
Dengan samar-samar Arumi seperti melihat seseorang yang mungkin tidak asing baginya, kemudian ia mendekati seseorang tersebut untuk memastikan siapa orang tersebut
Tap..Tap..Tap.. Suara Arumi berjalan
"Arumi!"
Merasa ada yang memanggil, Arumi berhenti melangkah dan menengok ke belakang
"Ada apa Vita?"
"Kamu mau kemana?"
"Emm, mau ke sana sebentar" Arumi menunjuk salah satu tempat
"Jangan lama-lama ya, nanti travelnya udah datang kamu belum kesini" Vita mengingatkan
"Iya, nanti aku juga kelihatan kok kalau travelnya udah datang"
"Okee"
Arumi kembali melangkahkan kakinya ke seseorang yang berada di bawah pohon, Arumi mengenali motornya tapi ia juga ingin tahu benar atau tidak seseorang yang di maksud
"Kamu!" Arumi sudah sampai setelah mengenali seseorang tersebut
"Iya aku" Seseorang itu ternyata laki-laki
"Ngapain kamu kesini? Pagi-pagi lagi"
"Aku kesini mau ketemu kamu dulu sebelum berangkat ke kota J"
"Pagi-pagi kesini buat ketemu aku?" Arumi kaget mendengar alasan yang tidak masuk akal
"Iya, sebenarnya aku mau nganter kamu ke sini, tapi di perjalanan kamu sudah diantar kakak kamu. Jadinya ya aku ikutin aja"
"Ya Allah Anwar, baru kemarin kita main kenapa kok mau ketemu aku lagi padahal ini terlalu pagi loh. Nanti kamu nggak di cariin mama kamu?"
Yang benar saja seseorang itu adalah Anwar yang selama ini memang mereka sedang dekat tapi bagi Arumi kedekatan mereka hanya sebatas teman berbeda dengan Anwar, ia menyukai Arumi sudah lama
"Nggak, aku udah izin ke mama kok"
"Emang ada apa kamu pengen ketemu aku?"
"Aku mau ngomong sesuatu ke kamu" ucap Anwar serius
"Ngomong apa? kayaknya serius banget deh"
"Iya serius, serius banget"
"Buruan ngomong, nanti travelnya udah datang loh"
"Arumi, mungkin kamu tahu perhatianku selama ini ke kamu itu lebih dari siapapun. Kamu juga tahu kan kalo aku suka kamu dari dulu, aku lihat dari perhatianku ke kamu aku anggap kamu merespon dengan baik karena tidak menolak perhatianku, aku berharap kamu juga menyukaiku Rum. Mau nggak kamu nerima perasaanku?"
Dengan nada tegas Anwar mengungkapkan perasaannya ke Arumi yang selama ini ia pendam
"Apa?" Arumi di buat kaget tentang pernyataan perasaan Anwar
"Sebenarnya aku juga suka kamu Anwar, kita beda dari segi apapun" ingin sekali Arumi berkata demikian
"Gimana, kamu mau Nerima aku nggak?" Anwar mengulangi perkataannya
"Gimana ya Anwar, aku juga mau kerja jauh ini sedangkan kamu pasti juga mengejar cita-cita kamu yang ingin jadi polisi"
"Ya udah, kalo kamu bingung kapan saja kamu ingin jawab aku siap. Buruan gih travelnya udah datang"
"Insyaallah secepatnya aku jawab, aku pergi dulu ya Anwar. Bye??" Arumi melambaikan tangannya dan beranjak pergi dari hadapan Anwar
"Kalo kamu mau jadi milikku seutuhnya, aku janji Rum bakal ngebahagiain kamu. Kamu nggak usah repot-repot cari kerja lagi biar aku saja yang bekerja, semoga saja kamu mau menerima perasaanku" Harapan Anwar ketika Arumi berjalan ke arah travel
"Tadi siapa Rum?" tanya Vita
"Ohh nggak siapa-siapa kok, udah ayo masuk ke dalam" elak Arumi
"Iya-iya, nanti nggak dapat duduk yang nggak nyaman lagi"
Dalam perjalanan ia memikirkan perkataan Anwar, Arumi bingung ia harus menerima atau tidak perasaan Anwar
"Aku jawab apa ya nanti? aku bingung banget ini, sebenarnya aku juga mau Nerima dia tapi di sisi lain aku takut nanti dia nggak bisa Nerima aku dan keluargaku"
Batin Arumi
"Kata Ayah aku nggak boleh pacaran kalo masih sekolah tapi kan aku udah kerja nggak sekolah lagi, mungkin bolehlah pacaran setelah sekolah" Gumam Arumi sepanjang perjalanan
Ting!
Suara ponsel Arumi yang menandakan ada pesan masuk dan cepat-cepat ia ingin membuka pesannya
"Anwar" batin Arumi yang membaca siapa si pengirim pesan tersebut
Anwar📥
'Aku udah nyampe di rumah, kamu udah sampe dimana?'
'Baru aja berangkat mungkin udah seperempat perjalanan'
'Ya sudah, buat tidur aja lumayanlah mungkin kamu semalaman kurang tidur'
'Iya aku mau tidur kok'
'He em'
'Kalo udah nyampe kabarin ya'
'Iya'
'Jangan lupa jawabannya ya Arumi. Hehe'
'Iya'
'Iya apaan ini?'
'Iya nanti aku jawab'
'Aku kira iya Nerima aku'
'Nanti aku kabarin lagi'
'Baiklah'
Arumi langsung mematikan ponselnya
"Rum, kayaknya tadi aku kenal motornya deh. Apa iya Anwar ke sini?" tanya Vita kepada Arumi yang hendak mau tidur
"Iya memang Anwar"
"Ngapain dia kesini pagi-pagi lagi"
"Katanya sih dia mau ketemu aku"
"What? dia rela pagi-pagi kesini buat ketemu kamu?"
Arumi mengangguk
"Hellooo? Aku tau rumahnya menuju ke terminal itu jauh banget Rum, apa dia ada maunya ya? Hm??"
"Sssst... pelan-pelan" Arumi meletakkan telunjuknya ke mulut Vita
"Ada maunya apa? cuma mau ketemu aku doang kok" Tidak mungkin Arumi mengatakan jika Anwar mengungkapkan perasaannya tadi
"Demi apa coba, pasti ada apa-apanya" jawab sinis Vita kemudian ia melanjutkan bermain ponselnya
Arumi menyender ke jendela, ia memikirkan perkataan Vita yang notabenenya memang benar, dari rumahnya Anwar ke terminal sangat jauh
***
❣️❣️❣️