
Setelah puas berfoto-foto Arumi melirik Anwar yang berada di samping tasnya, jika dilihat sepertinya Anwar hendak mendirikan tenda. Anwar yang merasa gerah ia membuka baju yang di pakai dan entah apa yang Anwar lakukan dengan kakinya
"Nikmat mana yang kau dustakan?" gumam Arumi saat melihat postur tubuh kekasihnya
Detik demi detik Arumi menyadarkan lamunannya, tak disangka Anwar berganti kaos yang lebih tipis mungkin baju yang tadi dipakai sangat panas. Melihat Anwar ingin mendirikan tenda Arumi langsung menghampirinya
"Ayo aku bantuin" Arumi menawarkan diri
"Nggak usah Yang, kamu istirahat aja sana" jawab Anwar yang masih tetap mengeluarkan barang-barangnya
"Nggk papa. Nanti kamu juga bantuin tenda aku ya"
"Iya bawel"
Arumi tetap membantu Anwar untuk mendirikan tenda meskipun Anwar melarangnya. Anwar takutnya nanti Arumi akan kecapean karena beberapa bulan lalu ia habis melakukan operasi tetapi Arumi ngotot untuk membantu
"Kalau kamu capek istirahat aja, nanti aku yang ngelanjutin" Anwar yang melihat keringat yang bercucuran di kening Arumi
"Nggak capek kok, gerah aja" Arumi mengibas-ngibaskan tangannya
"Keringat kamu kok banyak, kamu sakit Yang?" Anwar mendekati Arumi yang memang mengeluarkan keringat yang banyak sampai-sampai kerudungnya terlihat basah
"Nggak! Aku gerah doang, disini kan udaranya sejuk nanti juga gerahnya hilang"
"Terserah kamu deh" Anwar pasrah karena Arumi ngotot untuk tetap membantunya
Menjelang sore semua tenda sudah tersusun dengan rapi, warna-warni dari tenda membuat suasana hati ceria ketika mata memandang.
Beruntung di sana ada sebuah tempat persinggahan termasuk mushola bahkan ada juga kamar mandi. Memang Anwar memilih tempat yang ada tempat persinggahan, hal itu sangat memudahkan para pengunjung tanpa harus susah payah mencari sumber mata air lagi
Setelah Arumi mandi dan sholat, ia menunggu Anwar
selesai mandi di tenda milik Anwar. Pemandu menyarankan agar cowok dan cewek tidak boleh satu tenda saat tidur kecuali mereka yang sudah menikah
Arumi yang berada didalam tenda Anwar senyum-senyum sendiri saat melihat Anwar selesai mandi dengan rambut yang basah ia keringkan menggunakan handuk kecil itu membuat auranya semakin terlihat
"Ngapain kamu kamu senyum-senyum Yang?" Anwar kaget karena Arumi berada di tendanya terlihat senyum-senyum sendiri
"Senyum nggak boleh emang?" ekspresi wajah Arumi langsung berubah menjadi cemberut
"Boleh dong. Emang ada apa kok senyum sendiri?" Anwar lalu berjongkok menghadap Arumi yang sedang tengkurap
"Hmm" Arumi tampak berfikir
tidak mungkin Arumi bicara jika terpesona dengan kekasihnya sendiri nanti bisa-bisanya Anwar menjadi besar kepala, pikir Aeumi
"Kamu mau menakut-nakuti orang yang ada disini?"
Sambung Arumi
"Maksudnya?" Anwar berhenti menggosok rambutnya, ia tampak bingung apa yang di ucapkan oleh Arumi
"Tuh, handuk kamu"
Anwar melihat-lihat handuknya, di bolak-balikkan kain tersebut sampai ia menemukan titik kesalahannya. Anwar masih bingung apa yang Arumi maksudkan, Ah ternyata
"Ini?" Anwar menunjukkan logo kecil TNI yang berada di sudut handuk
"He um" Arumi mengangguk
"Itu bisa jadi, tapi yang penting nggak ada yang berani macam-macam dengan kekasihku ini" Anwar duduk di sebelah Arumi yang masih tengkurap
Tentu bukan itu alasannya Anwar membawa handuk dari seragam TNI, sebenarnya Anwar juga tidak tahu jika ia membawa handuk tersebut karena ia asal mengambil tanpa melihat terlebih dahulu
"Kamu masak apa?" Anwar melihat kompor yang sedari tadi menyala lalu ia buka tutup panci tersebut
"Mau masak mie instan" Arumi mengeluarkan mie instan berbentuk cup
"Ngapain kamu masak? nanti akan dapat makanan dari sini" Anwar memberitahukan jika memang ia pilih muncak disini dengan berbagai fasilitas
"Aku maunya mie instan!" Kata Arumi dengan penuh penekanan
"Oke-oke, tapi nanti kamu makan nasi loh ya" Anwar tahu betul ekspresi Arumi ketika marah
"Aku mau dong di bikinin teh hangat" Beruntung tadi Anwar belanja dengan berbagai macam cemilan bahkan sampai minuman bubuk
"Kamu mau teh?" Raut wajah Arumi kembali ceria
"Iya"
"Sebentar aku ambilkan tehnya"
Arumi menggeledah tas belanjaan yang dari toko belanja tadi
Setelah di rasa air rebusan sudah mendidih, Arumi mengambil satu gelas air sebelum ia tuangkan ke dalam cup mie instan. Tak lupa satu saset teh celup serta satu saset gula ia masukkan ke dalam cangkir yang berisikan air mendidih
"Kamu mau mie nggak?" tawar Arumi
"Nggak usah" tolak Anwar
"Oke"
Sembari menunggu mie instan mengembang, Arumi bermain dengan ponselnya sedangkan Anwar masih sibuk mengeringkan rambutnya yang masih basah. Mengetahui itu, Arumi berinisiatif merebut handuk yang dipakai Anwar untuk membantu mengeringkan rambutnya
"Ngapain kamu?" Anwar terkejut ketika Arumi mengambil handuknya
"Siniin kepalamu" Arumi memegang dagu Anwar dan menyeret untuk mendekat
Tanpa aba-aba Arumi langsung berjongkok agar bisa sepadan dengan kepala Anwar, ia menggosok-gosokkan rambut memakai handuk dengan pelan-pelan supaya si pemilik tidak merasa kesakitan
"Akhirnya kamu peka" celetuk dalam hati Anwar yang berbunga-bunga
Ternyata Anwar menggosokkan rambutnya itu ia sengaja untuk melihat seberapa pekanya Arumi terhadap dirinya. Tak di sangka secepat itu Arumi peka atas tindakan Anwar
"Nih, udah kering" dikira sudah kering Arumi memberhentikan gosokannya
"Iya udah, buruan makan gih nanti keburu dingin"
"Teh kamu juga dong" Arumi menunjuk secangkir teh dengan sorot matanya
"Ini kan tinggal setengahnya doang, tak apa lah kalo dingin-dingin" elak Anwar
"Terserah" Arumi kalah berdebat dengan Anwar
Tanpa menunggu lama Arumi langsung memakan mie instan yang tadi di buat. Aroma yang menggugah selera menjadikan cacing-cacing di perut Anwar kian memberontak ingin meminta jatah makan
"Yang minta dong!" Anwar tidak tahan dengan aroma yang sangat lezat
"Tadi aku tawarin nggak mau"
"Tadi aku nggak pengen makan mie, tapi mencium baunya jadi pengen. Hehe" ucap Anwar yang cengengesan
"Nyenyenyenyee" cibiran Arumi kepada Anwar
Walaupun Arumi kesal dengan Anwar karena mengganggu waktu makannya tetap saja ia menyuapi Anwar. Tak rela rasanya harus berbagi makanan yang hanya satu cup mie instan untuk berdua
"Kamu cantik deh" kata Anwar setelah mendapat suapan pertama dari Arumi
"Bilang cantik kalo ada maunya" gumam Arumi yang masih bisa di dengar oleh Anwar
"Nggak kok, kamu cantik setiap saat" ucap Anwar sembari mengunyah mie didalam mulutnya
"Kalo makan nggk boleh bicara" Arumi mengingatkan jika sedang makan tidak boleh bicara
"Terus yang ada di mulut kamu apa? angin?" Anwar menahan tawanya, padahal mulut Arumi juga ada makanan yang di kunyah
"Aku kan mengingatkan kamu aja!" kata Arumi dengan mulut yang masih penuh
Mengingatkan orang lain tapi tidak mengingatkan pada diri sendiri, pikir Anwar
***
Hayalan Author nih kak pengen banget muncak ;'(
Kalo ada yang pernah muncak bagi sini dong ceritanya
Nanti misal bagus author masukin deh kesini ❣️❣️❣️