
Bulan demi bulan kandungan Arumi menginjak 7 bulan dimana perut yang dahulu rata kini sudah membuncit, lelah serta rasa sakit pada pinggangnya pun ia rasakan tetapi ia terima. Arumi sadar betapa susahnya saat para ibu mengandung bayi mereka, dengan begitu Arumi merasa bersalah ketika mengingat ia pernah mengabaikan ucapan dari Ningrum
"Ya Allah, begini rasanya seorang ibu mengandung anak mereka. Maafkan aku ibu yang kini belum juga memberi kabar, aku takut nanti semua orang kecewa terhadapku. Apalagi saat ini aku mengandung entah anaknya siapa akupun tidak tahu" Arumi duduk di halaman belakang rumah, merenungi nasib yang saat ini ia rasakan
"Kak Arum kenapa?" Tiba-tiba Angga langsung duduk di samping Arumi
"Eh enggak kenapa-kenapa kok" Arumi mengusap air matanya
"Kan nenek sudah bilang Kak Arum nggak usah menyapu halaman, nanti dimarahin loh sama nenek" Angga merebut sapu yang dipegang Arumi
"Kamu nggak tahu kan, Kalo ibu hamil tidak melakukan apa-apa nanti dedeknya nggak sehat dong"
"Masak gitu ih kak?"
"Coba aja tanya nenek"
"Iya, tapi jangan sampai kecapean. Jalan-jalan saja sudah cukup untuk ibu hamil dan dedeknya sehat" Nenek Sri mengelus perut Arumi
"Iya Nenek" ucap Arumi seperti suara anak kecil
"Ini mah udah cicit bukan lagi cucu. Hihii. Nenek udah tua ternyata"
"Nggak kok, nenek nggak tua-tua amat. Masih berasa umur 50an kok" goda Arumi
"Iya 50tahun waktu itu"
"Kak Arum, emang ini dimana ayahnya?" Angga sembari mengelus perut Arumi yang buncit
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Hanya ada keheningan, Arumi serta nenek Sri bingung ingin menjawab pertanyaan Angga
"Bukannya Angga sudah tahu kalo Kak Arum disini tersesat kan? Pasti ayahnya juga di rumah sedang mencari kak Arum" Jawab nenek Sri asal
"Kalo sudah tahu dicariin kenapa nggak pulang aja? nanti ayahnya rindu sama Dede ini" kata Angga tanpa berdosa
"Ah sudahlah, kamu nggak main hari ini? buruan main gih, teman-temanmu pasti sudah menunggumu di luar" elak Nenek Sri yang takutnya pertanyaan Angga akan kemana-mana
"Oh iya Angga lupa, hari ini ada janjian sama Edo dan Rizal" Angga menepuk jidatnya
"Tuh kan cucu nenek kok sudah lupa"
"Iya nek, Aku pergi main dulu ya nek, kak Arum" Angga berpamitan
"Iya hati-hati ya dek" Kini Arumi yang menjawab perkataan Angga
Arumi merasa lega, untung teman-teman Angga menyelamatkan dari pertanyaan yang sangat ia hindari. Tentu berkat nenek Sri yang mengalihkan pembicaraan, nanti Arumi harus berterimakasih terhadapnya
"Terimakasih ya nek" Arumi mendekat lalu memeluk tubuh nenek paruh baya itu
"Iya nak, sama-sama. Nenek rasa Angga juga perlu tahu soal kehamilanmu, karena lama kelamaan ia akan bertanya juga dimana ayah dari janin ini" Nenek Sri mengelus perut Arumi
"Tapi nek, Angga kan masih kecil tidak perlu tahu menahu soal kehamilan Arumi. Toh tidak ada hubungannya dengan Angga"
"Memang benar tidak ada hubungan apa-apa, tapi setidaknya kamu berusaha lebih terbuka lagi. Ingat kamu sudah anggap keluarga nenek sendiri"
"Iya nek, Arumi janji agar bisa lebih terbuka dengan nenek dan Angga" Arumi dan nenek Sri berpelukan menyalurkan kasih sayang mereka
***
Setiap hari Arumi bolak balik ke sebrang desa untuk belajar bersama Aisyah dan Sifa, tak apa mungkin ini salah satu pengorbanan Arumi untuk lebih dekat dengan Pencipta lagipula hanya 20menitan jika berjalan, pikir Arumi
Kini perut Arumi sudah memasuki bulan ke 9, dimana akhir-akhir ini ia merasa sangat lelah padahal hanya melakukan kegiatan yang ringan-ringan saja. Sembari bersantai ria Arumi selalu mengelus perutnya dan membisikkan sesuatu agar menjadi anak yang Sholeh ataupun Sholehah.
Iya Arumi belum ingin melihat kandungannya sehingga ia belum tahu jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Biarkan ini menjadi rahasia, apapun jenis kelaminnya ia tetap akan bersyukur bisa melahirkan seorang malaikat kecil walaupun hanya seorang diri untuk mengurusnya
Saat Arumi tengah menyapu rumah, perutnya kini mulai berkontraksi sepertinya ia akan melahirkan sekarang
"Sssshh... Aww" Arumi meringis kesakitan
Perlahan Arumi ingin menggapai kursi agar ia bisa duduk, tetapi ia malah duduk dibawahnya bersandar di kursi yang ia gapai. Ia tak mampu lagi bergerak, semakin bergerak perutnya semakin berkontraksi hebat
Angga mendengar kursi bergeser mengakibatkan suara yang tak biasanya, Angga langsung menuju ke sumber suara. Alangkah terkejutnya ia melihat Arumi sedang merintih sembari mengusap-usap perutnya
"Astaghfirullah kak Arum!" Angga terkejut melihat banyak sekali Arumi mengeluarkan keringatnya
"Ssssh... Huuh haah" Arumi menarik nafas terus menghembuskannya perlahan-lahan
"Kak Arum mau melahirkan?" tanya Angga
Sudah tahu Arumi akan melahirkan malah Angga bertanya seperti itu, benar-benar pertanyaan yang tak perlu di jawab
Arumi hanya bisa menganggukkan kepalanya
Melihat anggukan dari Arumi, Angga buru-buru keluar memanggil nenek Sri untuk memberitahu jika Arumi akan melahirkan sekarang
Nenek Sri terkejut saat Angga memberitahu, padahal Arumi akan melahirkan seminggu lagi kenapa ini mendadak sekali? Kan nenek Sri belum menyiapkan keperluan Arumi bersalin terlebih dahulu
Beruntung ada Yuda yang ingin mengambil kue yang memang sudah berlangganan dengan nenek Sri, seketika Yuda langsung mengekor belakangi nenek Sri menuju ke dalam untuk membantu Arumi melahirkan
"Ya Allah Gusti nak, ketubanmu sudah pecah kamu mau melahirkan !" Nenek Sri terkejut melihat darah yang keluar dari sela******** Arumi
"Sssaakiiit nek" Arumi memegang perutnya
"Mari saya bantu, kita segera ke rumah sakit sekarang"
"Maaf ya nak Yuda, kami merepotkan lagi" ucap nenek Sri sungkan karena sudah dua kali ditolong oleh Yuda
"Tak apa nek, sesama manusia harus saling tolong menolong" Yuda tersenyum sembari mendekati Arumi
"Maaf ya mbak akan saya gendong" Tiba-tiba Yuda menggendong Arumi, tanpa ba-bi-bu Arumi hanya bisa mengangguk
Yuda membantu menggendong Arumi ala bridal style, nenek Sri dan Angga tampak khawatir tapi berbeda dengan Yuda dan Arumi mereka merasa canggung. Arumi mendengar detak jantung Yuda yang bekerja lebih cepat, dalam hati Arumi tersenyum ternyata lelaki ini bisa juga deg-degan
Dilihatnya dari bawah Yuda ternyata juga terlihat tampan. Mata yang teduh, hidung mancung, alis tebal, serta senyuman yang manis semanis madu
"Astaghfirullah" Arumi tersadar atas kekaguman Yuda
Arumi diantar oleh Yuda, serta nenek Sri yang mengikuti di belakangnya. Dengan rasa khawatir dan cemas sudah bercampur aduk, takut akan terjadi sesuatu dengan bayinya. Angga mengikuti serta membawa perlengkapan bersalin milik Arumi yang hari-hari lalu sudah dipersiapkan hanya tinggal membawanya
***
Update lagi ya Kaka
Maapin Author yang jarang-jarang banget update
dikarenakan otak author belum Travelling, jadi author lagi nyari referensi agar otak author bisa segar lagi
Jangan lupa sarannya ya Kaka ❣️❣️❣️