
Di RS Dharmais
Arumi mengerjapkan matanya dari tidurnya yang akhir-akhir ini sangat pulas, ia mulai menjalani hari-hari dengan ikhlas tanpa bisa melihat kembali. Walaupun dari awal ia tidak percaya akan musibah ini terjadi
"Ibu..." Panggil Arumi ke Bu Ningrum
"Iya nak, sebentar" Bu Ningrum yang dari luar mendengar Arumi memanggilnya ia langsung buru-buru masuk kedalam
"Ibu, aku haus minta minum" Arumi beranjak dari tidur untuk bisa duduk bersandar di dinding brankarnya
Mendengar Arumi minta air Bu Ningrum langsung menyambar gelas yang berada diatas meja nakasnya kemudian mengisi dengan air setengah gelas
"Ini nak, minumlah" Bu Ningrum menyodorkan gelas ke tangan Arumi dan membantu meminumnya
"Ibu tadi dari mana?" tanya Arumi yang sudah meneguk air hingga habis
"Aku panggil kayaknya dari luar" sambungnya
"Iya, ibu habis dari luar" jawab jujur Bu Ningrum
"Emang diluar ada siapa Bu, apa ada tamu?"
"Di luar ada Pak Arya atasanmu, dia hanya ingin menjenguk kamu saja"
"Benarkah Bu itu Pak Arya Wiguna?" Arumi kaget
"Benar nak"
"Tolong jangan suruh masuk dulu Bu, mana hijab aku?" Arumi yang memegang kepalanya ternyata belum terbalut dengan hijabnya
"Sebentar, ibu ambilkan hijab instan aja ya" Bu Ningrum mencari hijab yang berada di lemari samping ranjangnya
Arumi hanya mengangguk
"Ini nak" Bu Ningrum membantu mengenakan hijab ke kepala Arumi
"Udah cantik sekali anak ibu yang satu ini" Bu Ningrum mencolek hidung Arumi dan memberi sedikit candaan
"Anak ibu mah memang cantik semua. Hahaa" Arumi tertawa dengan matanya yang menatap lurus ke depan
"Iya kamu benar, anak ibu cantik semua.
Nak Pak Arya bolehkan masuk ke dalam?" Bu Ningrum meminta izin ke Arumi
"Iya Bu, masak ada tamu di biarkan diluar. Ibu ada-ada aja deh" Arumi sembari tertawa kecil
"Sebentar ya, ibu panggilkan Pak Arya dulu"
Bu Ningrum beranjak dari duduknya, ia keluar ruangan untuk memanggil Pak Arya masuk kedalam
Tap...Tap...Tap...
"Assalamualaikum" Pak Arya berdiri di samping ranjang Arumi
"Wa-waalaikumsalam" jawab Arumi yang mulai gugup
"Bagaimana Rum, kabarnya" ucap basa-basi pak Arya
"Baik Pak, seperti yang Anda lihat" jawab Arumi yang memaksakan Senyumnya
"Bu, bisa saya bicara dengan Arumi berdua saja?" izin Pak Arya yang ingin berbicara empat mata dengan Arumi
"Oh, baik Pak. Nak, ibu keluar dulu ya" Bu Ningrum mengelus tangan Arumi untuk meminta izin
"Iya Bu" Arumi mengangguk
"Pak Arya mau bicara apa?" tanya Arumi setelah mendengar langkah ibunya mulai hilang
"Saya mau tanya bagaimana kamu bisa menjadi seperti ini, tapi kenapa Vita baik-baik saja. padahal kalian sama-sama berada di dalam satu bis?"
Kini Arumi menjelaskan semua kronologi dari awal mula ia ingin pulang kampung sampai terjadinya sebuah kecelakaan, Arumi juga menjelaskan dimana posisinya sedang tidur dan saat bangun ia sudah berada di rumah sakit, ia bahkan menjelaskan beberapa instruksi dari sang sopir yang pernah Vita ceritakan tetapi tidak terdengar di telinganya
Bagaimana bisa gadis yang baru lulus sekolah harus menjadi tulang punggung di keluarganya, kelak kakaknya yang akan berumah tangga sendiri. Akan menjadi beban bagi Arumi yang masih kecil jika ia harus menjadi tulang punggung
"Saya salut dengan kamu Arumi, saya sudah lihat dari bagaimana kamu kerja pada saat masa training. Ternyata baru aku tahu jika kamu memiliki beban yang begitu berat, seharusnya di usia kamu masih bisa melanjutkan pendidikanmu. Entah perasaan apa ini, rasa kagum atau Kasihan?" Batin Pak Arya
Pak Arya memandang lekat Arumi dalam-dalam, Arumi menceritakan semua yang terjadi begitu saja. Padahal Pak Arya sendiri tidak fokus pada cerita Arumi, tapi ia hanya fokus memandang wajah Arumi yang terlihat begitu pucat tidak seperti biasanya
Arumi menceritakan bagaimana caranya ia bisa seperti sekarang ini dengan pandangan lurus, tak lupa setiap ceritanya ia selalu selingi dengan air mata. Untuk itu Pak Arya yang melihatnya ingin sekali menghapus air mata Arumi, tangannya yang sudah mendekati Pipi basah Arumi tapi ia segera turunkan karena tidak mau nanti Arumi salah paham
"Pak?" Arumi selesai menceritakannya
Pak Arya hanya diam, ia terus saja memandang lekat wajah Arumi
"Pak Arya masih di situ?" Arumi sembari menggerak-gerakkan tangannya ke depan seperti mencari sesuatu
"Oh, I-Iya. Saya masih disini" Pak Arya dengan reflek memegang tangan Arumi saat berada di depannya kemudian diturunkan tangan Arumi di atas paha Arumi
"Saya kira bapak tidur, kok nggak ada suaranya. Hehe" Arumi langsung menarik tangannya yang tadi di pegang Pak Arya
"Maaf, saya tidak sengaja"
"Iya Pak tidak apa-apa"
"Emm, Arumi. beberapa hari lalu saya sudah mengajukan kamu ke HRD untuk mengajukan Jaminan kesehatan agar kamu bisa segera dioperasi"
"Iya Pak saya sudah mendengar dari ibu saya, tapi apa itu tidak terlalu berlebihan? bahkan saya bekerja di sana belum genap setahun masak iya sudah mendapatkan jaminan ini?"
"Kenapa? apa kamu tidak senang?" Pak Arya mengangkat sebelah kanan alisnya tidak menjawab tapi malah membalikkan pertanyaannya
"Bukan begitu Pak, gaji saya selama di sana juga belum tentu cukup untuk melakukan operasi ini. Saya tahu biayanyapun juga tidak kecil, saya rasa tidak perlu Pak" tolak halus Arumi untuk operasi
"Kamu jangan pikirkan soal itu, saya sudah mengajukanmu dan pihak HRD pun juga menyetujuinya. Kamu jangan egois Arumi, Ibu kamu juga pasti akan senang jika kamu bisa melihat kembali"
Pak Arya yang mulai meninggikan nada suaranya
"Tapi Pak, say-"
"Sudah, tolong jangan kamu tolak untuk melakukan operasinya. Ini juga untuk kebaikan kamu dan juga keluarga kamu"
"Bapak benar, saya harus bisa sembuh untuk mulai bekerja kembali. Mengingat ada keluarga saya yang butuh makan untuk sehari-harinya" Arumi dengan sedikit senyum mengejek dirinya
"Maksud saya bukan begitu..." ucap Pak Arya di potong Arumi
"Sudahlah Pak, jika pihak dari HRD memaksanya saya mau untuk dioperasi" jawab mantap Arumi
"Bukan HRD Arumi, tapi aku yang ingin kamu bisa sembuh lagi" kata yang ingin sekali pak Arya ucapkan tapi ia urungkan karena jika Arumi tahu pasti Arumi menolak mentah-mentah
"Baik, mulai besok kamu bisa dioperasi. Saya akan urus semuanya. Kamu istirahatlah agar besok operasinya bisa berjalan dengan lancar"
"Baik Pak"
"Saya keluar dulu, sampai bertemu besok" Pak Arya tanpa sadar mengelus kepala Arumi pelan
"Pak.." Arumi memegang tangan Pak Arya yang berada di kepalanya
"Terima kasih atas semuanya" sambung Arumi yang masih memegang tangan pak Arya ia di letakkan di depannya yang menggenggamnya
"Iya" Tanpa aba-aba Pak Arya melepaskan tangannya dan langsung pergi dari ruangan Arumi
Pak Arya membuka pintu, keluar dari ruangan kemudian ia berjalan mendekati jendela yang memperlihatkan Arumi didalam. Ia memegang dadanya yang sepertinya jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya
"Ada apa dengan jantungku?" tanya Pak Arya kepada dirinya sendiri
***
Thanks ya Kaka udah mau nunggu update dari aku
Jangan lupa Like dan komen-nya ❣️❣️❣️