
Tok...Tok... Tok...
Suara pintu ketuk
"Sebentar nenek bukain dulu pintunya" Nenek Sri mendekati pintu dan membukanya
Ceklek
Nenek Sri memutar gagang pintu dan membukanya
"Siapa nek?" Tanya Arumi
"Ini ada nak Yuda Rum. Mari masuk nak" Nenek Sri mempersilahkan Yuda masuk ke ruangan Arumi
"Terimakasih nek" jawab Yuda sembari menundukkan kepalanya
"Mas Yuda, ada hal apa Anda kemari?" ucap Arumi sedikit gemetar memikirkan ada gerangan apa Yuda menjenguknya ke rumah sakit, mungkin ada brang yang tertinggal pikirnya
"Bukan kok Rum. Karyawan saya juga dirawat di rumah sakit ini, sekalian mampir. Hehe" bohong Yuda
"Karyawan?" Arumi mengernyitkan dahinya, bagaimana bisa Yuda mempunyai karyawan yang notabenenya ia juga seorang pedagang
"Maksudnya ya karyawan yang menjualkan kue dari nenek Sri ini, saya hanya sebagai resellernya" Yuda gugup merangkai kata yang sesuai untuk menjawabnya
"Maksudnya nak Yuda ini kan membeli kue nenek banyak, mungkin nak Yuda kuwalahan untuk menjualnya, jadi nak Yuda butuh karyawan lagi. Betul begitu pak Yuda?" tanya nenek Sri membantu menjelaskan
"Be-betul nek"
Begitu alasannya Yuda kepada Arumi, bagaimana bisa ia mempunyai karyawan untuk menjual kue. Sebenarnya Yuda membeli kue banyak dari nenek Sri hanya untuk di bagikan kepada anak-anak yatim piatu yang kunjungi setiap saat
Yuda datang ke rumah sakit tentu untuk menjenguk Arumi dan anaknya, entah mengapa ia tidak berani untuk berkata jujur. Mungkin ini alasan yang tepat agar ia tidak terlihat mengkhawatirkan Arumi
"Mas Yuda baik sekali, sudah menjenguk karyawannya segala. Pasti Mas Yuda sudah mengganggap karyawan mas seperti keluarga sendiri" Puji Arumi
"I-Iya Rum" lidah Yuda menjadi kelu tidak bisa berkata apa-apa lagi
"Emm boleh saya gendong anak kamu?" sambung Yuda
"Iya mas boleh" tanpa ba-bi-bu Nenek Sri langsung memberikan anaknya kepada Yuda
"Ini namanya ciapa?" tanya Yuda yang suaranya ia buat seperti anak kecil
"Muhammad Yusuf Mahardika, panggil saja Dika" jawab Arumi
"Nak Yuda, nenek boleh minta tolong?" ucap nenek Sri dengan ragu-ragu
"Minta tolong apa nek?" Yuda menjawab sembari menimang-nimang Dika
"Bisa menemani Arumi disini dulu tidak, nenek mau pulang sebentar mau mengurus Angga dan mau mencuci baju Arumi
"Iya nek nggapapa" jawab Yuda
"Nek baju Arumi nggak usah di cuci nanti Arumi cuci sendiri saja" Arumi
"Eh eh, orang yang baru melahirkan nggk boleh kerja berat-berat. Nanti jahitannya robek loh" Nenek menakut-nakuti Arumi
"Begitu ya nek" ngeri sekali jawaban nenek Sri
"Sudah ya, nenek mau pulang sebentar nanti sore nenek kembali lagi. Makasih ya nak Yuda"
"Iya nek, tidak usah sungkan-sungkan"
Nenek Sri langsung menuju ke pintu dan pulang untuk mengurus cucunya, benar Angga dititipkan ke tetangganya saat Arumi ke rumah sakit. Beruntung tetangganya menawarkan untuk mengurus Angga ketika nenek Sri berada di rumah sakit
Tinggallah 2 orang dewasa di ruangan tersebut Arumi dan Yuda, mereka sama-sama canggung dimana mereka juga belum mengenal terlalu jauh hanya sebatas kenal nama saja
"Ini sudah di adzani belum Rum?" sekian lama tanpa ada suara, Yuda mengawali percakapannya
"Belum mas, kata mbak Aisyah lebih baik di adzani oleh laki-laki. Jadi Arumi ingin meminta bantuan dokter laki-laki, tapi di sini kebanyakan perempuan" Arumi malu mengatakannya
Memang benar disana perawat serta dokter sebagian besar perempuan, tidak mungkin Arumi meminta untuk cleaning service untuk mengadzani anaknya. Nanti dimarahin atasannya, pikir Arumi
"Boleh mas adzani Dika?" tanya Yuda dengan hati-hati
"Boleh" seketika senyum di bibir Arumi mengembang, tentu hal itu tidak diketahui Yuda karena Arumi sudah memakai cadar
"Apakah ini jawaban dari-Mu?" dalam hati Arumi menatap Yuda yang sedang menimang-nimang anaknya
Ternyata Dika sudah tidur terlelap di gendongan Yuda, ia mendekati Arumi untuk membaringkan Dika di sebelahnya
"Ini Rum, Dika sudah tidur" pelan-pelan Yuda memberikan Dika agar tidak terbangun
Ternyata saat Yuda akan memberikan kepada Arumi, Dika malah terbangun dan menangis. Buru-buru Yuda mengambil dan menimang-nimang lagi
"Anak bunda kok nangis cih, kenapa sayang? Maunya di gendong cama om Yuda ya" Arumi mengelus pelan pipi anaknya
"Maunya deket telus cama om ya Dika" Yuda menjawab dengan suara anak kecil juga
Setelah Dika tidur kembali di gendongannya, Yuda mendekati Arumi. Sepertinya ada sesuatu yang ia ingin katakan
"Emm.. Rum" panggil Yuda dengan suara pelan tetapi masih terdengar ditelinga Arumi
"Iya mas?" Arumi mengangkat sebelah Alisnya pertanda ingin tahu ucapan selajutnya
"Kamu pulangnya kapan?" butuh 5 detik Yuda berkata lagi, tentu bukan kalimat itu yang ia ingin ucapkan. Tapi lidahnya yang sulit sekali untuk mengatakannya
"Insyaallah besok mas"
"Besok mas jemput ya"
"Ah, nggak usah mas nanti merepotkan lagi. Saya sudah merepotkan mas beberapa kali kok"
"Nggak masalah, mas hanya menolong saja"
"Kalau mas nggak keberatan, baiklah"
"Pulangnya jam berapa?"
"Belum tahu, mungkin menunggu pembayaran administrasinya"
"Udah gue bayarin semuanya, ngapain masih nunggu pembayaran administrasi?" tanya Yuda dalam hati
"Oh gitu" jawab Yuda, tidak mungkin ia berkata jujur jika dirinya sudah membayarkan biaya Arumi selama di rumah sakit nanti bisa-bisa akan menjadi perang dunia ketiga
"Sini mas Dikanya, nanti mas kecapean" Arumi mengulurkan kedua tangannya
Tanpa jawaban Yuda langsung memberikan Dika ke Arumi, pelan tapi pasti Dika sudah tidur berada di samping ranjang Arumi tanpa terbangun, sepertinya babyboynya sudah capek
"Mas Yuda kalau mau pulang silahkan, nggak usah nunggu nenek Sri kembali. Arumi sendirian nggapapa kok" Arumi mempersilahkan Yuda untuk pulang
"Nggak papa Rum" Yuda duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut
"Memang Mas Yuda nggak kerja?"
"Sekali-kali libur satu atau dua hari lah, nenek Sri juga belum bisa berjualan kan? nanti mau dapat kue darimana?yah itung-itung istirahat. Hehe" alasan Yuda, tetapi sebenarnya ia ingin menemani Arumi disini
"Nanti kalau pembeli Mas Yuda nyariin loh" goda Arumi
"Ada-ada saja, mas kalau berjualan juga pindah-pindah kok. Udah mas bagi-bagi tempatnya"
"Terus para karyawan mas bagaimana?"
"Haduh, Arumi nanya terus nih. Makin berdosa gue, maafkan hamba mu ini ya Allah" gusar hatinya Yuda dikala harus berbohong untuk beberapa kali
"Udah mas telfon tadi" Yuda mengangkat ponselnya
"Yasudah, mas kalau kecapean tidur aja"
"Iya Rum, kamu juga harus banyak istirahat. Tidurlah nanti Nenek Sri sudah kembali akan saya beritahu"
"Iya mas" Arumi menggeser-geser tubuhnya untuk mendapatkan posisi yang nyaman agar anaknya tidak terganggu
Sembari menunggu nenek Sri kembali lagi ke rumah sakit, Yuda mengotak-atik ponselnya untuk mengecek berkas-berkas perusahaan yang telah dikirim oleh asistennya lewat email
***
Alhamdulillah sekian lama author gantungin ceritanya, akhirnya author bisa melanjutkan lagi 😂
Makasih ya Kaka udah mau setia di novel author, semoga kaka-kaka sehat selalu ❣️❣️❣️