
Saat Arumi ingin berdiri tiba-tiba kepala Arumi merasa pusing dan samar-samar melihat di sekitarnya, lama kelamaan pandangannya mulai kabur dan
Bruuuk...
"Arumi!" teriak Anwar langsung mendekati Arumi
Anwar memangku kepala Arumi, Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Anwar langsung menggendong tubuh Arumi ke tempat yang lebih aman lagi.
"Rum bangun!" Anwar menepuk-nepuk pipi Arumi setelah di pindahkan
"Ini mas ada minyak kayu putih, oleskan aja di hidungnya" tawar seorang ibu-ibu yang tak jauh berada di tempat Anwar
"Baik Bu" Anwar mengambil minyak kayu putih dari sodoran ibu-ibu tadi
Anwar mengoleskan minyak kayu putih di sekitar hidungnya tak lupa di kedua telapak tangan juga. Dari cara penanganan yang Anwar ketahui dari pelatihan, pada bagian perut harus di longgarkan sedikit dan tak lupa bagian leher di buka agar saluran pernapasan lancar
Tapi berbeda dengan lawan jenis tidak mungkin Anwar berbuat senonoh mengingat mereka berada di tempat yang terbuka, sehingga Anwar hanya melepaskan peniti yang digunakan untuk pengait hijab Arumi
Anwar juga memberi aroma minyak kayu putih di depan hidung dan sekitarnya agar Arumi bisa bernapas lega
"Kalo kejadian ini terjadi aku nggak mungkin mengajak kamu untuk keluar panas-panas begini. Maafkan Aku Arumi yang sudah membuat kamu jadi seperti ini" Rasa menyesal Anwar yang sudah mengajak Arumi keluar rumah
Dalam hati Anwar selalu menyalahkan dirinya sendiri, sudah tahu Arumi baru saja operasi kenapa juga ia ajak untuk keluar jalan-jalan pada siang hari
Tak lama kemudian Arumi siuman, ia menggerak-gerakkan matanya tetapi masih dalam mata terpejam. Mengetahui itu, Anwar langsung siap siaga kalau terjadi sesuatu
"Arumi!" Anwar mengelus-elus tangan Arumi
"Ehhmm" Pelan-pelan Arumi membuka matanya
"Kamu sudah siuman?" Anwar
"Sss...Sakit" Arumi memegang kepalanya yang mungkin terasa pusing
"Tadi kamu pingsan. Apa perlu kita ke rumah sakit?" tawar Anwar
"Nggak usah, cuma pusing aja. Mungkin karena kepanasan tadi" tolak Arumi
"Yakin?" Anwar menyakinkan
"Iya, udah gapapa kok" Arumi memaksakan tetap senyum agar Anwar tidak merasa terlalu khawatir
"Ini minum dulu" Anwar menyodorkan botol minuman ke Arumi tadi tadi di beli
Arumi perlahan bangun dan duduk bersandar di dinding
kemudian mengambil botol minuman yang di sodorkan oleh Anwar
"Makasih ya" ucap Arumi setelah meneguk air mineral
"Maaf ya Yang?" Tiba-tiba Anwar meminta maaf
"Atas?" Arumi mengerutkan keningnya
"Udah aku ajak keluar tahu-tahunya jadi begini padahal kamu baru saja di operasi" Anwar menundukkan kepalanya
"Nggak kok, justru aku yang minta kita pergi ke pantai udah tahu ini siang hari" Arumi dengan tersenyum kecut
"Kok pada nyalahin diri sendiri sih" Anwar juga ikut tersenyum kecut
"Kepalamu masih terasa pusing?" sambung Anwar sembari menyentuh kepala Arumi
"Udah mendingan" kata Arumi sembari memijit pelipisnya
"Kita ke rumah sakit aja ya?" Anwar yang sepertinya khawatir
"Nggak usah, gapapa kok" lagi-lagi Arumi menolak untuk di bawa ke rumah sakit
"Kenapa sih Yang, tuh muka kamu pucet banget" Anwar memegang dagu wajah Arumi
"Udah ah, aku beneran gapapa. Aku laper makan yuk" Arumi menepis tangan Anwar dan mencoba mengalihkan pembicaraan agar Anwar tidak terlalu fokus dengan dirinya
"He um, aku tahu ini pasti kamu kelaparan kan makanya terus pingsan" Anwar menyentil hidung Arumi
"Iya deh iyain aja" Arumi mengelus hidung bekas sentilan Anwar
"Yaudah ayo makan" Anwar menarik tangan Arumi
Mereka berjalan mencari warung di pinggir pantai, tentu dengan alasan Arumi merasa lapar ternyata mudah mengelabui Anwar. Sebenarnya ia merasa pusing sangat hebat dan tiba-tiba pandangannya mulai kabur tak sadarkan diri
"Kita makan dimana?" tanya Anwar ke Arumi saat mereka mulai berjalan
"Terserah" Arumi memainkan kakinya untuk menendang-nendang pasir
"Disini atau di warung makan?"
"Di sini aja, biar nggak repot-repot nyari tempat lagi"
"Mana ya yang tempatnya sepi, rame semua ini padahal siang-siang loh pada nggak pulang apa?" gerutu Arumi di sepanjang jalan
Mendengar kekasihnya ngomel sendiri, Anwar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menahan tawanya agar tidak bersuara
"Kamu kenapa?" Arumi mengetahui jika Anwar terlihat ingin tertawa
"Emang kenapa muka aku?" Arumi bercermin pada layar ponselnya
"Bukan" Anwar menggelengkan kepalanya
"Terus?"
"Sejak tadi kamu ngomel-ngomel lagi ngomongin kamu sendiri ya?"
"Nggak aku kok, itu mereka semua ngapain siang-siang masih disini" Arumi menunjuk setiap orang yang ia lihat
"Terus kenapa kamu masih disini nggak pulang?" Anwar berhenti berjalan lalu menghadap ke Arumi
"Hah?" Arumi melongo atas perkataan Anwar, memang benar omelannya seperti membicarakan dirinya sendiri
"Hmm?" Anwar menaik turunkan kedua alisnya
"Hehe" Arumi tertawa kecil sembari terus berjalan di depan Anwar
Arumi merasa malu atas apa yang tadi ia bicarakan sepanjang jalan, kini mereka berjalan menjauhi titik awal tempat yang mereka singgah
"Kita ke sana yuk" Arumi menunjuk tempat yang sepi
"Oke"
"Kamu mau makan apa?" tawar Anwar kepada Arumi setelah mereka duduk di tempat yang di tunjuk oleh Arumi
"Samain aja sama kamu" Arumi memposisikan dirinya
"Oke, kamu tunggu dulu ya aku mau pesen ke sana" Anwar berjalan menuju ke warung untuk memesan makanan
"Iya!" Teriak Arumi ketika Anwar mulai melangkahkan kakinya
Beberapa menit kemudian Anwar datang setelah memesan makanan dari warung
"Udah?" tanya Arumi
"Udah kok" Anwar mendudukkan bokongnya di samping Arumi
"Yang nomor kamu ganti ya?" Anwar
Memang semenjak kecelakaan menimpa Arumi ia tak pernah berkomunikasi sampai saat ini, mereka bisa keluar karena Anwar langsung datang ke rumahnya bukan lewat pesan
"Iya, kan kemarin ponsel aku rusak. Ini juga aku baru dibelikan kak Tika kemarin" Arumi memperlihatkan ponsel di genggaman tangannya
"Coba lihat" tanpa izin tiba-tiba Anwar merebut ponsel milik Arumi
"Eh eh eh!" Arumi kaget saat Anwar berhasil mengambil ponselnya
"Maaf yang" Anwar merasa bersalah ia langsung meminta maaf
"Iyaya, sabar dong" Arumi memaafkan tetapi dengan muka cemberutnya
Anwar menghidupkan layar ponsel Arumi ternyata tidak di kunci sandi maupun pola sehingga hal itu mempermudahkan Anwar leluasa untuk berpatroli akun
Perlahan-lahan Anwar membuka menu utama kemudian ia mencari akun-akun sosmed Arumi, dan ia menemukan aplikasi WhatsApp lalu memencetnya
Ternyata nomor Arumi memang baru, kontaknya saja hanya ada beberapa nomor tentu mungkin orang-orang terdekatnya yang baru ia miliki saat ini
"Ini doang Yang nomor yang baru kamu simpan?" Anwar memperlihatkan kontak Arumi
"Kan aku udah bilang, aku baru buat sayang" Arumi gemas sedari tadi Anwar yang belum paham
"Iyaya. Kamu nggak minta nomor WhatsApp pacar kamu?" Anwar memancing Arumi
"Aku lupa nomornya" Arumi mengangkat kedua bahunya
"Nggak minta?" Anwar melirik ke Arumi
"Nanti aku minta"
"Sekarang gih" Anwar memaksa Arumi
"Pinjam ponsel kamu dong" tangan Arumi mengarah meminta ponsel Anwar
"Buat apa?" Anwar mengerutkan keningnya
"Emang cuman kamu doang yang bisa minjam ponsel orang?" Kata Arumi sembari memalingkan wajahnya
"Iyaya. Nih" Anwar merogoh ponsel yang ada di saku jaketnya
Arumi mengambil ponsel milik Anwar dan ia juga membuka aplikasi WhatsAppnya, kemudian Arumi mengetikkan beberapa nomor entah nomornya siapa kemudian ia memanggil nomor tersebut
***
Thanks Kaka udah mau nunggu author update
Akhir-akhir ini author sibuk banget ;'(
Pokoknya Love you all ❣️❣️❣️