ARUMI

ARUMI
Di terima



Tika duduk di samping Arumi


"Dek, kakak mau ngmong sama kamu" ucap Tika dengan serius


"Ngomong apa kak" Arumi menghentikan kegiatan menghapus make up-nya


"kemaren ada Bu Ina nanyain kamu masih sekolah nggak, kakak jawab mungkin udah libur kan habis ujian"


"Nanyain gimana?"


"Kamu mau nggak kerja di tokonya Bu Ina, tokonya di sebelah Apotek 'A'"


"Jadi apa kak?"


"Mungkin jadi kasir, urusan mengangkat barang udah ada orang lain "


"Kapan itu?" ucap Arumi sambil melanjutkan kegiatan tadi yang sempat tertunda


"Nunggu kasirnya ambil cuti, dia mau berhenti kerja dulu katanya pengen fokus ke lahiran anak pertamanya"


"Masih lama ya"


"Nggak tau sih, nanti kakak nanya dulu ke Bu Ina"


"Iya kak"


"Sambil nunggu panggilan, kamu bantuin kakak menjahit ya, lumayan loh buat tabungan sedikit-sedikit"


"Siap dong"


***


Keesokan harinya, Arumi mendapat pemberitahuan dari pihak sekolah bahwa ada beberapa siswi yang lolos masuk di salah satu pabrik ternama di kota J


Sebenarnya Arumi mendaftar bukan hanya Pabrik satu saja melainkan bercabang, tentu sebagai cadangan kalau tidak di terima


Arumi menarik ulur tabel yang dimana tabel tersebut daftar nama siswa-siswi yang di terima di Pabrik. Alangkah bersyukurnya Arumi ternyata disana ada namanya yang tertera pada tabel. Seketika Arumi langsung menangis bahagia, ia langsung memberitahukan kepada Ayah Ibu serta kakaknya


"Kak.. kak.." teriak Arumi


"Ada apa dek?" dengan rasa khawatirnya


"Aku.. aku di terima di pabrik xx"


"Alhamdulillah, kapan berangkatnya?"


"Katanya 2 Minggu ini kita bisa langsung mengikuti training"


Tika kaget atas keberangkatan adiknya yang terlalu cepat. Mana mungkin dalam 2 Minggu ini punya pesangon untuk keberangkatannya


"Gimana kak?" nada Arumi mulai menurun


"Kamu udah punya pesangonnya untuk ke sana?"


"Ya belum sih" Ucap Arumi yang di selimuti rasa kecewanya


"Lebih baik kamu cari kerja lagi untuk 2-3 bulan ke depannya, kalo kakak nggak punya uang untuk pesangon kamu. Kamu tau kan ini juga butuh modal yang banyak belum lagi kebutuhan sehari-hari" jujur Tika kepada sang adik karena untuk pergi merantau akan membutuhkan pesangon yang banyak tidak mungkin Arumi kerja langsung dibayar dimuka


"Pinjemin sama saudara dong kak" Arumi dengan mata berkaca-kaca


"Aku nggak berani dek, kalo kamu kerja 2-3 bulan mungkin kamu udah punya simpanan untuk merantau" Tika dengan nada tegas


"Nggak bisa kakak!" Tika menghidupkan mesinnya dan mulai menjahit


Arumi cepat-cepat berjalan menuju ke kamarnya menutup pintu kamar dengan sangat keras.


"Astaghfirullah" Tika mengelus dada mendengar Arumi membanting pintu kamarnya


"Maafin kakak dek, kakak nggak bisa bantu" Tika yang mulai meneteskan air matanya


Didalam kamar, Arumi menangis sesenggukan, mengobrak-abrik Kasurnya sehingga seperti kapal pecah


"Ya Allah, aku mohon bantu aku untuk memulai masa depanku. Aku janji bakal bahagiain orang tua aku Ya Allah"


"Ini tuh dah fix bisa masuk kerja, kalo nunggu 2-3 bulan bakal nunggu lebih lama. belum lagi mengikuti tes-tesnya, itu juga belum tentu di terima nggaknya. Terus belum lagi nunggu panggilannya lagi"


"Kalo aku nunggu 2 bulan pasti tetangga ngomong kok belum kerja, belum gini belum gitu. Aaaaa..."


"Ya Allah, ini tuh udah fix. UDAH FIX!"


"Hiks.. Hiks.. Hiks.." Di dalam kamar, Arumi menangis sejadi-jadinya tanpa mengeluarkan suaranya.


Sejujurnya Arumi punya simpanan tapi tidak mungkin cukup untuk membiayai di sana. Belum juga bayar keberangkatan, tempat tinggal, peralatan, tentu untuk makan sehari-hari nya.


Ningrum yang baru saja pulang dari kerjanya sedari tadi tidak melihat batang hidung Arumi


"Loh Ka, adikmu kemana kok nggak kelihatan"


"Di kamar dia. Bu aku mau bicara"


"Apa?" Ningrum menarik kursi agar bisa duduk di samping Tika


"Tadi Arumi dapat panggilan, kalo dia masuk di pabrik xx"


"Bagus dong"


"Masalahnya, apa ibu punya uang untuk merantau Arumi?"


"Belum, ibu aja belum gajian"


"Astaghfirullah, kasihan anakku" Batin Ningrum yang tau maksud dari Tika


"Tika juga nggak punya Bu . Nggak mungkin kan aku minta ke Mas Dayat? Dia juga butuh untuk uang untuk urusannya Bu" Tika menjelaskan


Ningrum sambil memikirkan jalan keluarnya, sebenarnya ia juga tidak punya simpanan


"Oh ya, aku masih punya anting-anting ini di jual untuk pesangon Arumi"


"Yaudah, aku mau nengok Arumi dulu" Ningrum berdiri dari duduknya dan berjalan ke kamar Arumi


'Ceklek.. Suara pintu kamar Arumi terbuka, ternyata Arumi lupa. mengunci pintunya


"Aduh aku lupa kunci pintunya" Umpat Arumi yang kepalanya berada di bawah bantal


"Nak.." Ucap Ningrum sambil mengelus tangan Arumi yang ada di atas bantal


Udah nyesek apa kurang nyesek?


Aku nulis ini mata aku berkaca-kaca,


kalo kalian yang baca gimana??