
'Ceklek.. Suara pintu kamar Arumi terbuka, ternyata Arumi lupa. mengunci pintunya
"Aduh aku lupa kunci pintunya" Umpat Arumi yang kepalanya berada di bawah bantal
"Nak.." Ucap Ningrum sambil mengelus tangan Arumi yang ada di atas bantal
"Bangun, ayo.." Ningrum menggoyang-goyangkan tangan Arumi
Arumi bangun dari tidur langsung berhamburan memeluk tubuh ibunya
"Bu, aku pengen langsung kerja. Gimana ini Bu.
Hiks... Hiks..."
Ningrum menghadap ke atas agar air matanya tidak menetes membasahi pipinya
"Gimana apanya? coba ibu tanya, kamu kan juga bantu kakak kamu menjahit ada berapa banyak yang sudah terkumpul?"
"Cuman sedikit Bu, mungkin bisa buat bayar transportasinya saja"
"Yang sabar ya nak, ibu juga nggak ada uang buat kamu"
Akhirnya Ningrum mulai meneteskan air matanya yang sejak tadi ia tahan, Ia membalas pelukan Arumi sambil mengusap-usap rambut Arumi
"Ibu cuma punya ini, mungkin bisa membantu kamu walaupun nggak seberapa harganya" Ningrum melepaskan Anting-anting yang ia kenakan
"Enggak Bu, ini satu-satunya perhiasan yang ibu punya. Aku nggak mau ngejual brang berharga ibu" Tolak Arumi mentah-mentah
"Sudah, tidak apa-apa. Kan kamu bisa ganti nanti kalau sudah gajian"
"Tapi Bu, ini juga pasti belum cukup"
"Besok coba di jual dulu, nanti kalau masih kurang ibu akan pinjam ke saudara"
Arumi mengambil anting-anting milik ibunya
"Bentar ya ibu ambil suratnya"
Arumi mengangguk. Ningrum berdiri langsung membuka lemari dan mengambil surat perhiasan yang ia selipkan di bawah pakaiannya
"Ini surat dan ada nama tokonya, Cuma 1 gram mungkin hanya bisa untuk membayar kosanmu. Nanti makan sehari-harinya ibu akan pinjam aja yaa"
"Makasih ya Bu, Ibu baik banget. Arumi janji gajian pertama aku yang akan membayar hutang tadi dan menggantikan anting-anting ibu" Arumi memeluk Ibunya dengan penuh kasih sayang
***
Keesokan harinya Arumi keluar untuk menjual anting-anting milik ibunya,Butuh 15 menit untuk sampai ke toko perhiasan dengan menggunakan motor maticnya.
"Alhamdulillah, lumayan buat nambah pesangon. Tapi ini masih kurang" Batin Arumi yang menerima beberapa lembar uang kertas berwarna biru kemudian ia masukkan ke dalam tas selempangnya
"Aku mau mampir ke rumah Ica ah, buat nenangin pikiran aku"
Kak Tika 📤
'Kak, aku mau mampir ke rumah Ica dulu ya, nanti kalo di tanya sama Ibu bilangin aja'
'Iya dek, hati-hati nanti pulangnya'
Arumi menghidupkan mesin motornya dan bergegas ke rumah Ica dimana yang tak jauh dari lokasi saat ini
Hanya butuh 5 menit sampai di depan rumahnya Ica. Arumi segera mematikan motornya melepaskan helmnya kemudian menuju pintu masuk
'Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum" Arumi mengetuk pintu rumah Ica
"Waalaikumsalam, eh kak Arum. Cari kak Ica ya?" Jawab Febri, adik Ica
"Iya dek, kak Icanya ada?"
"Ada kak, di kamarnya. Bentar ya aku panggil dulu"
Arumi memang sudah dekat dengan keluarga Ica,karena ia seringkali kerumah Ica hanya sekedar mampir. Jadi tidak salah keluarga Ica juga kenal Arumi
"Arumi" Ica keluar dari bilik gorden ruang tengahnya sambil membenarkan jilbabnya
"Iya Ca"
"Masuk, duduk dulu. Bentar ya"
"Iya Ca" Arumi duduk di salah satu kursi ruang tamu
"Habis darimana Rum, kok mampir ke sini" Ica membawa 2 gelas air putih dan cemilan
"Aduh, repot sekali ini. Tiap aku kesini pasti ada cemilan, kamu nyetok atau gimana sih"
"Iya, aku nyetok buat kamu kalo mampir ke rumah aku kek gini" canda Ica
"Ada-ada aja"
"Emang kamu habis darimana?" tanya Ica sambil duduk di sebelah Arumi
"Hmm... habis dari to-ko per-hiasan"
"Ngapain? kami beli sesuatu?"
Arumi menggeleng
"Terus?"
Arumi tidak menjawab pertanyaan Ica, tapi Arumi malah mulai menangis mengeluarkan air matanya
"Loh loh, kok nangis. Ada apa?"
"Aku mau curhat" ucap Arumi pelan agar tidak terdengar oleh orang rumahan
Tolong ya kalau baca jangan lupa kasih like nya Kaka 👍
Thanks All ❣️