalkan mereka selama-lamanya


Anwar yang sedang bertugas meminta izin untuk takziyah di rumah Arumi, ia sangat merasa bersalah terhadap keluarga mereka karena penyebab meninggalnya Dian adalah dirinya sendiri yang sudah membuat Arumi menghilang sampai sekarang


Setelah mendapat izin dari sana Anwar langsung buru-buru ke rumah Arumi dengan pakaian seragamnya yang masih melekat, tetapi untuk menghindari dari tatapan tetangga sekitar ia menutupinya menggunakan jaket


Hati Anwar ikut bersedih bahkan cairan bening yang keluar dari matanya pun kini menetes, betapa rapuhnya Ningrum beserta keluarganya kehilangan orang sekaligus dalam waktu dekat ini. Tetapi Anwar sudah berjanji pada dirinya akan berusaha menemukan Arumi dan mengembalikan ke keluarganya


Saat proses menyolati mayatnya, tak lupa Anwar juga ikut serta. Ia pergi ke pet air untuk mengambil air wudhu, saat menuju ke dalam untuk menyolati ia tak sengaja berpapasan dengan Tika matanya seolah-olah ingin menerkam dirinya


"Semua ini gara-gara kamu!" Mata Tika yang sudah lebam ditambah lagi dengan sorotan matanya yang melebar menambah kesan menakutkan bagi Anwar


Setelah berbicara Tika langsung pergi begitu saja tanpa bilang permisi, Anwar hanya bisa meminta maaf jika semua ini dialah penyebabnya. Ia tak tahu apa yang setelah ini ia lakukan agar keluarga Arumi memaafkannya


***


Satu Minggu kemudian


"Yakin nak kamu tidak mau pulang?" tanya Nenek Sri


"Iya nek, sudah satu bulan Arumi disini pasti keluarga Arumi sudah menganggap Arumi meninggal" tawa kecil baru Arumi keluarkan


"Jangan begitu, kamu harus pulang memberi kabar kepada keluargamu bahwa kamu masih hidup"


"Memberi kabar serta memberitahu jika saya mengandung?"


"Eh... Maksud nenek kamu kan sudah lama menunggu transportasi untuk bisa pulang ke rumah, jadi hari ini kan kamu bisa pulang"


"Kak Arum mau pulang?" tiba-tiba saja Angga masuk kedalam kamar Arumi


"Iya cu" Nenek Sri mengusap kepala Angga


"Kak Arum jangan pulang, nanti yang nemenin Angga main siapa?" tangis Angga mulai pecah'


"Loh loh loh, kan sebelum ada kak Arum, Angga kan biasanya main sama nenek. Kenapa sekarang kok jadi manja begini?"


"Nenek nggak asik, asikan main sama kak Arum" Angga memeluk erat Tubuh Arumi


Semakin mantap hati Arumi untuk tetap tinggal di rumah nenek Sri, tanpa ingin pulang kerumahnya. Ada banyak alasan ia tidak bisa meninggalkan nenek, oleh karena itu ia harus bisa membalas kebaikan nenek Sri yang sudah merawatnya sampai sekarang. Jika ia tidak di temukan oleh Angga, ia tidak habis berfikir nantinya akan menjadi mayat yang membusuk tanpa ada orang yang menemukannya


"Nggak, Kak Arum Masih tinggal disini kok" Arumi mengusap air mata Angga yang menetes


"Beneran" Arumi mengiyakan


"Yeee!" Angga senang bukan main karena ada yang menemaninya setiap hari


💮


Hari demi hari Arumi lalui bersama dengan Nenek Sri dan Angga, ia sudah terbiasa dengan lingkungan sekitar beserta para tetangganya. Para tetangganya pun menyambutnya dengan ramah beda halnya dengan tetangga di kampung Arumi sendiri


Ketika Arumi menemani nenek Sri di pasar, matanya tertuju pada dua orang yang memakai gamis kebesaran. Saat dua orang tersebut membalikkan badannya ternyata mereka memakai cadar, sehingga hanya terlihat mata mereka saja


"Masya Allah, cantiknya" dalam hati Arumi bergumam


Tanpa sadar Arumi masih di tempat, padahal ia tertinggal jauh oleh nenek Sri yang sudah berjalan sejak Arumi terbengong


"Arumi!" panggil nenek Sri


"Eh iya nek" seketika Arumi tersadar dan mulai berlari kearah Nenek Sri


Tap tap tap


Arumi berlari mendekati nenek Sri


"Tadi kamu liatin apa sih Rum sampai-sampai terbengong gitu" ucap nenek Sri saat Arumi telah sampai


"Arumi lihat 2 orang tadi yang pake cadar" Arumi menunjuk orang yang sedari tadi ia perhatikan


"Oh itu, nenek kenal. Mereka tetangga desa sini, ngomong-ngomong kamu pengen seperti mereka?" tanya pelan nenek Sri


Arumi hanya membalas dengan anggukan kepala


"Kalo mau nenek bisa bicara sama mereka, agar bisa belajar ilmu dengan mereka"


"Beneran nek?"


"Beneran dong"


"Sebenarnya Arumi pengen memakai cadar sudah dari dulu nek saat bangku sekolah menengah"


"Kenapa nggak dari dulu?"


"Arumi takut nanti dibilang sok caper lah, sok Sholehah lah, sok-sokan lah. Biasa para tetangga Arumi ya kaya begitu"


"Alhamdulillah tetangga nenek disini orangnya bisa menerima orang dengan baik, jadi kamu nggak usah khawatir"


"Emm, tapi nek" Langkah Arumi terhenti


"Tapi kenapa?" nenek Sri pun ikut berhenti


"Kan beli baju gitu nggak murah nek" ucap pelan Arumi, tidak mungkin semua keperluannya selalu di tanggung oleh nenek Sri


"Kamu jangan khawatir soal itu, insyaallah nanti Allah kasih rezeki bagi hambanya yang ingin berubah menjadi lebih baik" Nenek Sri mengelus kepala Arumi yang dibaluti menggunakan hijabnya


"Insyaallah ya nek, makasih nek udah mau dukung Arumi untuk berubah. Arumi janji akan menjaga calon anak ini dengan baik" Arumi memegang perutnya yang masih rata


"Iya nak, anggap saja ini rezeki Allah buat kamu"


"Iya nek"


Perlahan-lahan Arumi sudah mau menerima anak yang ia kandung selama ini, ini semua juga berkat nasehat dari nenek Sri. Dimana ia ingin sekali menggugurkan kandungannya, tetapi ia juga harus memikirkan nasib janin yang dikandungnya padahal ia tidak bersalah


***


Thanks ya Kaka


Semoga panjang umur buat kalian ❣️❣️❣️