
"Kak, besok kan Arumi kerjanya cuman 5 hari kerja dalam seminggu. Misal aku ambil hari weekend untuk kuliah boleh nggak?" Tanya Arumi dengan hati-hati
"Yakin malu kuliah?"
Arumi mengangguk
"Kakak dukung kamu kalau memang kamu ingin kuliah, kamu izin dulu sama ayah ibu mereka setuju nggak"
"Aku nggak berani"
"Kalau kamu pengen banget kuliah mungkin kakak nggak bisa bantu, kamu sanggup bayar kuliah kamu sendiri?"
"Aku mau coba jalur beasiswa"
"Emang ada jalur beasiswa yang kuliahnya cuma weekend aja?"
"Nggak tau"
"Kakak ingetin ya dek, kita tuh orang susah kakak sebenarnya nggak rela kalau lusa kakak lepas dari rumah ini kamu bakal jadi tulang punggung keluarga. Tapi kakak juga punya keluarga sendiri, ini juga Mas Dayat sama kakak lagi fokus untuk bangun rumah" Ucap hati-hati Tika untuk menyadarkan Arumi akan kondisi keluarganya
"Ya Allah, aku baru sadar kalau kakak juga punya keluarga kecil sendiri. Gimana kalau udah keluar dari rumah, aku bakal jadi tulang punggung keluarga aku di umurku yang masih muda ini?" Batin Arumi
"Iya kak, aku nggak jadi mau kuliah" Arumi mencoba tersenyum meski hatinya rapuh
"Kalau kamu tetep mau kuliah, kakak doain aja semoga masa depanmu lebih baik dari kakak"
"Aamiin kak, kakak juga ah"
***
Dari balik pintu kamar Arumi mendengar samar-samar dari pembicaraan Pak Dian bersama Tika, ternyata mereka sedang membahas tentang Arumi yang ingin melanjutkan kuliah
Di ruang tamu
"..."
"Kalau Arumi ingin masuk kuliah, Ayah nggak ngizinin dia. Sekolah tinggi ujung-ujungnya juga mau jadi apa? Liat sepupumu si Fina dia lulusan S1 kerja jadi penjaga apotek, Mau jadi apa haa? Kita hanya hidup sederhana, apa kata tetangga nanti, pasti mikirnya sok-sokan nguliahin anaknya padahal hidupnya juga pas-pasan!"
Ucap Pak Dian dengan nada ketusnya
"Bilangin ke adik kamu, kalau dia tetep masih mau kuliah. Ayah sudah nggak mau ngurusin dia lagi"
Dian berucap lalu pergi meninggalkan Tika dengan raut muka ketakutan
"Astaghfirullah, Maafin kakak ya Arumi. Misal kakak nggak nanya sama ayah pasti nggak akan jadi begini"
Tika menyesal karena sudah membuat ayahnya marah
Di kamar Arumi sedang menangis ia paham betul jika perkataan ayahnya tadi tidak sesuai yang Arumi harapkan dimana keluarganya akan mendukung untuk masuk kuliah
Ayah, aku pengen kuliah juga untuk masa depanku mengejar cita-cita itu hanya untuk bahagiain kalian. Kenapa kalian nggak dukung aku? Hiks... Hiks..
Ayah benar kita hidup aja udah pas-pasan, masak iya aku sok-sokan masuk kuliah. Aku memang egois hanya mementingkan keinginanku saja"
Arumi menangis di bawah bantalnya,Ia menyesali ata apa yang pernah ia inginkan tanpa berfikir terlebih dahulu
"aku harus fokus kerja dulu, urusan kuliah nanti kalau aku udah ada uang cukup. Yang terpenting keluargaku bisa hidup lebih baik dari sekarang" Arumi menyemangati dirinya sendiri
Sibuk dengan menangisnya, Arumi tidak sadar jika ia terlelap tidur dengan mata yang membengkak. Sejak itu Arumi tidak keluar dari kamarnya semalaman, ia masih takut nanti jika berhadapan dengan ayahnya
Didalam kamar, Arumi hanya bisa bermain dengan ponselnya yang ia gunakan untuk menonton drama Korea kesukaannya
Tak lama kemudian, sebuah pesan dari temannya bernama Ifa mengajak Arumi untuk keluar rumah bersama yang lainnya
Ifaaa 📥
'Rum, ayo main
...'Kemana...
'Katanya anak-anak pada ngajak untuk bikin rujak buah
...'Dimana?...
'Di rumahnya Sari, kan rumahnya deket sama pantai. Nanti kita juga bisa ke pantai
...'Jam berapa...
'Sari sih bisanya sore-sore, sekitar pukul 2 siang
...'Ehm, baiklah...
'Nanti nggak usah bawa motor, aku yang jemput kamu biar kita berangkatnya barengan
...'Iya Fah...
Arumi mengiyakan ajakan Ifa, karena dengan berkumpul dengan temannya ia bisa melupakan kejadian tadi
Tiba Pukul 2 siang, ternyata Arumi sudah bersiap-siap tinggal nunggu Ifa menjemput tak lama kemudian ada pesan dari Ifa memberitahukan jika ia sudah di depan rumahnya
Arumi berjalan keluar rumah, ia melewati Tika tanpa berpamitan terlebih dahulu karena ia masih dalam mode badmood
"Mau kemana kamu!"
Jangan lupa like dan komennya Kaka
Saranmu semangatku! ❣️❣️❣️