
Anwar memegang kedua pipi Arumi dan ingin mendekatkan bibirnya ke bibir Arumi yang berusaha untuk mencium, Arumi mengetahui itu ia langsung memejamkan matanya. Bibir Anwar mendekat dan terus ingin mendekat, seketika
"Ehem..". Suara deheman seseorang dari jalan
Dari deheman seseorang yang melintas di depan kosnya Arumi, tiba-tiba mereka tersadarkan atas apa yang akan mereka lakukan
"Astaghfirullah..." ucap keduanya bersamaan
"Maaf ya yang, tadi aku kelepasan" Anwar merasa canggung
"Oh, Iya" Arumi menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Aku pulang dulu ya, nanti tetangga mengira ada apa-apa kalo aku kelamaan disini" Anwar melihat sekelilingnya
"Iya, hati-hati. Jangan ngebut" Arumi dengan muka cemberutnya
"Idih, jangan cemberutnya dong yang"
Anwar mencubit pipi sebelah kiri Arumi
"Sakit tauk" Arumi mengelus pipi yang telah di cubit Anwar
"Udah ya, aku pulang" Anwar berdiri dari tempat duduknya
'Cup
Anwar mengecup kening Arumi.
Seketika pipi Arumi menjadi merah bak kepiting rebus
"Aduh, Arumiku ini masih malu-malu rupanya" Anwar mengusap pipi Arumi dengan lembut
"Apaan sih, sana buruan pulang!" Arumi mengibas-ngibaskan tangannya
"Ngusir nih ceritanya?"
"Bukan begitu, nanti nyampe rumah kemaleman loh"
"Iya bawel. Sini" Anwar merentangkan kedua tangannya
Arumi melihat sekelilingnya, dirasa sepi ia segera masuk diantara kedua tangan Anwar yang terbuka, memeluknya dengan erat dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Anwar
"Hati-hati, jangan ngebut" Arumi masih dalam pelukannya
"Iya, kamu baik-baik disini ya" Anwar menciumi pucuk kepala Arumi tanda tak ingin berpisah
"Udah ah" Anwar melepaskan pelukannya mendekat ke motornya diikuti oleh Arumi, Anwar mengambil helmnya dan memakainya
"I Love you" ucap Anwar manis
"Love you more" Balas Arumi mengedipkan salah satu matanya dengan gaya centil
"Centil banget sih, pacar siapa ini!" Anwar mengacak-acak kerudung Arumi
"Kamulah" Arumi membenarkan kerudung yang tadi di rusak oleh Anwar
"Yayaya" Anwar mengangguk-anggukan kepalanya sembari naik motor dan menghidupkan mesinnya
"Dadaa" Arumi melambaikan tangannya saat Anwar mulai menancapkan gasnya
Anwar juga melambaikan tangannya ke atas saat ia sudah melajukan kendaraannya tanpa menengok ke belakang
"Semoga selamat sampai di rumah" ucap Arumi setelah pandangan Anwar sudah hilang
Arumi langsung masuk ke dalam kamarnya dan segera berberes-beres, ia tidak membersihkan tubuhnya dengan mandi karena malam ini menunjukkan sudah terlalu larut malam. Karena 'mandi pada malam hari tidak baik untuk kesehatan' kata orang tua zaman dulu
Arumi di kamar kos sendirian, sedangkan Vita yang satu kamarnya balik besok karena ia mendapatkan jatah sift malam. Memang benar mereka berdua beda sift, hal itu mempermudahkan untuk berjaga-jaga kamarnya agar kejadian yang tidak diinginkan terjadi seperti pencurian
Setelah berberes, Arumi langsung mendekati kasur dan segera merebahkan tubuhnya yang lelah saat perjalanan tadi. Tak lupa ia mengirim pesan kepada Anwar
📤 Anwar❤️
'Kalau sudah sampai jangan lupa kabarin aku yang'
Send...
Arumi berfikir pasti Anwar tiba di rumah saat tengah malam, untuk itu ia langsung tidur lelap dan ketika bangun ia berharap Anwar sudah sampai di rumah dan membalas pesannya
***
Anwar memesan kopi pahit dengan sedikit gula, agar kepahitannya bisa membuat Anwar menjadi melek. Tak di sangka ada dua orang wanita menghampiri Anwar yang berpakaian minim sekali
Padahal sebelum menghampiri Anwar mereka berada disisi segerombolan lelaki yang tak jauh dari tempat duduknya Anwar, setelah melihat pengunjung baru ia segera berdiri dan menghampirinya
"Hai Mas, boleh kita temenin minum kopinya?"
tawar salah satu perempuan tadi
"Nggak usah mbak, saya hanya sebentar aja" tolak Anwar dengan memaksakan senyumnya
"Gapapa, sebentar juga nggak masalah" ucap perempuan yang satunya
Tiba-tiba mereka berdua langsung duduk di sebelah kanan dan kiri Anwar tanpa persetujuan darinya, dan sedikit memepet-mepetkan tubuh mereka di sisi Anwar
"Maaf mbak, bisa geser sedikit nggak?" Anwar dengan sopannya karena dari tampilannya mereka berdua seperti lebih tua dari umur Anwar
"Oh baiklah" Mereka sedikit menggeser tubuhnya dan memberi jarak dari tempat duduk Anwar
"Nama kamu siapa Mas?" ucap perempuan di sebelah kanan Anwar dengan gaya seksinya
"Agus" Anwar menjawab dengan asal
Tak selang beberapa menit, penjual memberikan kopi kepada Anwar yang sudah di seduh
"Kalian jangan ganggu pelangganku loh!" Penjual memperingatkan kedua perempuan agar tidak mengusik ketenangan Anwar
"Makasih Pak" Anwar menggeser secangkir kopi ke hadapannya dan penjual tadi langsung pergi
"Iya Pak, Santai aja"
"Mas Agus mau kemana kok udah malem masih keluyuran?" tanya perempuan tadi sembari menopang dagunya dan menghadap ke Anwar
"Habis pulang kerja" Anwar terus mengaduk-aduk kopinya dengan sendok
"Jangan cuek-cuek dong mas" Perempuan sebelah kiri Anwar ingin mencolek dagu Anwar tapi Anwar langsung menghindar
Anwar tidak membalas ucapannya, ia segera menyeruput kopinya yang masih panas.
Tak lama kemudian perempuan di sebelah kirinya langsung mengeluarkan satu bungkus rokok, ia menyodorkan ke teman yang satunya
Mereka langsung mengambil satu batang rokok dan menyalakan koreknya, kemudian mengisap ujung rokoknya lalu membuang asap di depan wajah Anwar
"Mas mau rokok nggak?" Perempuan sebelah kirinya menawarkan rokok dengan cara menaruh bungkus rokok di depannya
"Saya nggak merokok mbak" Anwar menggeser satu bungkus rokok yang di depannya ke samping kirinya
"Wah. Udah ganteng, masih muda, nggak suka rokok lagi. Idaman nggak tuh?" Tanya Perempuan sebelah kanan Anwar kepada teman yang satunya
"Iya Lis, Terpesona aku" Perempuan yang di sebelah kanan kiri melihat Anwar dengan tatapan nafsunya
Anwar merasa tidak nyaman, ia segera menghabiskan secangkir kopi lalu beranjak untuk membayar ke penjualnya
"Kok buru-buru sih mas, kita kan belum ngobrol"
Teriak perempuan tadi setelah Anwar beranjak pergi dari duduknya
"Hei! kamu apakan pelanggan ku seperti tidak menikmati kopinya!" Penjual kopi memarahi kedua perempuan tadi yang berada di samping Anwar
"Kita cuman nemenin dia ngopi kok Pak! Iya kan Lis?"
"Iya, nggak salah kita dong"
Setelah menjawab mereka berdua langsung kembali ke segerombolan laki-laki yang tadinya ia temani
Anwar langsung memakai helmnya dan berusaha cepat-cepat pergi dari sana dengan rasa sedikit kesal terhadap perempuan tadi
"Dasar perempuan tak tau malu, apa dia nggak kedinginan memakai pakaian yang hampir telanjang tadi"
Omelan Anwar di sepanjang perjalanan
***
Makasih kak udah mau mampir di novel aku
Semoga nggak ngebosenin ya ❣️❣️❣️