ARUMI

ARUMI
Pamit



Happy reading Kaka❣️


***


Hari demi hari


Minggu demi Minggu


Kini tepatnya Arumi datang ke Pabrik xx untuk melaksanakan kegiatan training yang memakan waktu selama satu bulan.


Pagi buta Arumi bersiap-siap untuk pergi ke kota J, dikira sudah siap semuanya kini Arumi berpamitan kepada orang rumahan


"Bu, aku pamit dulu ya" Arumi berpamitan ke Ningrum, sebenarnya ia tidak rela berjauhan dengan ibunya


"Iya nak, yang hati-hati di sana, jangan macem-macem sama orang yang nggak kamu kenal" Ningrum mencoba menahan tangisannya tapi sia-sia air matanya kini sudah menetes di pipinya


"Ibu jangan nangis dong, aku di sana kan sama temen-temen aku. Udah jangan khawatir aku pasti bisa jaga diri baik-baik kok" Arumi menenangkan ibunya yang sepertinya tidak rela jika anak bungsunya akan merantau untuk bekerja


"Ibu nggak nyangka saja, kamu sudah besar sekarang. Baru kemarin ibu manja-manjain kamu kini kamu sudah mau mandiri" Ningrum mengelus tangan Arumi


"Iya, makasih ya Bu, Arumi mau minta maaf udah ngrepotin Ibu"


"Huss, kamu ngomong apa sih. Kamu tuh anak ibu sendiri nggak usah ngomong kek gitu, ibu ikhlas kok. Kalo bisa di repotin tiap hari juga nggak papa"


"Iih Ibu!" Arumi memeluk Ningrum cukup lama


"Nak, kamu di sana jaga diri baik-baik loh. Katanya di kota J sana orangnya keras-keras, jangan sampe kamu punya musuh di sana. Paham?" ucap Ningrum yang masih memeluk erat Arumi


"Ibu juga jaga diri baik-baik di rumah, ibu kan sudah tua kalo ibu capek jangan paksain kerja ya" Arumi mengangguk


"Iya sayang" Ningrum melepaskan pelukannya yang cukup lama


"Ayah, aku pamit ya jaga kesehatan ayah jangan capek-capek" Arumi bersalaman dengan ayahnya, Dian


"Iya Rum, hati-hati di sana" hanya kata itu yang di lontarkan oleh Dian


"Maafkan ayah nak, ayah nggak bisa bantu kamu. Pasti kamu ini butuh uang untuk merantau dan memenuhi kebutuhanmu sebulan ini, Ayah memang nggak berguna membiarkan anak bungsunya merantau jauh dari keluarganya. Maafkan ayah nak, maafkan ayah" Dengan mata berkaca-kaca Dian ingin sekali mengatakan umpatannya dalam hati tapi lidahnya seakan kaku hanya sekedar untuk mengucapkan


"Nak!"


Arumi yang hendak keluar rumah Tiba-tiba Dian memanggilnya, Arumi berbalik mendekat ke ayahnya


"Kalau kamu capek kerja, jangan paksain untuk tetap kerja. Kalau capek pulang saja, cari kerja yang dekat dengan rumah. Nggak ada orang tua yang ingin berjauhan dengan anaknya" Entah darimana kalimat yang di lontarkan oleh Dian yang tiba-tiba muncul di benaknya


Sebuah tamparan keras dari ucapan Dian untuk Arumi, dimana ia merantau untuk masa depannya yang lebih baik. Semua itu juga hanya untuk membahagiakan kedua orang tuanya dan ingin memperbaiki nasib di kemudian hari


"Iya nak, jangan paksain kerja terus. Dan jangan lupa sholat lima waktunya" Ningrum mengingatkan untuk tetap melaksanakan sholat lima waktu


"Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu nak"


Batin Ningrum


"Anakku sudah besar, sudah mencari uang sendiri. Apapun pekerjaanmu, Ayah bangga memiliki anak sepertimu yang mau bekerja keras" Batin Dian


Karena Arumi mendaftar kerja lewat jalur BKK sekolahnya, sehingga keberangkatannya juga bersama-sama dengan orang yang di terima di pabrik xx. Arumi di antar oleh kakak iparnya sampai ke terminal


"Berhenti di sini kak" ucap Arumi


Dayat menepika motornya dan mematikan mesinnya karena sudah sampai di tempat yang di janjikan oleh pihak sekolah


"Ini Rum, buat kamu untuk jaga-jaga" Dayat mengeluarkan dua lembar uang kertas seratus ribuan


dan menyodorkan ke arah Arumi


"Apa ini kak"


"Buat jaga-jaga di sana"


"Nggak usah deh kak, ini Arumi juga udah ada kok untuk di sana. Kakak simpan aja buat kebutuhan sehari-hari" Arumi menolak secara halus


"Nggak papa Rum, ambil aja"


"Uangnya buat memperbaiki mesin obrasnya kak Tika aja, kemarin katanya dinamonya ada yang rusak"


Memang benar kemarin Tika menjahit seragam tiba-tiba tidak bisa digunakan lagi sehingga Tika mondar mandir ke toko untuk mengobraskan seragam yang lumayan banyak


"Ya sudah, kakak gunakan untuk mesin jahitnya saja. Kamu baik-baik di sana, jaga suka sikap kamu terhadap lawan jenis" Dayat menarik lagi uang yang sempat ia sodorkan ke Arumi


"Apaan sih kak, aku niatnya cuma mau kerja doang kok"


"Ya siapa tau ketemu jodohnya. Hehe" Goda Dayat


"Udah ya kak, mau kumpul-kumpul ke sana dulu. Assalamualaikum" Arumi menyalami kakak iparnya dan Dayat langsung pulang ke rumah


Arumi berjalan ke sekelompok yang sejak dari tadi sudah lama menunggu si Pak Irfan selaku pimpinan BKK di sekolahnya yang belum kunjung datang


Dengan samar-samar Arumi seperti melihat seseorang yang mungkin tidak asing baginya, kemudian ia mendekati seseorang tersebut untuk memastikan siapa orang tersebut


Tap..Tap..Tap.. Suara Arumi berjalan


"Arumi!"


❣️❣️❣️