
Sreeeet... Suara pintu pagar dibuka
Anwar mendengar langsung menengok siapa yang telah membuka pagarnya
"Astaghfirullah" Anwar spontan menundukkan kepalanya sambil beristighfar
Teman Arumi yang tadi menjemur tiba-tiba keluar dari pagar besinya dan mendekati beberapa baju yang berjejer di jemuran diluar
Arumi kembali keluar untuk menemui Anwar yang duduk di depan kosnya setelah ia buang air kecil. Saat di depan pintu Arumi kaget teman yang tadi menjemur pakaian tiba-tiba sudah ada di depan jemuran yang diluar sepertinya ia mencari sesuatu
Arumi langsung duduk di sebelah Anwar tanpa menggubris tingkah laku temannya sendiri yang sepertinya sedang menggoda
"Jaga matamu!" Arumi berbisik di telinga Anwar
"Udah ini" Anwar menengok ke kiri dimana Arumi berada di samping kirinya, tak terduga ternyata jemurannya juga berada di sebelah kiri
Arumi langsung berdiri berpindah tempat di sebelah kanannya Anwar, sehingga Anwar menoleh ke kanan tidak ke kiri. Jika menoleh ke kiri ia juga bisa melihat seseorang tadi
Teman Arumi yang melihat Anwar menghadap ke Arumi terus, ia langsung masuk kedalam kos tanpa membawa baju satupun
"Lihatlah, dia kesana kesini mencari baju juga tidak membawa baju satupun ke dalam" suara Arumi pelan tapi masih bisa di dengar oleh Anwar
"Mungkin bajunya masih basah, positif aja yang" Anwar menenangkan Arumi yang terlihat sedang cemburu
"Mana ada, pasti dia tebar pesona" Arumi berfikiran negatif
"Kalo benar tebar pesona, memang kenapa?" tanya Anwar sembari menopang dagunya
"Gaboleh, matamu ini harus lihat aku aja jangan ke cewek lain" jawab Arumi dengan nada ketus
"Ini udah" Anwar terus memandangi wajah Arumi lekat-lekat
"Jangan lihat kek gitu ah, malu aku" Arumi menoleh kesamping
"Katanya mataku ini hanya boleh lihat wajahmu aja? Hmm?" Anwar meraih dagu Arumi langsung memutarkan kepalanya sehingga bisa bertatap muka dengan Anwar
"Maksudnya nggak gini juga kali" Arumi melepas paksa dari cengkraman tangan Anwar ia malu karena Anwar melihatnya begitu dalam
"Yang, aku boleh nanya?" ucap Anwar dengan serius
"Sok atuh!" Arumi mendengarkan dengan serius
"Tadi pagi kamu kemana?"
"Bukannya kamu udah lihat story aku? Aku cuman goes ke taman mini doang"
Arumi merasa aneh kenapa Anwar bertanya padahal jelas-jelas dia sudah melihat story yang Arumi buat tadi pagi
"Sama siapa?" Mereka saling berpandangan
"Sama Vina, depan rumah aku" jujur
"Nggak sama cowok?" Anwar langsung to the point
"Enggak"
"Tapi aku lihat kamu berbicara sama cowok"
"Kamu ada di sana?" Arumi kaget
"Iya, kebetulan" Anwar berbohong jika ia menyusul Arumi di taman mini
"Kenapa nggak kamu samperin akunya?"
"Aku kan nggak mau ganggu seseorang yang sedang berkencan di taman mini" Anwar memicingkan satu matanya
"Tunggu-tunggu, apa Anwarku ini sedang cemburu?" Goda Arumi sembari mencolek dagu Anwar
"Jangan gini dong yang, jawab aku dulu" Anwar langsung menoleh ke segala arah tapi langsung melihat Arumi lagi
"Sepertinya kamu sedang cemburu, udahlah akui saja" Arumi mengejek
"Iya aku cemburu, pacar mana yang melihat kekasihnya berbincang-bincang dengan seorang cowok dengan mata kepalanya sendiri?" Anwar dengan nada suara tinggi tapi tidak sampai membuat keributan
"Udah jangan marah-marah dong!" Arumi mengelus-elus pundak Anwar
"Jawab yang, itu siapa?" Anwar menepiskan tangan Arumi dari pundaknya
"Itu sebenarnya Pak Arya atasan di kerjaan aku, saat aku membeli minuman aku nggak sengaja menabrak beliau. Tak di sangka malah Pak Arya yang aku tabrak. Aku yang ingin kembali ke tempat dimana Vina berada eh malah Aku di ajak ngobrol sama Pak Arya, Nggak mungkin kan aku tiba-tiba langsung pergi meninggalkannya?"
jelas Arumi
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Anwar
"Beliau bertanya, apakah aku tinggal di sekitar sana, terus aku jawab tidak karena aku hanya mengunjungi taman mini sekalian goes dengan teman aku"
"Terus?" Anwar menaikkan satu alisnya
"Udah itu aja, aku langsung izin pergi untuk menemui Vina. Aku beralasan jika Vina sedang haus dan segera ingin minum"
"Beneran. Udah ya jangan cemburu-cemburu lagi" Arumi meraih tangan Anwar dan mengelusnya
"Kamu jangan menggoda aku ya yang!" Anwar memejamkan matanya merasakan usapan lembut dari tangan Arumi
Seketika Arumi langsung menampar tangan Anwar
Plak...
"Duh, sakit tauk yang!" Anwar mengelus-elus tangannya sendiri
"Kamu tuh mikirin apa, kok sambil merem-merem kek gitu" kesal Arumi melihat Anwar menikmati elusan darinya
"Ya menikmati elusan dari kamu lah" ucap jujur Anwar
"Aku tabok tau rasa!" Arumi yang hendak melayangkan tamparan tapi ia segera menjatuhkan tangannya sendiri
"Iyayaa, Maap"
Anwar melihat jam tangannya menunjukkan pukul setengah sepuluh malam
"Udah ya yang, aku balik dulu udah malem soalnya"
"Iya. Kamu nggak dimarahin kan sama mama kamu kalo pulangnya telat?" Arumi cemas
"Nggaklah, jangan khawatir" Anwar mengacak jilbab yang Arumi pakai
"Tapi aku khawatir" Arumi dengan ekspresi sedihnya
"Khawatir kenapa?"
"Nanti kalo kamu dijalan ketemu cewek terus kamu bawa pulang gimana?"
"Mana ada, cewek jam segini masih keluyuran?"
"Ada"
"Siapa?"
"Mbak Kunti. Hahaa"
"Kamu ya, berani-beraninya nakutin aku. Sini!" Anwar menepuk sebelahnya yang lebih dekat
"Nggak mau. Wlee" Arumi menjulurkan lidahnya
"Nggak mau nih? Yaudah" Anwar dengan gaya sok cemberutnya
"Idih, cemburu kek gitu makin tambah sayang deh" Arumi langsung berhamburan memeluk Anwar
"Gitu ya, apa aku harus cemberut dulu biar bisa kamu peluk kek gini?"
"Enggak ah" Arumi masih dalam pelukan Anwar yang enggan melepasnya
"Kamu disini baik-baik ya" Anwar membalas pelukan Arumi dan ia mengelus-elus kepala Arumi
"Kamu juga, baik-baik di sana"
"Kamu jangan nakal ya, kalo ada cewek cantik jangan terus kamu lirik sana sini" Sambung Arumi sembari mendongakkan kepalanya
"Nggaklah yang" Anwar terus mencium bau dari kepala Arumi
"Aku nanti kangen gimana? Kamu kan mau masuk pelatihan militer" ucap Arumi dengan nada sedihnya
"Masak cuman tiga bulan kamu nggak bisa?"
"Nggak tau"
"Hei, lihat aku!" Anwar memegang kedua pipi Arumi agar bisa melihat wajahnya
"Aku serius sama kamu yang, tolong jangan buat main-main hubungan kita. Aku janji setelah aku mendapat pekerjaan aku akan segera melamar mu"
"Benarkah itu?" Arumi melihat kedua bola mata Anwar dan tidak melihat kebohongan di sana
"Aku serius"
"Makasih ya, udah mau menyakinkan aku" Arumi kembali memeluk tubuh Anwar
"Iya yang aku juga makasih udah Nerima aku"
Mereka sama-sama mempereratkan pelukannya, Anwar melepaskan pelukannya dan memberi jarak antara keduanya.
Anwar memegang kedua pipi Arumi dan ingin mendekatkan bibirnya ke bibir Arumi yang berusaha untuk mencium, Arumi mengetahui itu ia langsung memejamkan matanya. Bibir Anwar mendekat dan terus ingin mendekat, seketika
"Ehem..". Suara deheman seseorang dari jalan
***
Eitss, Di tahan ya Kaka 😂❣️❣️❣️