ARUMI

ARUMI
Anak Jaman Sekarang



Sekian lama menunggu dokter Dharma keluar dari ruang operasi dengan wajah yang susah di tebak


Ceklek


Mendengar pintu ruang operasi di buka, semua orang yang menunggu reflek berdiri lalu menghampiri sang dokter


"Bagaimana operasi anak saya dok?" tanya Ningrum dengan mata sembabnya


"Anak ibu baik-baik saja, Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar" ucap dokter


"Alhamdulillah" jawab serentak


"Apa bisa langsung di jenguk?" Tini saudara Ningrum


"Nanti Bu, kita belum memindahkan pasien ke ruang inap. Mohon tunggu sebentar saja, untuk menjenguknya cukup satu dua orang tidak apa-apa, tapi jangan membuat keramaian terlebih dahulu agar si pasien bisa istirahat total"


"Baik dok"


"Kalau begitu saya permisi" pamit sang dokter


"Iya, Terimakasih ya dok"


"Tidak perlu sungkan Bu, itu sudah kewajiban saya"


Dokter Dharma menundukkan kepalanya dan langsung pergi meninggalkan mereka


Bu Ningrum dan yang lainnya ikut menunduk pertanda memberi hormat kepada sang dokter. Dokter Dharma langsung pergi ke ruangannya Karena sudah ada seseorang yang menunggu sejak dari tadi


"Sudah lama kamu?" ucap Dokter Dharma setelah masuk ke ruangannya


"Baru satu jam Paman" Arya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya


"Cih, Satu jam kok baru" dokter Dharma melepaskan jasnya di kursi kebanggaannya


"Daripada paman operasi paman lebih lama mana" Sindir Arya


"Namanya juga operasi wajarlah lama" Dharma duduk di depan meja kerjanya


"Ngomong-ngomong soal operasi, tadi lancar kan paman?" Arya menegakkan punggungnya untuk lebih dekat dengan pamannya


"Lancar dong, siapa dulu dokternya" dokter Dharma menyibakkan kerah bajunya


"Dokter Dharma paman dari ARYA WIGUNA" ucap Arya yang memperjelas kata namanya


"Bangga kamu?"


"Bangga dong.


Kira-kira dia pulihnya sampai kapan om?"


"Mungkin Kurang lebih satu Minggu" dokter Dharma mengelus dagunya pertanda seperti berfikir


"Kok lama sih?" kata Arya yang melemas sembari menyenderkan punggungnya di kursi


"Memang lama, supaya matanya bisa beradaptasi dengan saraf-sarafnya"


"Kaya hewan aja pake acara adaptasi segala"


"Kamu ini pintar dalam dunia bisnis tapi kalah tentang kedokteran"


"Namanya juga bukan keahlianku om"


"Terus kamu kapan terbang ke Spanyol?"


"Akhir bulan ini"


"Pacar kamu udah tahu?"


"Nggak punya pacar aku"


"Tuh yang sedang operasi tadi siapa?"


"Itu namanya Arumi, karyawan di pabrik aku bukan pacar"


"Tapi ada rasa kan? Hmm?" Dokter Dharma memajukan kepala dan menggerak-gerakkan alisnya


"Apaan sih om Dharma ini!"


Kriing...


Suara panggilan di ponsel Arya


"Bentar om, papa nelfon. Aku angkat sebentar ya"


Kata Arya setelah melihat panggilan dari Papanya


kemudian Dharma menganggukkan kepalanya pertanda segera menyuruh untuk mengangkat


Arya menggeser tombol warna hijau untuk menjawab panggilan. Ia memutar kursinya untuk menghadap ke samping


"Iya halo Pa?" Arya mengawali percakapan di telfon


"Pulang sekarang!" Wiguna dengan suara keras


"Kenap pa?" Arya dibuat pusing mendengar Papanya seperti sedang marah


"Kamu siap-siap sekarang, nanti sore kamu ke sini" Wiguna mulai bisa mengontrol emosinya


"Spanyol"


"Loh, bukannya akhir bulan ini pa? Kan masih ada waktu Arya di sini"


"Papa nggak mau tahu, kamu harus sudah sampai di Spanyol besok pagi-pagi dan ketemu papa Ada yang papa bicarakan sama kamu!"


"Bicara di telfon kan bisa pa, Arya nggak harus ke Spanyol kan?"


"Nggak bisa"


"Papa jangan seenaknya dong!"


"Kalo kamu nggak mau nurut sama papa, akan papa beri pelajaran sama keluarga Arumi itu!"


"Pa, plis jangan libatkan keluarga Arumi. Mereka nggak tahu apa-apa"


"Kan Arumi terlibat dari permintaanmu kemarin? Apa kamu mau matanya yang baru saja di pasang di lepaskan lagi?" Ancam Wiguna


"Shit!


Oke, Oke! Arya sore nanti akan terbang ke Spanyol" Arya pasrah akan permintaan sang papanya


Tuuut..


Sambungan telepon terputus


"Ada apa Arya?" Tanya sang dokter Dharma


"Arya harus ke Spanyol nanti sore om"


Arya menyenderkan kepalanya di kursi


"Bukannya masih beberapa Minggu lagi? kenapa kok di percepat?"


"Tidak tahu, papa aja yang suka ngatur sana-sini" Arya menjambak rambutnya sendiri


"Yasudah, turuti saja kemauan papa kamu. Nanti dia bisa murka nanti jika kamu tidak menurut perkataannya"


ucap Dharma yang sepertinya sudah mengerti sifatnya Wiguna


"Aku bingung om" Arya memijat pelipisnya


"Bingung kenapa?"


"Arumi belum pulih, aku harus memastikan kalau dia sudah bisa melihat lagi"


"Itu juga butuh waktu Arya, tidak bisa langsung melihat seperti biasanya"


Huuufts


Arya menghembuskan nafasnya


"Yasudah, saya akan terbang ke Spanyol sore ini. Arya titip Arumi ya om, pastikan dia sudah bisa melihat lagi"


"Itu sudah kewajiban om sebagai dokter Arya, jadi tidak usah di khawatirkan"


"Arya pulang dulu om, udah mau sore" Arya melihat jam di tangannya, ia beranjak dari kursi sembari sembari menyibakkan jas yang di kenakan



"Iya hati-hati, Om nitip salam sama papa kamu. Nanti kalau sudah sampe di Spanyol bilangin kapan mau menjenguk kakak tersayangnya di Indonesia"


"Siap om!" Arya langsung berbalik badan dan berjalan ke arah pintu


Ternyata ruang Dokter Dharma melewati ruang Arumi dimana Arumi sudah dipindahkan di ruang inap berkelas ekslusif tentu tanpa sepengetahuan dari pihak keluarganya karena Arya yang meminta kepada pamannya untuk dipindahkan di ruang tersebut


Saat Arya melewati ruang inap Arumi, ia sengaja mengintip dari luar jendela. Arya melihat Arumi sedang duduk bersandar di dinding sepertinya suasananya kian membaik yang bisa dilihat dari raut wajahnya


"Bu, Arumi udah nggak sabar nih bisa lihat lagi" ucap Arumi dengan senyuman yang merekah


"Iya nak, sabar aja ya pasti sembuh kok" Ningrum yang sibuk merapikan barang-barang yang ada di meja nakas


"Kira-kira berapa lama lagi perban ini di buka?" Arumi memegang perban yang berada di kepalanya


"Kata dokter 3 hari Samapi satu minggu Insyaallah bisa pulih" Ningrum mendekati Arumi


"Beneran Bu? Udah nggak sabar aku"


"Iya nak, ibu juga" Ningrum memeluk erat anak bungsunya


Dari luar jendela, Arya tak sengaja melihat interaksi antara ibu dan anaknya yang sangat dekat. Beda dengan dirinya yang memang sudah sejak dari kecil ia sering di tinggalkan oleh orangtuanya untuk pekerjaan


Senyum terbit di wajah Arya, betapa senangnya jika ia berada di posisi tersebut. Tentu ia rela sakit demi mendapatkan perhatian khusus dari orangtuanya


"Mungkin aku akan bertambah senang jika berada di posisimu rum, semoga kamu cepat sembuh dan bisa melihat lagi seperti dulu. Aku pamit rum, jaga kesehatan selalu ya" Tangan Arya menyentuh kaca yang sepertinya ingin menyentuh tubuh Arumi


Dari kejahuan ada dokter Dharma yang baru saja keluar dari ruangannya ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak sengaja melihat keponakannya sedang di depan jendela ruang inap Arumi


"Dasar anak jaman sekarang!" Dokter Dharma


***


Duh anak jaman sekarang mah bisanya lihat dari kejahuan tanpa mau menyapa. Hihihii


Sehat-sehat terus ya Kaka ❣️❣️❣️