
"Ah betul juga, aku kok nggak kepikiran ya kesana. Sebenarnya aku juga mau kuliah, tapi orang tua aku bolehin nggak ya" Dalam hati Arumi
"Emm, nggak tau aku Ca. Kalo bisa sih ya aku juga pengen kerja sambil kuliah, tapi aku harus izin dulu sama orang tuaku"
"Iya Rum, aku doain yang baik-baik aja buat kamu. Semoga masa depanmu secerah panas terik matahari ini. Hehe..."
"Duh, panas-panas gini enaknya minum es nih. Kering banget tenggorokanku" Canda Arumi sambil mengusap-usap leher yang di tutupi dengan jilbabnya"
"Kode ini"
"Kode keras"
"Hahaha..." mereka tertawa terbahak-bahak
"Udah lama ini, aku mau pulang ya nanti di cariin orang rumahan aku" Arumi
"Emang tadi kamu nggak izin dulu?"
"Udah izin ke kak Tika sih, tapi takutnya dia khawatir gitu. Maklumlah adik kesayangannya kok"
"Idih,adik kesayangan katanya" ucap Ica dengan mencibir perkataannya
"Hehee.."
"Nggak mau aku buatin minuman dulu?"
"Nggak usah Ca, aku mau langsung pulang aja"
Arumi berdiri berjalan ke arah motornya memakai helm kemudian membuka tas untuk mengambil kunci motor lalu menghidupkan mesinnya
"Jangan lupa pake kaca matanya"
"Ini, malu dong kalo di jalan orang liat mata aku bengkak gini"
"Iyalah, nanti di kira kamu habis di apa-apain. Hahaa" Canda Ica
Arumi sudah mengegas mesinnya, tapi ia berhenti sejenak
"Ada yang ketinggalan?" ucap Ica
"Ada"
"Apa?"
"Makasih ya Ica"
"Yaelah, Iya sama-sama Arumi" Ica mengucapkan dengan gaya senyum sok manis yang di buat-buat
"Aku palang dulu ya, bye bye.." Arumi melambaikan tangannya dengan cepat dan singkat kemudian ia meluncur ke istananya
***
Tiba di rumah
Arumi bergegas turun dari motornya ia lupa sejak dari tadi untuk melaksanakan kewajibannya, karena keasikan curhatnya ia lupa dengan waktu
"Assalamualaikum" Arumi kebelakang untuk mengambil air wudhu
Sindir Tika
Arumi hanya mengabaikan perkataan kakaknya ia langsung bergegas melaksanakan sholat dhuhur
Tak berlangsung lama, Arumi selesai melaksanakan sholatnya. Ia menghampiri Tika di ruang kerjanya
"Mana nih yang perlu aku bantu" Arumi menggeser kursi dan mendudukinya
"Dek tadi katanya ibu kamu jual anting-anting ibu?"
Tika tidak menggubris ucapan yang tadi di lontarkan Arumi
"Iya kak, ibu yang nyuruh kok" Arumi membela diri
"Ingat, nanti kalo kamu ada uang langsung ganti. Kasihan ibu itu salah satu perhiasan yang ibu punya"
"Iya kak, aku janji" jawab Arumi penuh dengan keseriusan
"Baguslah. Emang tadi kejual berapa?"
"Cuman 1 gram kok kak, kakak tau lah harga emas 1 gram berapa"
"Itu emas tua apa emas muda?"
"Emas muda"
Tika mengangguk, tanda paham atas perkataan Arumi yang sedari tadi tidak di jawab
"itu yang kemarin belum kamu pasang bagian lehernya, kamu terusin aja. Kalo udah selesai nanti jahit seragam Pramuka yang kakak kasih tali warna coklat" Tika sambil menunjuk tempat yang ia maksud
"Beres kak Tika"
"Aku harus lebih giat lagi untuk mengumpulkan uang supaya ada uang simpanan aku. Semangat Arum!" Batin Arumi penuh dengan semangat
Hening seketika hanya ada bunyi mesin jahit yang sedang berproses, Arumi memikirkan perkataan yang Ica sarankan waktu di taman
"Emm, kak aku boleh nanya nggak"
"Tumben, biasanya juga nanya langsung. mau nanya apa?"
"Kira-kira kalo aku kerja sambil kuliah boleh nggak?"
Brak! Suara Tika menggebrak meja mesin jahit yang ada di depannya
"Nggak boleh! Ingat dek kamu tuh udah janji sama kakak sama ibu ayah!! Kakak nyekolahin kamu agar Ijazah yang kamu peroleh bisa menunjang masa depan kamu agar lebih baik bukan malah pengen sekolah lagi! Ingat Putri, sepupumu itu tidak melanjutkan sekolahnya dia hanya bekerja jadi ART. Kakak nyekolahin agar kamu dapat bekerja lebih baik Arumi!!! Kakak nggak ngizinin kamu untuk kuliah!" Bentak Tika dengan suara penuh penekanan
"Astaghfirullah hal'adzim" Seketika Arumi sadar tadi hanya lamunannya
"Kenapa dek?" Tika berhenti dari kegiatannya saat mendengar Adiknya beristighfar
"Ah, gapapa kak"
"Kak, besok kan Arumi kerjanya cuman 5 hari kerja dalam seminggu. Misal aku ambil hari weekend untuk kuliah boleh nggak?" Tanya Arumi dengan hati-hati
❣️❣️❣️