ARUMI

ARUMI
Lamaran



Satu Bulan Kemudian


Setelah Arumi keluar dari rumah sakit satu bulan lalu, akhir-akhir ini kedekatan Yuda dengan Arumi sudah terlihat. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari Dika di gendong oleh Yuda, Arumi hanya bisa diam menatap kedua pria tersebut yang berbeda usia


Setiap hari Yuda tak pernah absen untuk menggendong Dika, karena Yuda juga mempunyai bisnis dengan nenek Sri yang dimana ia juga bisa mengunjungi Dika. Tak terasa hari ke hari mereka terlihat seperti seorang bapak dengan anaknya, memang sikap Yuda sudah matang untuk memiliki anak diusianya menginjak 27tahun


Bukan mobil pick up yang biasanya Yuda pakai melainkan mobil BMW keluaran terbaru, saking terbaru sampe-sampe belum ada nomor platnya tersebut terparkir di halaman depan rumah nenek Sri. Seketika menjadi pusat perhatian warga setempat karena jarang-jarang mobil mewah lewat di desa mereka


Hari ini tidak seperti hari biasanya, Yuda datang bersama dua orang paruh baya tetapi masih terlihat cantik dan tampan, Iya itu adalah kedua orang tuanya


Tok...Tok...Tok...


"Assalamualaikum?" Yuda mengetuk pintu dan tak lupa mengucap salam


"Waalaikumsalam" jawab nenek Sri yang masih berada di belakang


Mendengar ada yang mengucap salam Nenek Sri buru-buru keluar untuk memeriksanya, sebelum keluar ia tidak lupa untuk mematikan memundurkan kayu bakarnya terlebih dahulu


"Ehh nak Yuda sudah datang, tapi kuenya belum matang" Nenek Sri merasa tidak enak karena tidak biasanya Yuda datang sepagi ini untuk mengambil pesanannya


"Yuda ada maksud lain kok nek"


"Maksudnya nak?"


"Pah, Mah?" Yuda menarik tangan orang tuanya dari samping pintu, dari dalam Nenek Sri tidak bisa melihat orang tuanya Yuda karena ada tembok yang menghalanginya


"Ada orangtuamu juga ya nak, mari masuk pak buk" nenek Sri mempersilahkan Tamunya untuk masuk ke rumah


"Makasih nek" jawab serentak


"Maaf ada hal apa ya nak Yuda kemari bersama orang tua?" tanya nenek Sri setelah mereka mendudukkan bokongnya, sebenarnya nenek Sri sudah mengetahui maksud dari Yuda datang bersama kedua orang tuanya tetapi ia hanya memastikan terlebih dahulu


"Begini nek, saya Guna ayah dari Yuda dan ini istri saya Indah. Kami datang kesini ada maksud tertentu dimana Saya ingin melamarkan anak saya Yuda kepada Arumi" terang Guna


Indah ibunda Yuda celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. kok nggak ada fotonya ya, pikir Indah


"Ah, I-Iya nek. Kami disini ingin melamar nak Arumi sebagai istrinya Yuda, apa Arumi ada di rumah?" Indah sangat ingin langsung bertemu dengan Arumi, wanita yang telah meluluhkan hati anaknya


"Arumi ada di dalam, saya panggilkan Arumi dulu ya Pak Buk?" Nenek Sri beranjak dari tempatnya menuju kamar Arumi dan mereka hanya menjawab dengan anggukan kepalanya


"Arumi sayang" pelan-pelan Nenek Sri membangunkan Arumi, ternyata Arumi ketiduran sedang menyusui Dika dimana pu*ing milik Arumi masih menempel di mulut kecil Yuda


"Eeggrhh, Iya nek ada apa?" suara serak khas orang bangun tidur, Arumi menguap sembari merenggangkan otot-ototnya


"Kamu ini masih pagi kok udah tidur lagi, buruan cuci muka ada tamu yang ingin bertemu denganmu Rum" suara Nenek Sri di kecilkan agar yang di luar tidak terdengar


Rumah yang ada di pedesaan untuk ruang tamu memang tidak seluas yang ada di perkotaan, dimana di kota ruang tamu seluas lapangan golf. Jika di pedesaan satu rumah hanya di isi dengan beberapa petak ruangan, sehingga memungkinkan untuk bisa mendengar walaupun pintu tertutup karena memang tidak kedap suara


"Siapa ya nek, apa Aisyah?"


"Sudah sudah, buruan kamu cuci muka baru ke depan. Nenek mau buatin minum dulu, kamu segera kesana"


nenek Sri terburu-buru ke dapur untuk membuatkan minuman pasalnya sudah beberapa tahun ia tidak menerima tamu setelah 5 tahun belakangan


Arumi bergegas mencuci muka dan segera keluar kamar untuk menemui tamu yang ingin bertemu dengannya, tak lupa ia tetap memakai cadarnya meskipun masih di rumah


Ternyata Guna merespon lalu menjawab salam serta menangkup tangannya seperti yang Arumi lakukan


"Cantiknya" puji Indah sembari mengelus pelan kepala Arumi


"Terimakasih Bu" Arumi malu karena mendapat pujian dari seseorang


(Di Desa sama orang yang nggak di kenal biasanya manggilnya Ibu ya Kaka bukan Tante ataupun bibi. Kecuali ada silsilah kekeluargaan baru mereka akan memanggil dengan sebutan Tante atau bibi dan sejenisnya)


Tak lama kemudian Nenek Sri keluar membawa minuman serta kue yang ia buat tadi


"Maaf Pak Buk menunggu lama, tadi saya mengurus kue dulu nanti takutnya gosong" ucap malu-malu, nenek menaruh gelas agar berada di depan orangnya


"Tidak apa-apa nek" Indah


"Maaf juga Pak Buk, nggak ada cemilan adanya kue yang baru saja nenek angkat dari panci. Mumpung masih hangat pasti enak dimakan"


"Iya nek, kami jadi merepotkan" Indah lagi-lagi yang berbicara


"Nggak kok Buk" Nenek Sri duduk di sebelah Arumi, kini mereka saling berhadap-hadapan


"Mas Yuda kesini untuk mengambil pesanan kue ya?" Arumi mulai bertanya


"Bu-" seketika ucapan Yuda di potong oleh Guna


"Begini nak, kami selaku orang tua Yuda datang kemari ada maksud tertentu.


Nak Yuda ingin melamarmu untuk menjadi istrinya, apakah nak Arumi bersedia?" Guna menjelaskan maksud dari tujuan mereka datang ke rumah nenek Sri


Seketika Arumi terdiam, mencerna perkataan yang Guna ucapkan barusan. Apa Arumi tidak salah dengar?


"Apa Arumi bersedia menjadi istri dari anak Kami?" Indah mengulangi perkataan suaminya, karena Arumi hanya terdiam tanpa merespon


Arumi menoleh ke samping untuk mendapat persetujuan dari neneknya. Dan nenek hanya menjawab dengan senyuman serta anggukan kepala


Huuuffts... Arumi menghela nafas


"Bismillahirrahmanirrahim, jika niat baik mas Yuda sudah mantap. Arumi bersedia mas" Arumi menjawab dengan menunduk karena ia tidak berani menatap lawan jenisnya


"Alhamdulillah" ucap syukur semuanya karena lamaran ini di terima sesuai dengan keinginan mereka


Tak lama mengucap syukur, tiba-tiba Dika menangis di dalam kamar. Arumi langsung pamit untuk menemui anaknya terlebih dahulu


Oek..Oek...


Terdengar jelas suara bayi menangis, Guna dan Indah terkejut saling pandang suara bayi siapa yang mereka dengar. Dan kenapa tiba-tiba Arumi langsung beranjak dari duduknya?


***


Ketemu lagi sama author Kaka


Author usahain nih buat update setiap hari


Tapi kalo belum up jangan di bully ya ka ❣️❣️❣️