ARUMI

ARUMI
Pamit



Arya mulai memegang gagang pintu dan memutarnya perlahan...


Ceklek


Suara pintu terbuka


Ningrum yang berada di dalam sana menoleh ke pintu untuk tahu siapa yang bertamu si sore-sore ini. Mendengar pintu ada yang membuka reflek Arumi dan Ningrum langsung menghapus air mata mereka agar tak terlihat jika sedang menangis, tapi kenyataannya kedua mata merekapun terlihat sembab


"Maaf tadi saya sudah mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan, jadinya saya langsung masuk ke dalam" Ucap Arya di ambang pintu


"Tidak apa-apa Pak, silahkan masuk" Ningrum mempersilahkan Arya masuk dan di jawab Arya dengan anggukkan kepala


"Pak Arya ya Bu?" bisik Arumi kepada Ibunya


"Iya nak" jawab Ningrum yang tak kalah membisikkan ke Arumi


Arya berjalan pelan-pelan ke samping Brankar Arumi


"Silahkan duduk sini Pak" Ningrum beranjak dari kursinya tapi di tahan oleh Arya


"Tak usah Bu, saya hanya sebentar saja" Kata Arya dengan selembut mungkin dan sedikit tersenyum


"Ah, kalau begitu saya akan keluar saja agar Pak Arya bisa leluasa bicara dengan Arumi" Ningrum merasa canggung di antara mereka


"Terima kasih" ucap Arya


Tap... Tap... Tap...


Suara Ningrum berjalan menjauhi Arya dan Arumi di tempat


"Ada urusan apa Pak Arya datang kemari?" Arumi mengawali pembicaraan setelah suara pintu tertutup


"Saya mau memberitahu kalau besok kamu bisa langsung di operasi"


"Beneran Pak?" Arumi dengan wajah sumringah


"Iya" Arya masih berdiri di samping Brankar Arumi dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya


"Nanti seperti kemarin bapak bilang besok tapi tidak jadi?" Arumi menundukkan kepalanya


"Tidak, besok jadi di operasi. Kemarin hanya ada kendala sehingga tidak bisa, besok kamu bisa di operasi karena semuanya sudah beres tinggal menunggu pihak rumah sakit yang mempersiapkan operasinya" jelas Arya


"Oh begitu pak" Arumi seraya menganggukkan kepala


"Heemm" Arya berdehem


"Pak Arya" Arumi mendongakkan kepalanya


"Iya?" Arya yang masih dalam keadaan memandang wajah Arumi


"Pihak perusahaan tidak rugi kan menanggung operasi saya? Saya juga belum satu tahun bekerja di sana masak iya sudah mendapat jaminan kesehatan sebesar ini?" ucap Arumi hati-hati


"Apa kamu tidak mau sembuh?" Arya bukannya menjawab tapi malah bertanya


"Bu-bukan begitu pak, menurut saya ini mungkin terlalu berlebihan" Arumi mengibas-ngibaskan tangannya ke depan


"Kalau begitu untuk itu setelah sembuh nanti kamu mengabdi bekerja di sana sampai waktu lebih lama lagi atau sesuai prosedur untuk karyawan tetap" Entah ide darimana Arya langsung menjawab


"Bagaimana ya, mungkin ini jalan satu-satunya untuk menebus biaya operasi nanti"


"Baik kalau begitu Pak, saya mau" jawab Arumi dengan mantap


"Iya" hanya kata iya yang bisa Arya jawab, tetapi berbeda dengan hatinya yang ingin meledak


Hening


"Mungkin ini terakhir kali aku melihat kamu Rum" celetuk Arya dalam hati sembari menatap Arumi yang memandang lurus di depan


"Pak Arya masih disini?" Kata Arumi


"Iya" Arya yang tetap memandang ke arah Arumi


"Saya mau minta maaf jika sudah merepotkan Pak Arya" kata Arumi yang sedikit bergetar tangannya sembari meremas selimut yang ia pakai


"Tidak, itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai pemi..." Jawab Arya yang hampir saja keceplosan


"Pemi apa Pak?" kata Arumi penasaran


"Sebagai pengawas karyawan maksud saya" Arya menggarukkan kepalanya yang tidak gatal


"Tapi kan Pak Arya tidak usah turun tangan langsung untuk menangani ini semua"


"Tidak apa-apa" Arya seraya memasukkan kembali tangannya ke dalam saku celana


"Hmm" Arumi berdehem sembari tersenyum manis


"Oh iya, besok saya sudah mulai tidak masuk di pabrik xx" Ini tujuan awal Arya menemui Arumi


"Emang masalah buat aku?" kata yang ingin sekali Arumi ucapkan tapi ia ingat bicara dengan siapa


"Emang kenapa pak?" mungkin kalimat ini lebih menghargai


"Saya mau di pindahkan di kota lain" ucap Arya sembari melihat-lihat sekelilingnya


"Di mana itu Pak?" Arumi terpancing dengan rasa penasarannya


"Jauh dari sini" Arya kembali menghadap ke arah Arumi


"Berarti di Pabrik xx ada banyak ya Pak sampai-sampai ada di mana-mana"


"Terus bapak akan pindah yang mana" Arumi memancing Arya untuk menjawab kemana ia di pindahkan


"Di spa, eh Samarinda" Arya gelagapan


"Spa? Samarinda? Beda banget katanya" Arumi ganjal atas jawaban Arya


"Jauh banget Pak, perjalanannya memakan waktu berapa?"


"Hampir satu hari" Arya menjawab Asal


"Mana ada naik pesawat nggak nyampe satu hari kan?" Arumi tersenyum kecut


"Hmm" deheman Arya


"Pak Arya ngasal nih" Arumi dengan tertawa


"Rum..." Arya memberhentikan ketawa Arumi


"Ya?" seketika tawa Arumi berhenti


"Kamu baik-baik ya, jaga kesehatan"


"Tiap hari saya jaga kesehatan kok tanpa Pak Arya minta"


"Mungkin ini terakhir kali saya bertemu dengan kamu" Arya yang mulai bicara serius


"Memang rumah Pak Arya dimana?"


"Kota S"


"Dari kota S ke sini tidak memakan waktu sehari kan Pak? Masak iya Pak Arya tidak pulang kampung, atau jangan-jangan Pak Arya mau berkeluarga di Samarinda?"


"Tidak. Mungkin saya tinggal di apartemen sana"


"Pak Arya ke sana sendirian?"


"Hmm"


"Terus istri Bapak nggak ikut?"


"Apa tampang saya sudah terlihat seperti berkeluarga?"


Arya maju satu langkah mendekati Arumi


"Uups, maaf Pak sudah lancang" Arumi membungkam mulutnya sendiri


"Mungkin wajah saya pasaran" Arya mengalihkan pandangannya


"Bukan begitu Pak, maksud saya kan pasti Pak Arya sudah berkeluarga secara kan Pak Arya sudah terlihat mapan" Jelas Arumi yang merasa tidak enak dengan atasannya


"Saya belum menikah" Suara lantang Arya


"O'oo" Arumi ber'o' ria


"Ini sudah kesorean, saya mau pamit pulang ya Rum" Ucap Arya setelah melihat jam tangannya


"Iya Pak hati-hati"


"Kok nggak di tahan sih" Arya kesal ternyata kepergiannya malah di iyakan oleh Arumi padahal ia berharap Arumi bisa menahannya untuk lebih lama lagi


"Yasudah, kamu jaga kesehatan ya" Arya mengelus puncak kepala Arumi


"Insyaallah, Pak Arya juga jaga kesehatan" Arumi kaget tiba-tiba ada yang mengelus kepalanya


"Iya. Semoga operasi besok lancar tanpa ada hambatan" Tangan Arya menurun ke pipi kiri Arumi tapi belum sempat menyentuhnya ia turunkan mengingat Arumi bukan siapa-siapanya


"Aamiin Pak" Arumi mengangguk


"Saya pulang dulu, Assalamualaikum" Arya pamit


"Waalaikumsalam" jawab Arumi pelan


Arya langsung keluar ruangan Arumi dan saat sudah di luar ia bertemu dengan Ningrum ibu dari Arumi


"Sudah selesai Pak?" Ningrum berdiri setelah Arya keluar dari dalam


"Sudah Bu" Arya menutup pintunya


"Pak Arya mau langsung balik ke rumah?"


"Iya Bu, ini juga sudah kesorean"


"Hati-hati di jalan Pak" Ningrum menundukkan kepalanya


"Iya, saya nitip Arumi ya Bu" Pak Arya menepuk pelan pundak Ningrum dan langsung meninggalkannya di tempat


"Maksudnya apa nitip Arumi, jelas-jelas Arumi anaknya sendiri tentu akan aku jaga dengan senang hati"


***


Maksudnya gimana ya kak?


Ikuti aja cerita selanjutnya


BTW thanks kak udah mau mampir disini ❣️❣️❣️