
Setelah menemui pamannya, Arya bergegas pulang ke apartemennya. Ia bingung bagaimana ia mengatakan jika operasinya tidak bisa besok, ia berfikir jika mencari donor mata itu mudah tanpa berfikir panjang ia langsung saja bicara jika besok Arumi bisa di operasi
Mengingat Rumah sakit tersebut milik pamannya tentu bisa saja dengan mudah ia meminta bantuan, tetapi alhasil tidak sesuai dengan kehendaknya. Salah satu cara lainnya ia harus menghubungi Papanya yang berada di luar negeri
Papa Wiguna 📞
Tuuut... Tuuut....
"Iya halo?" Suara sebrang sana
"Pa, aku mau minta bantuan" ucap Arya ragu-ragu
"Bantuan apa? Apa perusahaan yang di sana ada kendala atau kurang bagaimana?"
"Bu-bukan soal perusahaan"
"Terus, mau minta bantuan apa?"
"Boleh nggak pa, Arya minta cariin donor mata disana?"
"Loh, untuk siapa? kamu tidak kenapa-kenapa kan?"
"Arya baik-baik saja pa"
"Terus mau mendonorkan mata untuk siapa?"
"Emm.. Untuk karyawan Arya pa, ia mengalami buta saat melakukan pekerjaan" Arya berbohong
"Kok bisa? Wah, berarti karyawan kamu tidak sesuai standard itu Ya!"
"Bukan begitu, dia tidak sengaja tertimpa kaca dari atas. Nah serpihan kaca itu kena matanya pa"
"Ya sudah nanti papa cariin donor mata di sini. Jangan lupa di perusahaan kamu harus segera di perbaiki agar tidak ada kejadian terulang lagi! Nanti papa akan menyuruh beberapa orang untuk memperbaikinya"
"Oh tidak usah pa, nanti Arya sendiri yang mencarikan seseorang untuk memperbaikinya"
"Baiklah. Memang karyawanmu yang kecelakaan perempuan atau laki-laki?"
"Perempuan pa" ucap Arya pelan
"Kamu suka ya? sampai-sampai kamu yang mencarikan donor mata buat dia?"
"Apaan sih pa, dia itu karyawan Arya di pabrik"
"Papa kira di kantor, ternyata di pabrik. Memang kalau di pabrik banyak kejadian yang tak terduga, contohnya ya seperti itu"
"Maka dari itu pa, sebagai pimpinan juga harus bertanggung jawab kan atas keselamatan para karyawannya?"
"Ingat! kamu masih di bawah papa, belum sepenuhnya menjadi pimpinan mu"
"Iya pa iya, Arya tahu"
"..."
Begitulah percakapan antara Seorang ayah dan anaknya, bukan seperti lainnya yang harus hormat selayaknya atasan dan bahasan. Tapi berbeda dengan Wiguna dan Arya mereka seperti teman sebayanya walaupun umur mereka terpaut jauh
Apapun yang Arya minta kepada sang papanya selalu di berikan selama tidak melewati batasnya. Tentu dengan syarat jika Arya juga harus mengikuti perintah papanya apapun itu
Perasaan Arya lega karena Wiguna mau membantu untuk mencarikan donor mata, ia berharap papanya bisa menemukan dengan secepatnya tanpa menunggu lama agar Arumi bisa sembuh dan cepat-cepat masuk kerja lagi
***
Keesokannya Wiguna menelfon anak sulungnya, ia mengabari bahwa sudah menemukan donor mata dan juga sudah di tes dengan mata Arumi. Kata dokter Ridwan semua hasil tes menunjukkan cocok dengan saraf-saraf otak Arumi
Saat memasuki jam makan siang, Arya yang hendak berdiri untuk menuju ke kantin yang berada di bawah gedungnya tiba-tiba di kejutkan dengan panggilan dari Papanya
Drrrt....
Arya merogoh ponselnya di saku celana
"Papa kenapa kok nelfon aku" Batin Arya yang mengerutkan dahinya
"Halo Pa" kata pertama saat Arya sudah mengangkat panggilan
"Papa mau tanya sama kamu" Kata Wiguna dengan nada tegas
"Ada masalah apa sepertinya papa kok sedang marah" Gumam Arya tanpa mau menjawab kata Wiguna
"Arya Wiguna!" Suara sebrang sana mulai meninggi
"Eh eh, I-Iya pa?" Arya tersadarkan dari umpatannya
"Kan sudah kubilang, itu karyawan Arya pa"
"Apa benar kecelakaannya karena saat bekerja?"
Deg
Arya bingung harus mau menjawab apa, memang sebenarnya kecelakaan Arumi tidak saat bekerja melainkan saat hendak pulang kampung
"Arya! Papa bicara sama kamu ya!"
"Emm... sebenarnya kecelakaannya bukan saat bekerja pa tapi di perjalanan saat pulang ke kampung halamannya"
"Kenapa kamu membohongi papa?"
BODOH! Arya memang bodoh sudah tahu Wiguna mempunyai orang pintar untuk sekedar mencari informasi kenapa Arya masih bisa membohongi papanya. Tentu Wiguna menolong seseorang harus ia lihat latar belakangnya terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan
"Yang Arya tau misal kecelakaan saat bekerja papa akan mau membantu untuk mencarikan donor mata, tapi di luar saat bekerja pasti papa nggak akan mau mencarikannya"
"Iya memang! kalau kamu sudah tau letak kesalahanmu, besok papa akan batalkan operasinya"
"Ja-jangan pa, Arya mohon! merek berasal dari keluarga kurang mampu. Arumi saja jadi tulang punggung di keluarganya, terus apa jadinya jika Arumi mengalami buta permanen?"
Saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh anaknya, hati Wiguna langsung meleleh karena Arya mau membantu sesama orang dalam hal kebaikan
"Oke, papa tidak akan batalkan operasinya tapi dengan satu syarat"
"Syarat apa pa?"
"Kamu mau menggantikan posisi papa di sini"
"Baik pa, di Indonesia kan?"
"Bukan! tapi di Spanyol"
"Kok di Spanyol sih, kejahuan pa!"
"Kalo kmu nggak mau akan papa batalkan..."
"Jangan begitu dong pa, begini saja Arya akan membayar semua pendonor mata sampai operasi di lakukan, Arya akan ganti rugi berapapun biayanya tapi Arya jangan di pindahkan ke sana dong pa"
"Papa juga tahu jika kamu mampu membayar semuanya, Papa juga tidak masalah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mencarikan donor mata. tapi kesalahan fatal kamu adalah sudah membohongi papamu sendiri"
"Arya minta maaf kalo begitu pa"
"Papa akan maafkan jika kamu mau menggantikan posisi papa di sini"
"Tapi pa"
"Yasudah, papa sudah tahu jawaban kamu. Besok akan papa batalkan operasinya!"
"Yayaya, Arya mau menggantikan posisi papa di sana. Tapi kasih waktu ya pa"
"Satu bulan!"
"Kok sebentar sih pa, tiga bulan deh"
"Yasudah papa akan batalkan..."
"Oke oke, satu bulan Arya akan terbang ke sana untuk menggantikan posisi papa"
Dengan terpaksa Arya mengiyakan kemauan papanya
Sepulang dari perusahaan yang berada di pusat kota, Arya melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Dharmais dimana Arumi dirawat. Hampir dua bulan Arumi berada di ruang yang tak luput dari bau obat-obatan. Arya berfikir Arumi sepertinya tersiksa karena semua di lingkungannya terasa gelap tanpa ada cahaya apapun
Langkah Arya berhenti tepat di jendela sebelah pintu ruang Arumi di rawat, sebelum masuk ke dalam ia memantau antara ibu dan anaknya yang sedang berbincang-bincang. Karena pintunya tertutup rapat, Arya tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan
Arya terenyuh saat Arumi menangis di pelukan ibunya, sepertinya Arumi sudah lelah atas musibah yang ia derita saat ini. Seharusnya Arumi senang besok ia akan melakukan operasinya dan bisa melihat sekelilingnya lagi
Arya mulai memegang gagang pintu dan memutarnya perlahan...
*Ceklek...
❣️❣️❣️*
Maaf ya Kaka nunggu lama-lama, Author lagi sibuk kerja nggak ada waktu buat ngarang cerita
Sekali lagi maaf yaa