
Dengan langkah gemetar Anwar berjalan kearah pintu rumah Arumi, pintu yang tertutup ia ketuk berkali-kali agar tahu masih ada orang didalam atau tidak. Jantung yang tidak terkondisi saat mendengar jawaban dari dalam rumah, ingin sekali Anwar menghilang dari permukaan bumi sekarang
Ceklek..
Pintu terbuka memperlihatkan Tika di belakang pintu
"Loh Anwar, Arumi Dimana?" Tika melihat tubuh Anwar dari atas sampai kebawah, dalam hitungan detik ia tersadar karena Anwar hanya seorang diri tetapi ia membawa barang bawaan yang banyak
"Emm.. anu..." kata Anwar yang sulit berbicara
"Siapa Ka? Suruh masuk aja, ada tamu kok ngobrol diluar" suara Ningrum dari ruang televisi
"Masuk dulu Anwar" Tika mempersilahkan Anwar masuk kedalam rumah
Anwar langsung berjalan menuju ke kursi kayu dan langsung mendudukkan bokongnya dengan rasa gemetar. Benar saat ini lebih menegangkan daripada saat melakukan interview kerja, karena pertanyaan saat interview berbeda dengan keadaan sekarang
"Kamu kok sendirian Arumi dimana?" Kata pertama yang di lontarkan Tika setelah duduk di hadapan Anwar
Mendengar perkataan Tika pasangan pasutri Dian dan Ningrum langsung menghampiri mereka yang berada di ruang tamu
"Saya mau minta maaf Pak, Buk dan kak Tika, sebenarnya saya juga tidak tahu Arumi sekarang berada dimana" suara Anwar yang terbata-bata ditambah lagi dengan rasa takutnya
Deg!
Kata yang diucapkan Anwar membuat kedua mata Ningrum dan Tika berkaca-kaca, diikuti mulut yang terbuka sedikit pertanda terkejut apa yang Anwar ucapkan
"Apa maksud kamu!" Tegas Dian
"Saya benar-benar tidak tahu Pak Arumi sekarang ada dimana, saat saya bangun tiba-tiba Arumi sudah tidak ada di tendanya sendiri" Anwar mengulangi lagi ucapannya
"Maksud kamu anak saya hilang?" kata Ningrum terdengar ucapannya bergetar
Anwar hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya
"Jawab sekarang Anwar!" Hiiiikss.. Ningrum menggoyang-goyangkan kedua bahu Anwar dengan sangat keras sehingga kepala Anwar maju mundur maju mundur tidak jelas
"Ibu sabar ibu" Tika menenangkan ibunya
"Bagaimana bisa sabar? Adik kamu Arumi hilang bisa-bisanya kamu bilang sabar? Haa?" Ningrum sudah kehilangan kendalinya
"Tenang ibu, apa ibu marah-marah begini bisa mengembalikan Arumi? tidakkah?"
"Kamu mendoakan Arumi tidak kembali begitu?" Tangis Ningrum seketika berhenti lalu mengalihkan pandangannya ke Tika
"Bu-bukan maksud Tika seperti itu, nanti kita lapor polisi saja Bu" Lagi-lagi perkataan Tika salah di telinga Ningrum
"Saya sudah lapor polisi sejak pagi tadi kak, mungkin sekarang dalam masa pencariannya" Anwar mulai angkat bicara
"Terus kamu disini ngapain tidak ikut mencari Arumi? bukankah itu juga urusanmu?" ketus Ningrum
"Yaelah, aku kesini untuk memberitahu kabar Bu. Masak iya harus lewat telepon" Batin Anwar
"Saya membawa barang-barang milik Arumi yang masih di sana" Anwar menunjukkan tas ransel Arumi
Bagaimana keadaan Dian? Ya Dian hanya bisa menangis dalam diam duduk dibawah bersandar di dinding sembari merenungkan apa yang terjadi. Dian hanya bisa merenungkan terlebih dahulu daripada tindakan berbeda dengan Ningrum
"Kan saya sudah bilang jangan ikut muncak apalagi di pegunungan, yang saya takutkan ya begini kejadiannya. Seharusnya saya lebih keras lagi untuk tidak memberi izin " Dian menyalahkan dirinya sendiri sembari memukul-mukul dadanya
"Sudah pak sudah,ini salah saya yang sudah meyakinkan Bapak untuk memberi izin kepada Arumi" Anwar mendekati Dian langsung memegang tangannya agar tidak lagi menyakiti dirinya sendiri
Plak!
Ningrum menampar pipi Anwar
"Apa kata kamu? Sudah? kamu bilang sudah? Belum! Saya nggak mau tahu pokoknya Arumi harus segera ditemukan!" Ningrum menunjuk-nunjuk ke Anwar dengan gaya berbicara seolah Singa tidur yang diganggu serta matanya melotot, ngeri nggak tuh?
"Baik Bu, saya akan usahakan" jawab Anwar
***
Minggu ke Minggu kini sudah berlalu, pagi-pagi Arumi bangun dengan rasa mual yang tak tertahankan. Buru-buru ia kebelakang ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya
"Hoeek... Hoeek... Hoeek...
Mendengar Arumi muntah nenek Sri langsung berlari menghampirinya, di pijat tengkuk lehernya agar memudahkan Arumi mengeluarkan isi perutnya. Tapi yang keluar hanya cairan kuning dari mulutnya karena sejak semalaman ia tidak makan apapun
"Kita ke puskesmas ya nak" ajak Nenek Sri
"Nggak usah nek, mungkin Arumi hanya masuk angin saja
"Kan nenek sudah bilang tadi malam harus isi perut kamu, jadi seperti ini kan ngeyel sih" nenek mencubit kecil hidung Arumi
"Iya nek, maafin Arumi ya" Arumi keluar dari kamar mandi yang dituntun oleh nenek Sri
"Kenapa?" Arumi mendongakkan kepalanya ke arah nenek
"Kan yang susah kita sendiri, orang lain hanya mengingatkan saja" Nenek Sri mengelus pucuk kepala Arumi
"Ya Arumi minta maaf karena mengabaikan ingatan nenek. Hehe" cengir Arumi
"Kamu nih bisa aja.
Tunggu sebentar, Nenek buatkan teh hangat ya"
"Terimakasih nenek"
Setiap hari Arumi selalu membantu nenek Sri untuk membuat kue tradisional, bukan hanya untuk di jual tetapi ada beberapa orang yang memang sudah berlangganan di nenek Sri. Tentu mereka akan datang ke rumah untuk mengambil sendiri pesanannya tanpa nenek Sri yang mengantarkan
Sesekali Arumi ikut nenek Sri pergi ke pasar untuk berbelanja yang letaknya cukup jauh dari rumah yang ia tinggali saat ini. Biasanya ada Angga yang membawakan barang belanjaan nenek Sri, untuk saat ini memang Arumi yang ingin sesekali membantu nenek Sri
Satu Minggu kemudian
Hampir seharian Arumi membantu Nenek Sri membuat kue, tidak seperti biasanya pelanggan nenek Sri meminta pesanannya dibuat dua kali lipat dari sebelumnya katanya untuk acara syukuran. Siang menjelang sore hari pesanan sudah jadi tinggal pelanggan yang mengambil, sembari menunggu Arumi membersihkan tempat yang kini penuh dengan sampah-sampah plastik dari beberapa bahan yang digunakan
Saat menyapu tiba-tiba mata Arumi berkunang-kunang, kepala yang terasa pusing membuat Arumi ingin jatuh tetapi ia bisa meraih meja untuk pegangan
Melihat Arumi memegang kepalanya, Angga langsung mendekatinya
"Kak Arum kenapa?" kata Angga yang benar-benar diselimuti dengan rasa khawatir
"Kepala kak Arumi pusing dek" Arumi meringis kesakitan
"Nenek!" teriak Angga memanggil neneknya
Neneknya yang sedang menerima kedatangan pelanggannya di kejutkan dari teriakan Angga, buru-buru nenek Sri langsung masuk ke dalam di ikuti oleh pelanggannya tadi
"Ini kenapa ngga?" Nenek Sri langsung khawatir saat Arumi menangis sembari memegang kepalanya
"Kata kak Arumi kepalanya pusing"
"Ayo nek kita antarkan ke puskesmas" ajak pelanggan nenek Sri, anggap saja Yuda namanya
"Tapi-"
"Udah ayo nek pake mobil saya saja" Tawar Yuda
"Baik Pak Yuda, Terimakasih"
Arumi yang sedikit sadar ia hanya bisa pasrah entah mau dibawa kemana saja ia saat ini. Yuda menuntun tubuh Arumi untuk sampai ke mobil pick up nya
Hanya butuh 15 menit mereka sudah sampai di puskesmas
Dengan hati-hati Yuda dan Nenek Sri menuntun masuk ke resepsionis, dipanggilnya perawat kemudian di tidurkan di brankas pasien. Sedangkan Angga masih di rumah menjaga kue-kuenya yang tadi belum sempat diangkut
Didalam ruangan Dokter langsung memeriksa Arumi, saat dokter memeriksa ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya entah apa maksud dari gelengan tersebut satu dari merekapun tidak tahu. Hanya dokter, Author dan Tuhan yang tahu
"Terakhir mbak datang bulan kapan?" kata yang dilontarkan oleh Dokter membuat Arumi semakin was-was
"Mungkin satu bulan yang lalu" Arumi mengingat-ingat terakhir kali ia datang bulan
Sembari mengingat Arumi baru tersadar saat ia melakukan itu pada dasarnya baru saja ia selesai datang bulan, padahal itu masa dimana sangat subur
Dokter melihat seorang pria yang berada di samping nenek Sri, Mungkin itu suami dari mbaknya pikir dokter
"Mbak coba ini dulu ya" ucap ramah dokter sembari menyodorkan satu buah benda pipih
"Testpack?" Arumi mengambil dari tangan dokter, yang dibalas dengan anggukan
Dengan berat hati Arumi mengiyakan dari ucapan dokter, kemudian ia berjalan ke toilet untuk memastikan bahwa yang ia khawatirkan tidak terjadi
Arumi keluar menunjukkan hasil testpack tersebut ke dokter, dokterpun mengambilnya
"Alhamdulillah positif" Kata Dokter dengan senyum sumringahnya
"Apa? Po-positif?"
***
Makasih ya kak, udah mau nunggu author update
Semoga amal ibadah puasanya bisa di terima
Jangan lupa dukung author dengan like dan komennya yaa ❣️❣️❣️