
Kriiiiing...
Bel istirahat sudah berbunyi semua karyawan keluar dari Line untuk istirahat sholat dan makan
Saat ini Arumi sedang halangan ia tidak melaksanakan sholat, maka dari itu setelah makan siang ia langsung ke ruang HRD untuk meminta penjelasan
Tok..Tok..
Arumi mengetuk pintu HRD lalu masuk ke dalam ruangan.
Arumi berbincang-bincang dengan Bu Lani selaku pihak HRD menjelaskan tentang bagaimana peraturan saat tidak masuk selama berbulan-bulan
Setelah merasa puas dengan jawaban pihak HRD Arumi langsung keluar dari ruangan tersebut. Kini ia tahu bagaimana perlakuan khusus dari atasan kepada bawahannya langsung
Dengan sedikit pemaksaan, pihak HRD menyerah lalu memberi tahu jika di balik semua ini ada sangka pautnya dengan supervisor yaitu Pak Arya Wiguna. Sebenarnya Bu Lani juga kurang suka atas perlakuan khusus yang diberikan oleh atasan menurutnya terlalu berlebihan
"Huuufts. Baiklah mungkin ini jalan yang terbaik buat aku" Arumi menghela nafas setelah menutup pintu ruang HRD
Saat berjalan masuk ke Line Arumi selalu menimang-nimang apakah keputusannya sudah bulat atau belum. Benar ini keputusan yang harus ia pilih untuk kebaikannya dan yang lainnya
Disela-sela waktu bekerja Arumi ingin berpamitan kepada atasannya Bu Ida. Benar ia ingin resign dari pekerjaannya, mengingat peraturan dari perusahaan harus tetap berjalan tanpa terkecuali
"Aku harus berani berbicara, mungkin ini keputusanku yang tetap. Aku nggak mau harus dibawah kendali Pak Arya, nanti semua orang berfikiran kita ada main-main dibelakang" umpat Arumi saat ingin menghampiri Bu Ida
"Bu Ida" panggil Arumi
"Iya ada apa Rum?" Langkah Bu Ida terhenti saat ada yang memanggil namanya
"Bu Ida sibuk tidak?" ucap Arumi malu-malu
"Tidak kok, hanya saja mengontrol kinerja karyawan lainnya. Memang kenapa?" jawab Bu Ida dengan jujur
"Saya mau bicara Bu"
"Silahkan, bicara saja" Bu Ida menarik tangan Arumi untuk ke tempat yang tidak ramai akan suara mesin
"Saya ingin pamit dengan Bu Ida"
"Pamit kemana lagi? Kamu di pindah oleh atasan?"
"Bukan"
"Lalu apa?"
"Saya ingin resign dari pekerjaan ini"
"Loh loh loh, memang kenapa?"
"Saya ingin bekerja dari rumah, agar bisa memantau orang tua saya yang sudah tidak muda lagi" Arumi memaksakan senyumnya
"Kamu sudah bicara dengan pihak HRD nya?"
"Sudah Bu, pihak HRD nya memperbolehkan"
"Kamu tahu kan konsekuensinya jika karyawan tetap resign kurang dari 5 tahun?"
"Iya Bu, saya juga tahu. Anggap saja saya membayar kecerobohan saya yang tidak masuk berbulan-bulan ini"
"Jika memang sudah menjadi pilihanmu, saya hanya mendoakan agar kamu bisa sukses diluar sana"
Bu Ida mengelus pundak Arumi
"Iya Bu, terima kasih atas doanya" Arumi mengangguk kepalanya
"Iya sama-sama. Sayang sekali saya harus kehilangan karyawan terbaik sepertimu" Ucap memelas Bu Ida
"Sudah Bu, masih banyak lagi yang lebih dari saya disini. Hanya saja keberuntungan berpihak pada saya"
"Memang benar Bu, satu Minggu ini saya masih disini"
"Syukurlah, Ibu bisa kangen-kangenan dulu sebelum kamu pergi" Bu Ida dengan gayanya yang centil
"Ah, ibu bisa aja" Arumi merasa malu atas perlakuan Bu Ida
***
Hampir Satu bulan Arumi sudah berada di rumah bersama keluarga setelah resign dari pekerjaannya. Selama itu ia belum juga mendapat pekerjaan, tetapi ia tidak berputus asa. Selama menunggu panggilan kerja ia membantu Tika menjahit, bukan lagi seragam sekolah melainkan sarimbit untuk acara-acara tertentu. Seperti saat ini sudah memasuki musim nikah, Hehe
"Rum, kamu belum mendapatkan panggilan kerja?" Tika mengawali pembicaraan
"Belum kak" jawab Arumi yang masih fokus menjahit
"Coba deh kamu daftar kerja di toko swalayan. Misal di ****mart gitu, temanmu Indah juga kerja di sana. Katanya juga dia daftar hari ini Minggu depannya sudah dapat panggilan untuk bekerja"
"Masak sih kak?"
"Iya, coba aja tanya Indah langsung"
"Coba aja kali ya, sambil nunggu panggilan-panggilan juga belum tentu di terima" kata hati Arumi
"Ya udah deh besok aku mau tanya dulu masih ada lowongan apa tidak. Kalo masih ada kan bisa aku persiapkan syarat-syaratnya" ucap mantap Arumi
"Terserah kamu aja" Tika membiarkan apa yang akan Arumi inginkan, Tika juga tahu jika adiknya sudah besar bisa membandingkan mana yang baik dan mana yang buruk
Tiga hari kemudian
Mendengar Ada lowongan kerja dari Indah, Arumi bergegas menyiapkan persyaratan yang sudah tertera di brosur. Memang benar apa kata Tika hanya beberapa hari saja Arumi langsung dipanggil untuk melakukan wawancara dimana tes ini merupakan penentu diterimanya atau tidak
"Hari ini aku interview kak" Arumi yang sudah siap dengan seragam merah putihnya
"Iya dek, semoga lolos ya. Kan enak kerja dari rumah. Ayah Ibu tidak perlu khawatirin kamu" Tika
"Iya deh iya. Doain aja semoga di terima dan bisa bekerja sesuai keinginan Ibu" kata Arumi sembari memakai sepatunya
"Kakak doain selalu. Buruan gih nanti telat kamunya"
"Yaudah. Assalamualaikum" Arumi menyalami kakaknya
"Waalaikumsalam"
Arumi membawa motor matic milik Tika, ia senang karena Tika memperbolehkan motor miliknya di pakai Arumi untuk bekerja. Arumi mengendarai motor dengan hati-hati agar bisa sampai di sana tepat waktu dan tentu selamat
Beruntung Arumi diterima di salah satu toko swalayan yang ada di kotanya sendiri, ia tahu karena mendapat pesan email dari kemarin. Hari ini Arumi langsung bisa mengikuti training selama satu Minggu, Arumi senang karena masa training hanya satu Minggu bukan berbulan-bulan
Satu Minggu sudah masa training Arumi laksanakan dengan lancar. Besoknya ia harus sudah siap untuk bekerja, ia di tempatkan sebagai kasir di toko swalayan tersebut. Karena Arumi mempunyai keahlian di bidang komputer pihak dari sana langsung menempatkan dirinya di kasir
Hari-hari Arumi lalui dengan penuh semangat, kenapa tidak ia tidak semangat? Arumi di sana sudah mendapatkan teman yang baik, walaupun baru beberapa Minggu Arumi kenal ia langsung merasa cocok dengan temannya yang bernama Sania Larasati
Tepat waktu siang hari Arumi dan Sania bergantian untuk istirahat, mereka bergiliran untuk menjaga kasir. Karena toko tersebut tidak ada jam istirahat, hanya saja memasuki waktu dhuhur mereka biasanya melakukan sholat dan makan
"Rum, nanti pulang aku nitip baju ya. Baju aku ada yang robek soalnya" ucap Sania yang akan menggantikan posisi Arumi di kasir
"Oke. Nanti aku tunggu di parkiran ya" Arumi beranjak dari tempatnya untuk istirahat siang
"Iya"
Mereka berbincang-bincang hanya seperlunya, karena memang di sana terlalu sibuk tidak ada waktu untuk mengobrol. Setiap hari mereka selalu disibukkan dengan para pengunjung seperti tidak ada habisnya. Mereka bisa mengobrol saat pengunjung mulai sepi, biasanya sepi pada waktu memasuki siang hari
***
Makasih ya Kaka udah mau setia nungguin author update ❣️❣️❣️