
Arumi menyender ke jendela, ia memikirkan perkataan Vita yang notabenenya memang benar, dari rumahnya Anwar ke terminal sangat jauh
"Benar sih kata Vita, rumahnya Anwar kan di ujung timur perbatasan kota sedangkan terminal tadi di barat. Kok segitunya Anwar pengen ketemu aku, Anwar menyukaiku tulus nggak sih? Sepertinya dia tulus buktinya tadi dia rela bangun pagi untuk bisa kesini ketemu aku. Terima nggak ya perasaan dia?"
Arumi asik dengan pikirannya seakan-akan berperang dalam benaknya, tak sadar ia ketiduran masih dalam posisi kepalanya menyender ke jendela
Di Suatu Tempat
Ada seorang anak kecil yang menangis tersedu-sedu di pinggir jalan, Arumi kebetulan melewatinya kemudian ia menghampiri anak kecil tersebut
"Adek kenapa menangis?" Arumi membelai rambut anak kecil
"Aku telsesat kak, Hiks hiks" Anak kecil yang sekitar umur 5 tahunan dengan bicara cadelnya
"Namanya siapa kamu?"
"Nama aku Naula"
"Emm, tadi kamu habis dari mana?"
"Dali sana, beli boneka sama papa"
"Kok bisa terpisah bagaimana?"
"Tadi aku beli boneka telus papa aku bayar, tapi aku juga pengen es klim telus langsung aku nggak tau papa aku dimana"
"Ohh gitu, papa kamu namanya siapa?"
"Namanya papa Anwar"
"Ayo ikut Kakak ke sana"
Arumi dan Naura pergi ke post satpam untuk melaporkan jika ada anak kecil tersesat
"Kamu tunggu disini ya, kakak mau beli es krim dulu. Pasti tadi kamu nggak jadi beli kan?"
Naura mengangguk
"Pak saya nitip Anak ini sebentar ya pak" Arumi berbicara dengan salah satu satpam yang berjaga
"Iya mbak"
Arumi segera meninggalkan Naura di post satpam untuk
membeli es krim agar mood Naura bisa membaik lagi
Bruuk
Dengan tergesa-gesa Arumi menabrak seseorang yang sepertinya sedang mencari sesuatu
"Auww" Arumi jatuh ke lantai
"Ohh maaf mbak, mari saya bantu" Seorang pria mengulurkan tangannya ke arah Arumi
"Makasih mas" ucap Arumi setelah berdiri
"Kamu!" ucap keduanya secara bersamaan
"Kamu sedang apa disini?" tanya seorang pria itu
"Aku sedang beli kebutuhan aku, kalo kamu?"
"Aku tadi aku beli ini"
Arumi melihat Anwar menenteng boneka beruang yang ukurannya seperti manusia
"Buat pacar kamu ya?"
"Nggak, buat keponakan aku"
"Terus?"
"Aku nggak tau dia sekarang dimana, tadi aku bayar ke kasir eh dia langsung nggak ada di samping aku"
"Emang namanya siapa?"
"Namanya Naura"
"Tadi aku ketemu sama anak kecil namanya Naura, dia juga kehilangan papanya. Tapi dia ngomong beli boneka sama papanya bukan sama omnya"
"Ayo tunjukkan dia ada dimana!"
Dengan seribu langkah Arumi dan Anwar sampai di post satpam
"Naura?" Anwar langsung mendekat setelah tahu Naura yang ia cari sejak tadi
"Papa!" Naura berlari ke arah Anwar dan segera memeluknya
"Tadi Naura bilang papa tapi kata Anwar dia sama keponakannya, terus yang benar mana?"
Batin Arumi melihat kedua orang tersebut saling berpelukan
*
"Rum, bangun!" Vita menggoyang-goyangkan bahu Arumi
"Astaghfirullah cuma mimpi" Arumi beristigfar ternyata tadi hanyalah mimpi belaka
"Udah sampe nih"
Mendengar sudah sampai tujuan, Arumi seketika bangun dari tidurnya
Semua orang yang berada di mobil langsung turun tak terkecuali Arumi, ternyata Pak Irfan masih tidur di dalam mobil supirnya langsung membangunkannya
"Maaf ya, Pak Irfan ketiduran ngantuk banget. Hoaaam" Keluarlah Pak Irfan yang berusaha mengumpulkan kesadarannya
"Iya pak gapapa" Ucap salah satu orang di antara mereka
"Yaudah Ayo ke satpam dulu"
Pak Irfan dan para pelamar langsung ke pos satpam
Sudah seharian Arumi mengurus data-data untuk tanda tangan kontrak kerjanya,dan berlanjut mencari kos-kosan yang tak jauh dari lokasi pabrik sehingga memudahkan dirinya untuk masuk kerja agar tidak terlambat
Sibuk dengan kegiatan di kos-kosannya, mulai dari mencari kos sampai membersihkan kos yang sudah lama tidak di tempati ia lupa untuk mengabari keluarganya bahwa hari ini ia sudah mendapatkan tempat tinggal sementara. Dalam satu kos hanya ada 3 kamar kosong masing-masing ada dua orang yang menempati, Arumi satu kamar dengan Vita.
Malam harinya Arumi baru bisa memegang ponselnya untuk memberi kabar ke keluarganya, dan mereka sangat bersyukur karena Arumi sampai tujuan dengan selamat
Sibuk dengan memberi kabar keluarganya, ia melupakan Anwar yang sedari tadi sudah menunggu kabar darinya
"Arumi seharian ngapain aja?
Ehh dia aktif tapi kok nggak ngabarin aku sih" Anwar gusar setelah melihat nomor Arumi dalam mode aktif
"Coba aja aku langsung telfon aja kali ya"
"Jangan-jangan, mungkin dia sedang memberi kabar keluarganya. Harus sabar kamu Anwar!"
Satu jam berlalu
Dua jam berlalu
Anwar kesal dari tadi ia menunggu kabar dari Arumi padahal aktif nomornya tapi tidak memberi kabar. Tanpa basa-basi Anwar langsung menelpon Arumi
Tuuut... tuuut...
"Iya halo?" Arumi
"Aku Anwar, apa kamu lupa?"
"Iya aku tahu kalo ini nomor kamu, emang ada apa?"
"Aku kan tadi udah ngomong, kalo udah nyampe kabarin aku langsung"
"Hehe, iya maaf. Keasikan sih ngabarin yang dirumah"
"Ohh, udah ngabarinnya?"
"Udah kok"
"Emm, rum..." ucap Anwar sedikit menggantung
"Iya?"
"Jawaban tadi pagi gimana, kamu udah ada jawabannya belum?"
*
❣️❣️❣️