ARUMI

ARUMI
Mencari Donor Mata



Setelah Pak Arya keluar dari ruangannya, Arumi terkejut atas apa yang Pak Arya lakukan. Mana mungkin seorang supervisor begitu khawatir dengan karyawannya. Sampai-sampai ia turun langsung untuk menjenguk karyawan bahkan ia juga mengajukan Jaminan kesehatan


Arumi berfirasat ada yang tidak beres dengan gelagat Pak Arya, tapi ia harus singkirkan fikiran itu dan berpositif thinking. Arumi berfikir kenapa tidak pihak HRD saja yang langsung datang untuk mendapat informasi tentangnya tapi malah sang supervisor langsung turun tangan


"Pak Arya kenapa ya, bukannya masalah jaminan kesehatan nggak ada sangka pautnya dengan supervisor? kan bisa saja langsung pihak HRD nya"


Arumi bertanya-tanya pada hatinya sendiri


"Tadi juga sikapnya manis banget, pake memegang kepala aku kok sepertinya perhatian banget ya. Udah Arumi udah! Mungkin sikap Pak Arya tadi juga sama dengan karyawan lainnya" Batin Arumi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat


"Terus ini kenapa jantungku bekerja lebih cepat, Aduh Pak Arya bikin aku deg-degan aja sih" Arumi memegangi dadanya


Arumi terus memandang lurus ke depan sembari memegang dadanya, saat itu Pak Arya juga melihat dari luar jendela dan memegang dadanya dimana jantung berdetak lebih cepat dari biasanya


"Semoga kamu juga merasakan apa yang aku rasakan Rum" Gumam Pak Arya yang melihat dari luar jendela


"Semoga saja besok kamu bisa operasi" harapan Pak Arya yang tersenyum sedikit


"Pak Arya!" Panggil Bu Ningrum


"Eh, Astaghfirullah" Pak Arya kaget langsung mengelus dadanya


"Pak Arya kenapa kok lihatin Arumi dari jendela. Apa Pak Arya di usir sama Arumi?" Bu Ningrum menghampiri


"Bu Ningrum se-sejak kapan di-disini?" Pak Arya dengan terbata-bata


"Saya disini sudah sejak dari tadi saat Pak Arya ingin berbicara dengan Arumi" Bu Ningrum menunjuk kursi yang berada di sebelahnya


"Mati aku, Bu Ningrum tau nggak ya sejak tadi aku megang-megang dadaku. Ah, jadi malu aku" Pak Arya menoleh kesamping


"Oh gitu ya Bu" Pak Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Apa Pak Arya sudah mengkonfirmasi tentang operasi Arumi?"


"Sekarang ini saya mau ke resepsionis untuk mengajukan operasi Arumi, Insyaallah besok Arumi bisa langsung operasi kalau tidak ada halangan"


"Beneran Pak? Alhamdulillah ya Allah. Senang sekali, Terimakasih ya Pak" Bu Ningrum dengan mata berbinar langsung menyambar tangan Pak Arya untuk di Salami


"Maaf Bu, tidak usah begini" Pak Arya menarik tangannya yang hendak di cium oleh Bu Ningrum


"Sekali lagi terimakasih banyak Pak Arya" Bu Ningrum membungkukkan badannya


"Sama-sama Bu, saya pergi ke Resepsionis dulu ya" Pak Arya menunjuk jalan ke ruang resepsionis


"Iya Pak, silahkan" Bu Ningrum mempersilahkan Pak Arya untuk lewat di depannya kemudian Pak Arya menjawab dengan anggukkan kepalanya


Pak Arya kini menuju ke ruang khusus dokter, siapa sangka pemilik dari rumah sakit yang Arumi tempati ini milik Dokter Dharma kakak dari Wiguna ayah kandung Arya Wiguna sendiri


"Om!" Tiba-tiba Arya masuk ke ruang pamannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu


"Salam dulu dong Arya!" Dharma yang masih sibuk dengan lembaran-lembaran kertas di pegangannya


"Maaf Om, Assalamualaikum" Arya berjalan langsung duduk dihadapan Dharma dan menyalaminya


"Waalaikumsalam, tumben kamu kesini. Ada apa?" Dharma meletakkan beberapa lembar kertas di atas meja


"Om, Arya minta tolong boleh kan?" Arya berkata sembari memajukan kepalanya ke depan


"Kalo Om bisa bantu kenapa nggak?" Dharma mendorong kening Arya dengan jari telunjuknya


"Iyaya, nggak usah main dorong dong. Sakit tau" Arya mengusap-usap keningnya


"Mau minta bantuan apa? Hmm?"


"Om nggak salah dengar ini?" kata Dharma sembari mengorek-ngorek telinganya


"Emang kenapa om?" Pak Arya mengerutkan dahinya


"Seorang Arya Wiguna mengkhawatirkan perempuan lain, apa dia kekasihmu?" tanya Dharma dengan senyum miringnya


"Ah, eng-enggak kok om. Itu dia karyawan aku di pabrik, sebagai atasannya kan harus memastikan kesehatan para karyawannya"


"Bukannya sudah ada bagian sendiri untuk menangani masalah seperti ini? Sepertinya ini bukan termasuk tugas kamu loh"


"Maksud aku kan, kalo dari pihak sana pasti belum bisa mencari dokter yang tepat untuk operasinya. Pas dong kan aku kenal om yang bisa operasi mata juga?"


"Om sih bisa, tapi--" jawab Dharma sembari berfikir


"Tapi apa om?"


"Kita harus mencari donor mata terlebih dahulu untuk operasinya, atau mata kamu aja buat dia. Kan kita nggak perlu cari-cari lagi" canda Dharma


"Enak aja, nggak ah. Masa di sini nggak ada om? tolong cariin dong om" Pak Arya menarik tangan pamannya


"Bukan hal gampang Arya, kita juga harus memeriksa matanya untuk mencocokkannya terlebih dahulu agar bisa langsung di operasi" Dharma menepis tangan yang di pegang oleh Arya


"Kok gitu, aku sudah bicara kalo besok dia sudah bisa di operasi" Arya dengan sedikit lesu


"Itu bukan urusan om, kamu bicara baik-baik sama dia. Suruh dia lebih bersabar sedikit, karena mencari donor mata susah apalagi belum tentuk cocok atau tidaknya"


"Tapi tolong cari segera ya om, berapa biayanya akan saya tanggung"


"Sebentar, biayanya akan kamu tanggung? katanya dari pihak perusahaan sendiri?"


"Ya maksud aku biayanya dari perusahaan, tapi lewat aku om. Hehe" Tawa garing Arya


"Untuk jaga-jaga kalau belum ada donor mata, kamu minta tolong sama papa kamu yang diluar negeri untuk mencarikannya di sana. Siapa tahu ada yang mau mendonorkan matanya, jika kamu mengandalkan di sini saja om rasa susah, masak iya kita ambil dari seseorang yang sudah meninggal?"


"Ih ngeri, ya sudah kalo gitu om, Arya akan minta tolong sama papa di luar negeri siapa tau bisa bantu. Tapi om juga berusaha cari donor mata ya"


"Iya om akan usahakan"


"Om sejak dulu memang terbaik deh, soal biaya nggak usah di permasalahkan"


"Iyaya, om tau kalo kamu pasti mampu" Dharma dengan senyum smirknya


"Hehe, yasudah om. Saya mau pulang dulu" Pamit Arya


"Iya Hati-hati!"


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Arya Wigun dan pamannya memang begitu dekat seperti seorang ayah dengan anaknya, bagaimana tidak dekat setelah lulus sekolah menengah atas Arya bolak-balik ke luar negeri untuk pendidikannya, saat di Indonesia sendiri ia selalu tinggal bersama pamannya karena Wiguna sering sibuk tidak sempat untuk bertemu dengan anaknya sendiri


Saat Arya menginjak usia 22tahun, ia memutuskan untuk tinggal di apartemen yang diberikan oleh papanya. Sehingga tidak tinggal lagi bersama Dharma sampai sekarang tetapi hubungan mereka tetap berjalan dengan baik


***


Jangan lupa pajaknya Kaka


cuma tekan like nya aja kok ❣️❣️❣️