ARUMI

ARUMI
Malming



Happy reading Kaka ❤️


Hari ini sudah memasuki akhir bulan, Arumi berencana untuk pulang kampung karena ia sudah rindu dengan suasana keluarganya tanpa terkecuali kekasihnya


Arumi diberitahu jika Anwar akan memasuki pelatihan selama tiga bulan, itu juga pihak dari sana tidak diperbolehkan membawa ponsel


Seperti biasanya jika Arumi pulang kampung ia selalu di jemput oleh Anwar, justru itu keluarga Arumi selalu bertanya apa hubungannya dengan Anwar karena setiap Arumi pulang selalu di jemput oleh cowok


Sejak itu Tika selalu memojokkan Arumi untuk menjawab sebenarnya, Arumi terpaksa mengaku jika ada hubungan dengan Anwar. Tapi Tika malah mendukung karena dilihat dari cara sikapnya Anwar tipe orang yang bertanggung jawab


Pagi hari Arumi sudah sampai di halaman rumahnya, ia langsung mengistirahatkan tubuhnya dari perjalanan yang cukup jauh. Tapi ia tidak seharian full istirahat karena ia juga ingin membantu kakaknya menjahit walaupun Tika sudah melarangnya


"Gimana Rum kerja di sana?" tanya Tika di sela-sela kesibukannya


"Alhamdulillah lancar kak"


"Nggak ada saingan-saingan kan?"


"Saingan-saingan gimana?"


"Hati-hati dengan orang yang tidak kita kenal, dulu saat kakak merantau semua karyawan di sana selalu mencari muka terhadap atasan mereka biasanya hanya untuk mendapat posisi yang mereka inginkan. Tapi kakak nggak ikut-ikutan mencari muka, kakak sih kerja seperti biasanya aja"


"Cari muka itu kek gimana?"


"Ya seperti mencari perhatian lebih gitu masak nggak tahu"


"Oh. Kak aku mau cerita boleh kan"


"Cerita aja"


"Aku sudah diangkat menjadi GL oleh atasanku"


"GL yang bawahannya LL kan?"


Arumi mengangguk.


Tika tahu kedudukan GL karena ia pernah bekerja di beberapa pabrik tapi berbeda dengan Arumi bekerja saat ini


"Tapi aku takut kak"


"Takut gimana" Tika berhenti menjahit dan menghadap ke Arumi untuk fokus ke ceritanya


"Kan aku kerja juga belum satu tahun masak langsung dia angkat menjadi GL?"


"Itu berarti menurut mereka kerja kamu bagus, seperti teman kakak dulu belum kerja satu tahun sudah diangkat tapi..." ucap Tika menggantung


"Tapi apa?"


"Teman kakak dulu kan langsung diangkat menjadi GL juga, tapi teman yang lainnya nggak suka padahal mereka lebih lama kerja di sana. Menurut kakak sih pantes saja, mereka kalo kerja juga asal-asalan mana mungkin di samakan dengan teman kakak yang kerjanya lebih rajin"


"Tapi aku kan kerjanya biasa-biasa aja"


"Itu menurut kamu. Atasan kalo mengangkat karyawan baru bukan hanya dilihat dari rajin nggaknya tapi cara kerjanya gimana, sesuai target apa nggak terus yang paling penting harus tetap memenuhi standardnya"


"Oh, gitu ya kak. Tapi kalo aku di kucilkan aku harus bagaimana"


"Kamu ya harus tutup kuping, mereka mau bicara apa jangan masukin ke hati. Mungkin mereka akan mencari kesalahan-kesalahanmu agar kamu bisa di DO di pabrik kamu!"


"Iya kak, makasih udah ngasih tahu aku"


"Sama-sama dek, Intinya kamu harus hati-hati"


Arumi hanya mengangguk


Malamnya Arumi di jemput Anwar untuk keluar sebentar melepas rindu dengannya ternyata orangtuanya Arumi memperbolehkan keluar malam


Semenjak sudah bekerja Arumi pergi kemana saja diperbolehkan, berbeda saat Arumi masih sekolah. Waktu masih sekolah setiap Arumi ingin keluar pasti di tanya-tanya tapi sekarang langsung orangtuanya mengiyakan. Benar kata orang, kita akan di perlakukan berbeda saat kita sudah bisa mencari uang sendiri


Setelah sholat Maghrib Arumi segera berdandan kadarnya agar Anwar tidak malu jika berkencan dengan Arumi.


Akhirnya Anwar sampai juga di kediaman Arumi dan meminta izin kepada orang tuanya


Anwar tiba di halaman rumah Arumi, ia segera melepaskan helmnya dan menuju ke arah pintu


"Assalamualaikum" Anwar di depan pintu


"Waalaikumsalam, eh Anwar jemput Arumi ya?" ucap Tika


"Iya kak, Tika ada?"


Mendengar ada tamu Ningrum segera keluar dari ruang tengahnya yang tadinya sedang menonton televisi bersama suaminya


"Loh, nunggu Arumi ya nak" Ningrum setelah keluar dari bilik gordennya


"Iya Bu" Anwar segera menyalami Ningrum


"Bentar ya nak, ibu panggilkan Arumi dulu" jawab Ningrum setelah membalas salaman dari Anwar


Ningrum masuk kedalam kamar Arumi


"Rum, di luar anak temen kamu" Ningrum


"Iya Bu, bentar" Arumi mencari tas selempangnya dan berlari keluar kamarnya


"Udah, ayo" Ajak Arumi


"Bu, saya minta izin mau keluar sebentar sama Arumi" ucap Anwar meminta izin kepada ibunya Arumi


"Iya nak, kalo pulang jangan malem-malem ya. Nggak baik anak muda pulang malem" Ningrum mengingatkan


"Siap Bu" Anwar


"Aku keluar ya Bu" Arumi dan Anwar segera menyalami Ningrum dan Tika


"Jangan pulang di atas jam sembilan!" Teriak Dian di dalam ruang televisi


"Iya Ayah" Arumi juga berteriak


Mendengar Dian bersuara ia ingin juga menyalaminya, Anwar kembali berbalik badan tapi Arumi mencegahnya


"Udah nggak usah, Ayah udah tau kok" Arumi menahan tangan Anwar


"Oke"


***


Di Cafetaria


Setibanya Cafe Cafetaria yang Anwar sering nongkrong bersama teman-temannya, tak di sangka meja yang sering dipakai nongkrong juga ada teman-temannya. Ia lupa biasanya setiap malam Minggu ia bersama teman-temannya disini


"Hey bro!" Anwar menghampiri mereka dan menyalami dengan cara laki-laki seperti 'tos' tapi dengan gumpalan tangannya


"Widih, Malam Minggu pacarnya pulang terus lupa malam mingguan sama teman-temannya" Sindir Rendi


"Mumpung dia dirumah lah, kita kan juga sering-sering kesini" elak Anwar


"Iyaya, buruan sana gih. Apa mau bareng kumpul disini" Goda Aris


"Jangan Ris, nanti Anwar nggak bisa ***-*** dong. Hahaa" Goda lagi Rendi


"Pikiran lu pada nggak waras. Udah ah aku ke sana dulu!"


"Iya hati-hati, jangan sampe ketahuan!" teriak Rizki


"Awas lu ya" Anwar


"Nggak takut" Rizki


"Ada-ada aja" Anwar menggeleng-gelengkan kepalanya


Mereka berdua mencari tempat yang kosong, ternyata semuanya sudah penuh mengingat hari ini malam Minggu yang dimana setiap tempat di isi dengan para pasangan lainnya tak terkecuali Anwar dan Arumi


Mereka menghabiskan waktu bersama walaupun hanya beberapa jam lamanya dengan canda tawa menghiasi sekelilingnya


"..."


"Nanti balik ke kota J aku antar ya yang" tawar Anwar


"Nggak usah kan jaraknya juga lumayan jauh"


"Nggak apa-apa, ini mungkin pertemuan terakhir"


"Apa? Pertemuan terakhir??"


Arumi kaget atas perkataan Anwar