ARUMI

ARUMI
Arya Wiguna



089234765xxx 📤


'...'


'Terima kasih'


'Sama-sama Pak. Bapak kenapa kok sepertinya peduli dengan Arumi?'


Lama Pak Arya membalas pesan Vita, apa ia bingung harus menjawab bagaimana, mungkin orang lain juga akan heran dengan perilaku seorang supervisor yang sepertinya sangat khawatir dengan keadaan bawahannya


'Begini, pihak HRD bisa memberikan Jaminan kesehatan dari perusahaan kepada karyawannya yang sedang sakit. Untuk mengajukannya harus tahu keadaannya terlebih dahulu'


'Benarkah itu Pak?'


'Iya, semua biaya bisa di tanggung oleh perusahaan'


'Kalau begitu saya akan beritahu ke Bu Ningrum besok, pasti Bu Ningrum senang sekali akhirnya Arumi bisa di operasi'


'Yasudah, saya hanya ingin tahu keadaan Arumi lewat kamu saja'


'Maksud Bapak bagaimana?'


'Oh, maksud saya informasi untuk saya ajukan ke bagian HRD'


'Begitu ya Pak. Yasudah Pak, Assalamualaikum'


'Waalaikum salam'


***


Di kamar Vita


"Ya Allah, aku senang sekali Arumi bisa operasi. Mudah-mudahan ia segera sembuh dan bisa melihat kembali. Alhamdulillah ya Allah"


Ucap rasa syukur Vita


"Aku harus hubungi Bu Ningrum sekarang, ini berita baik sekali" Dengan rasa bahagia ia segera menelpon Bu Ningrum Ibunya Arumi


Bu Ningrum ...📞


"Kok nggak di angkat ya" Vita yang menghubungi nomor Bu Ningrum tetapi belum diangkat juga


"Coba sekali lagi deh" Vita kembali menelpon Bu Ningrum, tetap juga belum diangkat


"Yasudahlah, nanti saja. Mandi dulu baru nelpon"


Vita beranjak dari duduknya lalu menyambar handuk yang di gantung dan segera masuk ke kamar mandi


***


Di RS Dharmais


Bu Ningrum yang habis melakukan bersih-bersih di ruang Arumi dirawat dilihat anaknya yang sedang tidur dengan pulas. Bu Ningrum mengambil ponsel jadulnya dan ia dikagetkan dengan beberapa panggilan tak terjawab dari Vita, tak lama kemudian ia langsung menelpon balik


Vita 📞


"Halo Assalamualaikum" Vita


"Waalaikum salam Vita, ada apa ya kok tadi nelpon?"


"Gini Bu, Vita mau ngabarin kalo tadi sore saya di telfon dari atasan Arumi"


"Terus?"


"Arumi akan melakukan operasi Bu" Suara Vita dari sebrang sana yang kegirangan


"Kok bisa? Ibu nggak ngerti maksud kamu"


"Tadi di telfon pak Arya selaku atasan Arumi memberi kabar akan diberi jaminan kesehatan jika ada karyawan yang sakit"


"Benar juga ya Bu, tapi tadi Pak Arya yang bilang kaya begitu. Mungkin kan Arumi juga sudah menjadi pegawai tetap di sana, kedudukannya juga lumayan bagus"


"Mungkin ya Vit, bisa jadi seperti itu"


"Iya Bu, syukur-syukur bisa membiayai operasi Arumi sampai operasinya selesai dan Arumi bisa melihat lagi"


"Iya Vit, Alhamdulillah kalau gitu. Terus operasinya akan dilakukan kapan?"


"Aduh, saya juga nggak tahu Bu. Nanti deh aku tanyain sama Pak Arya dulu"


"Semoga secepatnya ya Vit"


"Kita doakan saja. Udah ya Bu, aku mau cari makan dulu nanti malam saya kerja"


"Iya Vit semangat ya kerjanya"


"Iya Bu, Terima kasih. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Tuuut...


"Alhamdulillah ya Allah, semoga Kamu segera dioperasi ya nak, supaya bisa melihat lagi. Ibu tahu pasti kamu lelah sekarang dalam kondisi seperti ini" Bu Ningrum yang semula mendongakkan kepalanya kini beralihkan ke Arumi yang tengah tidur di brankarnya


"Ibu senang sekali kalau kamu akan dioperasi lagi, semoga Pak Arya atasanmu tadi diberi kesehatan selalu" Bu Ningrum perlahan mendekati Brankar dengan bergumam mengucapkan rasa syukur sembari meneteskan air matanya


"Maafkan Ibu dan Ayah ya nak, kamu seperti ini karena kamu harus bekerja merantau untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Kalau kami masih muda tidak akan membiarkan anak bungsuku sebagai tulang punggung keluarga ini"


Bu Ningrum bergumam terus mengelus kepala Arumi


"Ibu janji, kalau kamu sembuh Ibu nggak mau kamu merantau lagi. Kamu bisa bekerja dari rumah tidak perlu jauh-jauh dari keluarga" Bu Ningrum tak kuasa menahan air matanya yang terus saja menetes yang sejak tadi masih mengelus-elus kepala Arumi


"Ya Allah sehatkanlah anak-anakku beserta menantu dan cucuku. Semoga tetap berada di perlindungan-Mu ya Rabb. Aamiin" Doa yang di panjatkan oleh Bu Ningrum


***


Malam harinya


Pak Arya pulang dari perusahaan pukul enam sore, karena setelah pulang dari pabrik ia harus pergi ke pusat perusahaan untuk menyerahkan beberapa laporan kepada bagian kantor. Ia selalu merekap hasil produksi dari pabrik setiap akhir bulan


Di Perusahaan Arya Wiguna sangat disegani oleh atasan-atasan lainnya, karena posisi Arya sendiri berada tertinggi setelah nama Wiguna sendiri yang tak lain dari anak seorang pemilik perusahaan


Sekarang Arya berusia 26 tahun yang memang masih muda sudah menjadi wakil Dirut di perusahaan Papanya sendiri. Walaupun masih muda, ia tetap di hormati oleh orang yang lebih tua darinya


Selain muda tentu Arya Wiguna berparaskan tampan, berbadan tinggi serta hidung mancung yang sebagaimana setiap orang iri melihatnya, tak lupa postur tubuh yang begitu indah menambah aura yang mengesankan




Arya Wiguna merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dimana Fransisca Dwi Wiguna sedang menyelesaikan kuliahnya di luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya


Sekarang Arya Wiguna tinggal di salah satu apartemen pemberian papanya yang berada di kota J, yang letaknya tidak jauh dari lokasi pabrik dimana saat ini ia tangani


Untuk Wiguna sendiri ia lebih fokus ke perusahaannya diluar negeri, Wiguna tinggal bersama Istri dan anak bungsunya yang melanjutkan pendidikannya. Arya Wiguna sekarang berada di Indonesia sendirian, ia diberi kepercayaan untuk menangani perusahaan yang suatu saat akan menjadi haknya


Di Pabrik xx sendiri merupakan salah satu cabang dari perusahaan konveksi di Perusahaan A, dimana pusatnya berada di kota J dan serta beberapa cabang dari berbagai kota yang sudah tersebar di Indonesia


Arya Wiguna bekerja di perusahaan tersebut belum cukup lama, sejak usia 24tahun ia sudah diutus oleh papanya untuk menangani perusahaan yang berada di kota J. Dan Wiguna menyerahkan kepada orang-orang kepercayaannya untuk menangani perusahaan lainnya


Sebenarnya Arya Wiguna sendiri belum lulus dari pendidikannya, mengingat Wiguna memiliki kekuasaan yang bisa ia dapatkan tanpa sepengetahuan anaknya. Jika Arya tahu mungkin ia tidak mau, karena pengetahuannya juga belum cukup untuk memimpin perusahaan


Tetapi Wiguna tidak hilang akal, ia bersengkokol dengan beberapa dosen untuk segera mempercepat kelulusan Arya. Dan setiap Arya mengajukan skripsinya, para dosen harus langsung meloloskan tanpa mengulangi lagi


***


Sekian dulu ya Kaka, biodatanya dari Bapak Arya Wiguna terhormat. Hehe ❣️❣️❣️