
Acara menikmati sunset telah berlalu, mereka pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, Arumi bergegas masuk kamar mandi untuk menyegarkan badannya lalu menuaikan sholat Maghrib.
Malam harinya, Ifa sedang rebahan sambil membaca novel yang ada di ponsel-nya. Saking sibuk membaca ia tidak tahu jika ada notif pesan dari Anwar.
.Di lain tempat.
Anwar sedang nongkrong di angkringan yang tak jauh dari rumahnya, ia tampak gusar ingin sekali menanyakan kabar Arumi. Padahal baru sore ini mereka bertemu tapi sudah merasa rindu saja.
"Arumi lagi ngapain ya?" Tanya dalam hati Anwar yang sejak tadi memainkan ponselnya tepat di room chat milik Arumi
"Mau ngirim pesan tapi pesan apa"
"Tadi sore aja udah ketemu, masak aku rindu lagi?"
"Dia sibuk nggak ya?"
"Mau nanya apa, soal materi kita juga beda jurusan"
Fikiran Anwar sedang pusing, ingin sekali ia menelpon Arumi tapi bingung apa yang mau di bicarakan. Ia semulanya ingin mengirim pesan kemudian ia hapus mengetik sesuatu kemudian di hapus. Setelah perang dengan fikiran nya ia memutuskan untuk tetap mengirimkan pesan.
*Arumi***❤️📤**
'Assalamualikum...'
'Rum'
'Ar'
'Arum?'
'Arumii??'
Sudah lama Anwar menunggu tak kunjung dapat balasan dari Arumi
"Lagi ngapain sih dia, masak nggak tau kalo aku kangen gini. Coba aku telpon aja"
Anwar segera pergi untuk mencari tempat yang sepi agar bisa leluasa mendengar suara Arumi dari ponselnya
.Di kamar Arumi.
Ternyata membaca novel sudah menjadi candu bagi Arumi, untuk mengisi waktu luangnya ia gunakan untuk membaca walaupun hanya beberapa bagian saja.
Arumi dengan asiknya membaca, ia di kejutkan dengan nada panggilan masuk. ternyata...
Anwar is calling 📞
"Anwar nelpon aku? ada apa ya?"
Kemudian Arumi menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan
"Halo Anwar?" Arumi
"Hmm. iya Rum"
"Ada apa ya kok malem-malem nelpon aku?"
"Nggak ada apa-apa sih, cuman..." ucap Anwar menggantung
"Cuman??"
"Cuman nanya, kaki kamu udah sembuh kan? nggak lagi sakit?"
"Ya Ampun Anwar, kaki aku udah enakan kok. Nggak usah di khawatirkan" ucap Arumi sambil menahan tertawa
"Ohh, gitu ya udah enakan" Anwar menggarukkan kepalanya yang tidak gatal tentu tanpa sepengetahuan Arumi karena lewat telfon
"Apa ada kepentingan lainnya?"
"Nggak ada sih, tadi aku ngirim pesan kamu nggak bales-bales padahal udah centang 2. Kamu lagi ngapain itu?"
"Masak sih kamu ngirim pesan aku?"
"Iya, coba aja lihat sendiri. Jam berapa aku ngirim pesan kamu nya aja yang nggak buka-buka"
Arumi langsung membuka aplikasi WhatsApp-nya, ternyata memang benar ada pesan dari Anwar
'Assalamualikum...'
'Rum'
'Ar'
'Arum?'
'Arumii??'
"Ehh, iya ada pesan kamu ini. Hehe" Cengir Arumi
"Ya kan? udah hampir satu jam aku nunggu balesan dari kamu tau nggak"
"Nggak tau tuh aku" Ucap Arumi sambil senyam-senyum dan berguling-gulingan ke sana-kemari di kasur kesayangannya
"Kamu jangan pura-pura nggak tau yaa"
"Beneran aku nggak tau, tadi aku lagi sibuk membaca novel kesukaanku"
"Nggak di sekolahan nggak dirumah novel aja terus"
"Yee, kok nyolot kamu nya"
"Ehh..
Udah-udah, lupain"
"Yakin nih, suruh lupain?" Goda Arumi
"Ucapan yang tadi-tadi lupain aja, kalo aku jangan lah"
"Emmmm"
"Udah ya, aku mau pulang dulu nanti dicariin mama aku"
"Emang kamu dimana?
"Lagi nongkrong sama teman-teman aku"
"Yaudah, buruan pulang udah malem ini. Dasar anak mami"
"Kamu ngomong apa? coba ulangi sekali lagi"
"Enggak ngomong apa-apa kok"
"Aku denger loh ya? siapa yang anak mami? Aku??"
"Hehee"
"Awas ya besok kalo ketemu di sekolahan"
"Awas kenapa?"
"Awas nanti kalo aku sayang"
Mereka berdua tertawa
"Apa-apaan sih" masih dengan suasana tertawanya
"enggak-enggak, bercanda kok"
"Kalo beneran juga nggak papa"
"Loh, nantang juga ya kamu Rum"
"Kan aku suka tantangan, wleee"
"Awas saja nanti"
"Siapa takut!"