ARUMI

ARUMI
Peduli atau Kasihan?



Anwar kini bingung harus mau bagaimana lagi untuk bisa membantu operasi mata Arumi, Ia juga belum benar-benar positif bisa lolos dari pelatihan ini. Jangankan untuk membiayai operasi Arumi kebutuhan sehari-hari saja ia masih diberi oleh orangtuanya.


Di Suatu Tempat


Setiap hari setiap saat para Supervisor selalu memantau kinerja para karyawannya. Salah satunya Supervisor yang bertugas memantau absen karyawan Yakni Pak Arya sudah beberapa hari ini ada meja karyawan yang kosong tanpa ada orangnya


Ternyata yang dimaksud meja kerja tadi adalah milik Arumi, yang memang sudah beberapa hari tidak dipakai. Arya mengetahui itu ia langsung bertanya kepada Leader Line yang ada di area tersebut


"Bu Ida!" Ucap Pak Arya saat mendekati Bu Ida


"Iya Pak?" Bu Ida menengok siapa yang memanggilnya


"Saya lihat sudah beberapa hari meja kerja sana kosong terus, memang karyawan yang bagian sana dimana?" Pak Arya menunjuk meja kerja yang kosong


"Oh, itu pak memang belum ada karyawan yang menempati. Tapi biasanya Arumi yang mengerjakan pekerjaan di sana"


"Terus kemana Arumi sekarang?"


"Arumi sudah beberapa hari tidak masuk katanya dia mengalami kecelakaan saat pulang kampung Minggu lalu"


"Memang sebegitu parahnya dia sampai sekarang tidak masuk kerja? Saya pantau hampir satu Minggu meja kerja itu terlihat kosong"


"Iya Pak, Temannya yang bernama Vita sudah meminta izin kepada saya bahwa Arumi mengalami masalah pada kedua matanya sehingga Arumi belum bisa masuk kerja untuk saat ini"


"Vita siapa itu?" Pak Arya menghilangkan kedua tangannya di depan


"Vita lawan sift dari kami, yang memang dia juga teman satu kos dengan Arumi"


"Departemen mana dia?"


"Dari departemen Pembuatan pola"


"Baiklah. Saya ingin meja kerja yang kosong tadi harus ada yang mengerjakan, saya tidak mau tau produksinya harus tetap beroperasi"


"Baik Pak, nanti saya akan mengerjakan segera"


"Iya" Pak Arya langsung pergi dari tempatnya


Meja kerja yang biasanya Arumi kerjakan kini diambil alih oleh Bu Ida, agar beroperasi lancar yang memang sudah menumpuk agar bisa berkurang


Sebenarnya Bu Ida sudah mengajukan meja kerja yang kosong supaya bisa di carikan karyawan untuk menempati meja kerja tersebut tetapi ia harus menunggu perintah dari atasannya lagi


Setelah mendengar kabar Arumi mengalami kecelakaan Pak Arya langsung menuju ke ruang HRD untuk meminta nomor seseorang yang Bu Ida beritahu tadi agar Pak Arya bisa menghubungi bagaimana kabar Arumi sekarang


"Permisi Bu Tya!" ucap ramah Pak Arya setelah masuk ke ruang HRD


"Iya Pak, ada uang bisa saya bantu?" Bu Tya


"Saya mau minta nomor telpon yang bernama Vita dari departemen Pembuatan pola"


"Sebentar pak" Bu Tya mengotak-atik komputer yang ada di depannya


"Disini ada tiga orang yang bernama Vita, bisa Pak Arya sebutkan siapa nama Vita yang di maksud?"


"Kok Lupa aku, tadi Vita Tamala siapa ya" batin Pak Arya sembari mengingat-ingat nama panjang Vita


"Coba bacakan semuanya!" perintah Pak Arya


"AtVita Mala, Elvita Fitriyani, dan Novita Saputri. Semua nama panggilannya Vita Pak"


"Oh, yang pertama tadi AtVita siapa itu"


"AtVita Mala?"


"Iyaya, saya mau nomor telponnya sekarang" Pak Arya


"Maaf Pak memang ada keperluan apa?" Ucap sang HRD yang mulai penasaran


"Aduh, jawab gimana ini" gumam Pak Arya dalam hati


"Temennya ada yang sakit, perusahaan kan harus menjamin keselamatan para karyawan. Disini kan juga ada jaminan kesehatan, mungkin akan bisa membantu untuk pengobatan. Saya minta nomornya hanya sekedar mendapatkan informasi saja, iya itu saja"


"Gelagatnya kok aneh ya Pak Arya, nggak kaya biasanya kalo ngomong sama bawahannya seperti ini"


"Oh, baik Pak. Ini nomornya" Sembari membatin HRD menulis nomor telepon di sebuah kertas dan menyerahkan ke Pak Arya


"Terima kasih" Pak Arya langsung mengambil kertas dan berbalik badan menuju ke ruangannya


tapi tidak ada yang mencurigakan


"Biarlah, bukan urusan aku. Ngapain juga repot-repot mikir" HRD langsung mengalihkan untuk fokus ke pekerjaannya lagi


Di lainnya, Pak Arya kini sudah mendapat nomor telepon Vita dan ingin segera menghubunginya. Tapi ia urungkan karena ia bingung harus berbicara bagaimana, mengingat Pak Arya hanya seorang supervisor bukan pihak yang berhubungan dengan jaminan kesehatan


Entah sejak mulai dari kapan sepertinya Pak Arya sudah ada benih-benih kepada Arumi, setiap melihat Arumi hatinya selalu damai. Menurut Pak Arya, Arumi selain cantik, baik hati dan sepertinya mempunyai rasa tanggung jawab yang besar


Pak Arya ragu-ragu memulai mengirimkan pesan kepada Vita untuk menanyakan kabar Arumi


AtVita Mala 📤


'Selamat Siang'


Send...


Lama pesan Pak Arya belum juga di balas, membuatnya ingin sekali menelfon tapi dalam fikirannya jangan dulu tergesa-gesa untuk mendapat informasi harus sewajarnya


Pak Arya sedikit kesal sampai sore ini pesannya juga tak kunjung di balas, padahal Vita masuk sift malam yang notabenenya lawan sift dari si Pak Arya. Karena Vita sift malam pasti siang harinya ia leluasa istirahat ataupun sekedar bermain ponsel, tapi malah belum juga ada balasan darinya


Pukul empat sore waktu jam kerja berakhir, semua karyawan pulang ke rumah masing-masing termasuk Pak Arya. Pak Arya mengambil ponselnya dan memastikan pesannya sudah dibalas atau belum, ia kesal ternyata pesan yang dikirim ke Vita hanya dibaca saja tidak di balas dan tanpa pikir panjang Pak Arya mengirim pesan lagi sampai di balas


Sore harinya Vita yang baru bangun dari tidur langsung mencari ponselnya, sudah menjadi kebiasaan Vita hal yang pertama kali di cari saat bangun tidur. Vita bingung ada pesan yang nomornya tak dikenal untuk itu ia hanya membaca tanpa membalasnya, tapi lama kelamaan Vita mulai geram akan pesan yang beruntun terpaksa Vita membalasnya


089234765xxx 📤


'Iya ini siapa?'


'Saya Pak Arya. Ini Vita kan teman satu kosnya Arumi?'


'Benar Pak, memang ada apa ya?'


'Saya ingin informasi tentang Arumi yang seminggu ini tidak masuk kerja, bisa di beritahu apa alasannya?'


'Begini Pak, Arumi kemarin pulang kampung


dengan saya tapi dalam perjalanan bis yang


kita tumpangi terjadi rem blong, bis kita


ditabrak dengan truk dari arah samping,


dan saat itu Arumi tengah berada di pinggir


jendela yang sedang tidur'


'Lalu, apa yang terjadi dengannya?'


'Mata Arumi terkena serpihan kaca dan


sekarang Arumi mengalami buta Pak'


'Memang tidak di operasi?'


'Dari pihak keluarga Arumi pengennya


begitu Pak, tapi biaya yang dipermasalahkan


sekarang'


'Arumi sekarang di rawat di Rumah sakit mana?'


'Di rumah sakit Dharmais Pak'


'Terima kasih'


'Sama-sama Pak, Bapak kenapa kok sepertinya peduli dengan Arumi?'


Pak Arya bingung harus menjawab bagaimana, mungkin orang lain juga akan heran dengan perilaku seorang supervisor kepada bawahan yang sepertinya sangat khawatir dengan keadaan Arumi. Apakah Pak Arya Peduli atau merasa kasihan?


***


Thanks ya Kaka udah mau nungguin aku up lagi❣️❣️❣️