ARUMI

ARUMI
Muhammad Yusuf Mahardika



Mulai 7 bulan usia kandungan Arumi memutuskan untuk mengikuti program kehamilan, tentu itu sangat terlambat. Untuk mengikuti saja harus ada Nenek Sri yang memaksa agar kelak Arumi bisa mengasuh sendiri anaknya


Setiap seminggu tiga kali ba'da ashar Arumi pergi ke balaidesa untuk mengikuti acara tersebut. Sebenarnya Arumi merasa canggung dengan ibu yang di sana karena selama tinggal disini ia hanya bisa diam di rumah sekali-kali pergi ke pasar, jadi tidak bergosip ria yang kebanyakan tetangga lakukan


"Assalamualaikum" ragu-ragu Arumi memasuki area balaidesa


"Waalaikumsalam" ucap serentak bumi yang ada di sana, semuanya melihat ke arah Arumi dengan penuh tanda tanya


Hari ini hari pertama Arumi mengikuti program kehamilan, semua orang bertanya ia asal darimana dan kenapa tiba-tiba ikut program ini padahal usia kehamilannya sudah memasuki 7 bulan


"Arumi kan?" kata Aisyah yang mana teman Arumi bertemu saat di pasar, ternyata ia seorang dokter kandungan dan akan memberi sedikit pengetahuan tentang kehamilan, melahirkan, sampai mengurus anak yang baru lahir


"I-Iya" Arumi mengangguk pelan


"Sini masuk, Kenalkan ibu-ibu ini cucunya Nenek Sri tetangga sebelah" Aisyah menuntun Arumi untuk masuk ke dalam


"Saya kok baru tahu ya"


"Nggak ah, saya sepertinya melihat di rumah nek Sri ada dia kok"


"Ah masak? Pindahan ya neng?" tanya Ibu neng


Arumi tak berani menjawab, hanya menganggukkan kepalanya


"Sudah berapa bulan itu mbak?" tanya ibu neng sembari melirik perut Arumi, karena Arumi memakai pakaian kedodoran sehingga perut yang buncit tidak terlihat


"Sudah 7 bulan Bu" Jawab Arumi sembari duduk di kursi yang kosong sedangkan Aisyah menuju ke meja yang paling depan


"Beda satu bulan dong sama saya Bu" ucap bangga Bu neng yang memperlihatkan perutnya


"Iya"


Menurut Arumi pada pertemuan pertama sudah memberi kesan untuknya, ia bisa berkenalan dengan para ibu hamil untung saja mereka bisa mau menerima Arumi. Dan besok pertemuan kedua ternyata ada senam khusus ibu hamil tetapi disarankan jika datang bersama suami, Arumi bingung harus pergi dengan siapa?


"Baik ibu-ibu bisa mencari tempat untuk senam sesuai keinginan Anda, tetapi jangan jauh-jauh ya Bu" suara lantang yang dilontarkan oleh Aisyah


"Untuk para suami tercinta Anda bisa berada dibelakang istrinya" sambung Aisyah


Mendengar penuturan Aisyah, semua para suami langsung berjalan ke istrinya masing-masing. Tetapi apalah daya Arumi yang datang seorang diri. Banyak pasang mata yang melirik ke arah Arumi, kenapa ia datang seorang diri padahal kemarin dokter Aisyah sudah memberitahu untuk mengikutsertakan suaminya, pikir para bumil


"Arumi datang sendiri ya? Ayo aku bantu" tawar Aisyah


"Terimakasih dokter Aisyah"


"Tidak usah pakai embel-embel dokter segala, cukup seperti biasanya saja"


"Baiklah"


Cukup 45 menit para bumil melakukan senamnya sesuai dengan instruksi dari Aisyah tak lupa di sana juga mendatangkan kepala bagian senam untuk mengarahkan agar tidak salah dalam posisi


Pertemuan pertama, kedua dan selanjutnya Arumi tekuni dengan giat supaya bayi yang ia kandung sehat serta ibunya. Semua orang terheran-heran jika ada kegiatan senam bersama para suami Arumi selalu datang sendirian sehingga timbullah pikiran-pikiran negatif dalam fikiran mereka


"Bu Arumi, kenapa setiap ada jadwal senam Bu Arumi selalu datang sendirian?" Ibu-ibu itu mulai kepo dengan kehidupan Arumi


"Iya nih, padahal sudah diberitahu kalau bisa bawa suaminya juga"


"Ho'o Bu ibu, Bu Arumi nggak pernah tuh membawa suaminya. Ngomong-ngomong suami ibu ada dimana?"


"Euum,su-suami sa-saya..."


"Arumi ayo pulang!" ajak Aisyah


"Ma-maaf ya Bu, saya mau pulang dulu. Permisi" Dalam hati Arumi beruntung ada Aisyah yang memanggilnya tepat waktu, ia harus berterimakasih padanya


"Iya Bu hati-hati, jangan lari-lari!" Ucap salah satu ibu melihat Arumi tergesa-gesa berjalan menuju ke arah Aisyah


"Udah tahu hamil malah jalannya cepat nggk hati-hati. Yaudah Bu mari pulang!" Ibu-ibu kesal karena tidak mendapat jawaban dari Arumi


***


Oek.. Oek.. Oek..


Suara babyboy menangis menyadarkan lamunannya Arumi sewaktu dulu


Dengan pelan-pelan ia membuka resleting pakaiannya,Arumi mengarahkan pi*ing pa*uda*anya ke mulut kecil babynya


"Haus ya sayang, nggak akan ada yang merebut kok" goda Arumi karena babynya sangat kuat menyusu


"Heem Heem Heem, kuat sekali minumnya" datanglah nenek Sri


"Iya nek, Dika haus sekalang" jawab Arumi menggunakan suara anak kecil


"Namanya Dika siapa Rum?" Nenek Sri menoel-noel pipi Dika


"Muhammad Yusuf Mahardika" Kata Arumi lantang tanpa salah katapun


"Nama yang sangat tampan"


"Orangnya juga dong nek" protes Arumi dengan suara kecil tetapi masih terdengar bercanda


"Iyayaa orangnya juga tampan. Sini Dika nenek gendong biar kamu bisa istirahat" Nenek Sri mengambil Dika dari gendongan Arumi


"Maaf ya nek kalo ngrepotin" Arumi menyerahkan Dika


"Huss, kamu ngmong apa sih. Kamu dan Dika sudah nenek anggap keluarga sendiri, jadi nggak usah sungkan-sungkan ya" Nenek Sri menimang-nimang Dika supaya bisa tidur


"Oh ya Rum, kamu nggak ada niatan untuk pulangkah?" tanya Nenek Sri dengan hati-hati agar tidak menyakiti perasaan Arumi


"Sebenarnya Arumi pengen pulang, tapi kan nenek tahu sendiri tetangga Arumi pasti bertanya-tanya anak siapa ini? Kapan nikahnya? Kok diam-diam udah ada debay? Bla bla bla" Arumi menirukan gaya para tetangga saat sedang menggosip


"Kamu ini, pinter sekali menirukan tetanggamu" Nenek Sri gemas karena Arumi sangat mahir menirukan seseorang


"Ya Ampun nek, Arumi sudah hafal sekali cibiran para tetangga. Apalagi sama depan rumah, omongannya itu loh nek sedikit tapi nyesek di hati" Arumi menepuk dadanya seolah-olah merasakan sakit hati


"Terus, kapan kamu akan memberitahu kepada keluargamu?" Seketika Arumi terdiam atas Pertanyaan nenek


Satu menit Arumi berfikir


"Nggak tahu" ucap pelan Arumi


"Pasti keluargamu sedang mencarimu kemana-mana, Mereka juga khawatir bagaimana kabar kamu"


"Aku takut nek nanti Ayah sama ibu terkejut melihat Arumi sudah mempunyai Dika, apalagi itu hasil dari pemerkosaan" Arumi kembali meneteskan air matanya


"Orang tua pasti akan bisa memahami nak, jadi coba saja dulu. Misal mereka marah atau malu kamu bisa kembali lagi kesini"


"Besok aja nek kalo udah ada ayah untuk Dika, nanti biar keluarga Arumi tidak berfikiran yang tidak-tidak"


"Itu juga lebih baik daripada kamu pulang berdua saja dengan Dika"


"Doakan saja ya nek, supaya Arumi segera mendapatkan jodoh. Arumi tidak mau memilih-milih, yang terpenting bisa menerima keadaan Arumi dan Dika"


"Insyaallah, nenek akan selalu doain yang terbaik buat kalian berdua"


Tok...Tok... Tok...


Suara pintu ketuk


"Sebentar nenek bukain dulu pintunya" Nenek Sri mendekati pintu dan membukanya


Ceklek


Nenek Sri memutar gagang pintu dan membukanya


"Siapa nek?"


***


Maafin author ya kak, udah beberapa Minggu nggak update 😭


Karena author sedang sakit selama seminggu ini, dan author divonis Covid 😭, author sedih banget nggak bisa mikir apa-apa


Doain ya Kaka author bisa cepet sembuh dan bisa menghalu lagi 🙏❣️❣️❣️