ARUMI

ARUMI
BabyBoy



Arumi diantar oleh Yuda, serta nenek Sri yang mengikuti di belakangnya. Dengan rasa khawatir dan cemas sudah bercampur aduk, takut akan terjadi sesuatu dengan bayinya. Angga mengikuti serta membawa perlengkapan bersalin milik Arumi yang hari-hari lalu sudah dipersiapkan hanya tinggal membawanya


Di dalam perjalanan Arumi tak henti-hentinya meringis kesakitan, disayangkan nenek Sri duduk berada di belakang karena Yuda memakai mobil pick up


"Sabar ya Rum, kita akan segera sampai kok" kata Yuda yang bergetar takutnya Arumi melahirkan didalam mobil


"Iya maaas" Arumi harus bisa tahan lebih dulu


Yuda melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia menyelip mobil yang lainnya meskipun para pengendara membunyikan klaksonnya agar Yuda lebih hati-hati. Suara klakson pun tidak mempengaruhinya, yang ada di fikiran Yuda harus segera sampai di rumah sakit


Setelah menempuh puluhan menit, mereka sudah sampai di halaman depan Puskesmas terdekat. Yuda langsung keluar dan membantu Arumi masuk ke dalam ruangan, sedangkan nenek Sri mengurus admistrasi ke resepsionis


"Dokter! Dokter!" Yuda menggendong Arumi dan memanggil dokter


"Mari pak baringkan disini" yang datang bukan dokter melainkan perawatnya, ia mengarahkan ke Yuda supaya Arumi dibawa ke ruangan bersalin


Arumi dibaringkan di brankas, lalu Yuda hendak keluar dari ruangan tersebut tetapi ditahan oleh seorang bidan


"Maaf Pak, lebih baik bapak menemani istri bapak didalam" Suster menunjuk Arumi dengan tangannya


"Tapi saya bu-"


"Aww... Masy-" Pekik Arumi merintih kesakitan


"Allah" Arumi hanya bisa melanjutkan katanya hanya dalam hati karena tak kuasa ia bersuara lagi


Di dalam pikiran Yuda bahwa Arumi memanggilnya, padahal bukan. Yuda berdiri mematung antara menemani Arumi didalam atau menunggu diluar


"Mari Pak!" Suster lagi-lagi mendengus kesal. Bagaimana seorang suami diam mematung melihat istrinya akan melahirkan, pikir suster


"A-ayo" Yuda tersadar langsung mendekati Arumi yang berbaring di keranjang pasien


Dag-dig-dug


Didalam ruangan tersebut tampak semua orang tegang, bagaimana tidak tegang orang yang akan melahirkan ia memakai cadar tentu akan membuat bidannya tidak enak karena harus menyingkapkan rok ke atas agar mempermudah cara bersalinnya untung di sana tidak ada laki-laki kecuali Yuda


"Maaf ya Bu roknya saya angkat ke atas" ucap nian dengan sopan yang dijawab Arumi dengan anggukan kepala


"Pembukaannya sudah sempurna, Mari Bu dorong lagi"


Alangkah terkejutnya bidan melihat jika pembukaannya sudah 10, bagaimana bisa? pasti dalam perjalanan pasti terasa sangat sakit


"Ayo Bu dorong terus" suster juga ikut menyemangati


"Eeeeggggrhhh... Huh hah


"Eeeeggggrhhh.... Sakit susteeer" Arumi kesakitan


"Ayo Bu dorong, sudah hampir kelihatan" kata bidan


"Huh hah, Eeeeggggrhhh!!" Arumi mengejan kembali


"Haduh bayinya malu ini Bu langsung masuk kedalam lagi" canda bidan


"Eeeeggggrhhh, Arumi sekuat tenaga mencekram apa yang ia raih, keringat di keningnya tercucuran apalagi kedurung serta bajunya dibasahkan oleh keringatnya sendiri


Dilihatnya Arumi memegang kepala ranjang dengan kuat, suster sangat geram dengan Yuda yang hanya duduk berjongkok di dekat Arumi, biasanya para suami akan menggenggam erat tangan istrinya dan memberi semangat untuk melahirkan


"Mohon bapak beri semangat untuk istrinya" suster tetap tersenyum ramah walaupun dalam hatinya kesal dengan Yuda


"Bagaimana ini, kalau pegang tangannya nanti Arumi berfikiran yang tidak-tidak kan kita belum muhrim. Maafkan aku Ya Allah" dalam hati Yuda gusar bagaimana cara memberi semangat ke Arumi, dalam fikirannya ah bodoamat yang penting Arumi bisa melahirkan dengan baik


Diraihnya tangan Arumi, Yuda mulai menggenggam serta tangan kanannya mengelus pucuk kepala Arumi. Tanpa disangka Arumi malah menerimanya uluran tangan Yuda dan mulai menggenggam erat


"Ayo, kamu pasti bisa" bisik Yuda di telinga kiri Arumi, dan Arumipun hanya bisa mengangguk


" Eeeeggggrhhh


"Oek... oek... oek...


bayinya pun sudah keluar


"Alhamdulillah" ucap serentak


"Selamat ya Bu pak, anaknya laki-laki" puji bidan


Yang dilirik hanya bisa diam, bagaimana bisa mirip dengannya ayahnya saja bukan dia


"Makasih sus" Yuda terkejut saat Arumi mengucapkan terimakasih padahal ia tahu bahwa Yuda bukanlah ayahnya kenapa ia mengucapkan terimakasih segala?


"Setelah kami bersihkan bayinya nanti Bapak di adzankan dulu ya. Permisi" Bidan membawa baby-nya untuk dibersihkan


Setelah semua orang keluar tinggallah didalam ruangan hanya Arumi dan Yuda. Yuda diam mematung melihat punggung para perawat keluar dibalik pintu, kini rasanya canggung sekali hanya berduaan dengan Arumi dalam satu ruangan


Arumi sedang mengatur nafasnya agar bisa normal kembali, untuk mengejan saja ia butuh tenaga yang besar agar sang malaikat keluar dari perutnya. Begini rasanya seorang ibu mempertaruhkan nyawanya, Arumi menangis kala mengingat yang dahulu pernah membentak ibunya karena hal sepele


"Hiiiks... Hiiiks...


Arumi menangis


"Eh, kok nangis. Iya-iya nanti aku adzani kok" Yuda yang merasa tidak enak karena belum mengiyakan kata bidan tadi


"Makasih ya mas" dalam hati Arumi itu bukan yang di permasalahan tetapi ia mengiyakan saja daripada Yuda bertanya yang bukan-bukan


Pintu terbuka memperlihatkan perawat membawa babynya Arumi yang sudah dibersihkan dari lumuran darah, kini dibaluti dengan selimut seperti kepompong. Ah gemesnya


"Mari di adzkan dulu" Perawat menyerahkan bayi yang digendongnya


"Terimakasih sus" Yuda mengambil alih baby kemudian ia gendong, didekatkan mulut Yuda di telinga kanan baby tersebut lalu


"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Asyhadu allaa illaaha illallaah


Asyhadu allaa illaaha illallaah


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alalfalaah


Hayya 'alalfalaah


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Laa ilaaha illallaah"


Setelah mengadzani BabyBoy Yuda langsung mengecup keningnya lalu berdoa. Entah mendoakan apa hanya Yuda dan Tuhan yang tahu, kalo author sih juga kurang tahu. Hehe


Mendengar anaknya di adzani orang lain yang notabenenya bukan ayah kandungnya, Arumi dibuat menangis seharusnya ayah dari baby-nya yang mengadzani. Yang menjadi pertanyaan adalah Arumipun juga tidak tahu siapa ayah dari BabyBoy yang baru saja ia lahirkan


"Mas, mau gendong" ucap Arumi membuat Yuda tersentak menyudahi mengecup BabyBoy kemudian ia berjalan ke ranjang Arumi


"Maaf ya Rum" Yuda merasa bersalah karena ia tidak cepat-cepat memberikan BabyBoy ke ibu kandungnya sendiri. Kalo begini Yuda ingin sekali mempunyai baby, pikir Yuda


"Nggak papa" Arumi sembari mengambil baby-nya untuk segera ia susui


"Mas Yuda boleh keluar sebentar? Arumi ingin menyusui dulu" ucap malu-malu Arumi


"Baiklah" dengan berat hati Yuda keluar ruangan


Setelah Yuda keluar, Arumi buru-buru membuka resleting pakaian pada bajunya. Ia sangat lihai menyusui anaknya, jelas lihai karena dalam masa mengandung ia juga mengikuti program-program ibu hamil di desa tersebut walaupun semua para ibu yang di sana mempertanyakan jika Arumi datang hanya seorang diri lantas dimana suaminya tersebut?


***


Hay Hay Kaka


Author up date lagi nih, semoga suka ya imajinasinya Author. Kalo ngerasa kurang gimana-gimana boleh kok tulis di kolom komentarnya


Dan jangan lupa likenya agar author semakin semangat untuk mengarang cerita ❣️❣️❣️