ARUMI

ARUMI
Astaghfirullah



Tubuh Arumi selalu menggeliat ke sana kemari tanpa terkecuali tangannya


"Duh, tangan ini salah posisi. Jangan sampai juniorku bangun tanpa diminta!" umpat Anwar


"Tolong jangan bergerak-gerak lagi, nanti dia bisa bangun" Anwar yang sedari tadi tidak fokus pada jalanan. Tiba-tiba...


Ciiiit


Anwar mengerem mendadak karena tiba-tiba ia melihat lampu merah tanda berhenti


"Shitt!" Anwar melewati pembatas polisi tidur di jalan


"Ada apa yang?"


Arumi kaget langsung bangun saat Anwar tiba-tiba mengerem mendadak


"Tadi kan lampu hijau aku coba menerobos eh langsung berubah menjadi merah"


Jawab jujur tapi keseluruhannya memang salah Anwar karena tidak fokus pada jalan di depannya


"Mana ada, kan ada waktunya!"


Arumi juga tidak bodoh karena setiap rambu lalulintas pasti ada waktunya


Arumi yang berusaha menetralkan kesadarannya untuk menemani Anwar agar tidak menyetir sendiri.


Semua pengendara melihat motor Anwar yang berada di depan sendiri


"Kamu melewati polisi tidur ya?"


Arumi melihat sekelilingnya yang berada di belakang


"Aku kan udah bilang, aku mau nerobos tiba-tiba berubah menjadi merah. Ya aku langsung mengerem dong" elak Anwar


"Terserah deh, Ayo udah mau Jalan tuh"


Arumi melihat rambu lalulintas berubah menjadi kuning tanda akan menjadi hijau


Lampu lalulintas sudah berubah menjadi warna hijau, Anwar langsung menancapkan gasnya dan melanjutkan perjalanan ke kota J


Dari belakang Arumi selalu mengajak Anwar berbicara agar tidak terlalu bosan di sepanjang perjalanan. Entah apa yang mereka bicarakan sampai tidak sadar sudah dekat dengan tempat kos yang Arumi tinggal


"Ayo kita cari makan dulu, dari tadi juga berhenti sejenak untuk sholat Maghrib aja"


Ajak Arumi yang merasa perutnya sudah demo ingin di beri makanan


"Iya, ayo"


Anwar segera mencari warung pinggir jalan sebelum benar-benar sampai di kosnya Arumi


"Kamu mau makan apa?"


Anwar bertanya sebelum berhenti di depan warung makan


"Terserah"


"Mau di pinggir jalan apa di rumah makan?"


"Terserah"


"Pinggir jalan aja ya, biar gampang pesannya"


"Terserah"


"Mau makan Lamongan?"


Anwar membaca banner di setiap warung yang ia lewati


"Nggak mau ayam"


"Nasgor?


"Enggak"


"Sate?"


"Aku kan udah bilang nggak mau ayam"


"Bakso?"


"Iya deh, mumpung pengen yang anget-anget"


"Kalo pengen anget-anget, peluk aja akunya"


"Apaan sih" Arumi menabok pundak Anwar


"Dasar perempuan, apa-apa suka nabok nggak jelas" celetuk Anwar yang tidak bisa di dengar oleh Arumi



Anwar melihat banner yang bertuliskan Bakso dan Mie ayam, terlihat sepi karena sudah memasuki jam 8 ke atas. Anwar langsung menepikan motornya dan segera turun untuk masuk ke warung makan


"Pak, Bakso dua ya?"


Anwar memesan kepada penjualnya


"Aku Mie ayam aja ya yang"


Arumi yang mendengar Anwar memesan 2 mangkok Bakso segera ia ralat jika ingin makan mie ayam


"Pak, yang satunya mie ayam nggak jadi bakso"


Anwar langsung merubah pesanannya


"Baik Mas"


Penjual mengiyakan


Anwar dan Arumi langsung mencari tempat duduk yang kosong. Setelah mereka mendudukkan bokongnya, ada seorang anak remaja menghampirinya


"Minumannya mau apa Mas Mbak."


Tanya anak remaja yang menawarkan minuman


"Teh anget dua ya dek"


Anwar


"Jadi es teh satu, teh anget satu"


Ralat Anwar


"Iya Mas"


Anak remaja tadi langsung pergi untuk membuat minumannya


"Katanya mau yang anget-anget, kok pesannya es teh sih?" Tanya Anwar yang memang Arumi berkata jika ia ingin yang anget-anget


"Ini beda atuh, kalo minumannya harus tetap es dong. Kalo nggak es nggak enak gimana gitu"


Arumi menjawab tanpa merasa bersalah atas apa yang ia bicarakan tadi di jalan


"Dasar perempuan!" Umpat kesal Anwar


Tak selang beberapa menit, pesanannya sudah datang yang diikuti dengan minumannya. Bapak penjual langsung menaruh mangkok di depan Anwar dan Arumi beserta minumannya


"Silahkan Mas Mbak di makan" ucap ramah sang penjual


"Makasih ya Pak"


Arumi


Mereka berdua kini menyantap makanan masing-masing tanpa mengucapkan sepatah kata, tapi


"Aku minta baksonya dong!"


tanpa permisi Arumi langsung mengambil satu buah bakso milik Anwar


"Ini pedas loh, aku kasih sambal banyak. Kan kamu nggak suka pedas-pedas" Anwar menahan tangan Arumi yang masih di mangkok Anwar


"Nggak papa, cuma baksonya doang juga nggak berasa kan?" Arumi langsung memindahkan bakso milik Anwar ke mangkok Arumi sendiri


"Nanti kamu sakit yang!" Anwar mengingatkan jika Arumi makan pedas sedikitpun ia langsung sakit perut


"Nggak-nggak" Arumi langsung melahap baksonya


"Enak juga baksonya" ucap Arumi sembari mengunyah baksonya


"Kalo makan jangan bicara, nanti tersedak baru tau rasa"


Jawab Anwar di sela-sela mengunyah juga


"Halah, nggak ngaca kamu!"


Arumi melanjutkan makannya


"Aku minta baksonya satu lagi ya, Hehe"


Arumi dengan gaya puppy eyesnya


"Aaa" Anwar menyuapi Arumi satu butir bakso


"Makasih" Arumi segera menguyah baksonya menjadi lebih lembut lagi


Sekiranya mereka sudah menghabiskan makanannya, Anwar segera beranjak ke penjualnya untuk membayar makanan yang mereka pesan


"Yang" Arumi menahan tangan Anwar


"Kenapa?" Anwar menoleh ke Arumi


"Aku aja yang bayar" Arumi berdiri


"Nggak usah, aku aja. Aku kan cowok" Tolak Anwar


"Aku aja, kamu kan udah nganterin aku sampe ke sini"


"Aku aja!" kekeh Anwar


"Yaudah ini, pake uang aku tapi kamu yang bayarin"


Arumi dengan senyuman yang memperlihatkan giginya


"Oke deh" Anwar mengambil uang kertas dari tangan Arumi kemudian ia berjalan ke penjualnya dan segera membayar


"Aku tunggu di depan" ucap Arumi mengeraskan suaranya karena Anwar sudah berjalan meninggalkannya


Arumi langsung berjalan ke parkiran dimana motor Anwar terparkir di sana. Tak lama kemudian Anwar juga datang setelah membayar makanannya


"Ini kembaliannya" Anwar mengembalikan uang yang tadi ia gunakan


"Kamu simpan aja" tolak Arumi sembari memakai helmnya


Tanpa basa basi Anwar meraih tas selempang milik Arumi kemudian ia masukkan uang yang sedari tadi ia pegang


"Dasar keras kepala!" sungut Arumi


Anwar mendengar itu, ia tidak menggubris apa kata Arumi. Anwar juga memakai helmnya dan segera melajukan motornya ke kos Arumi


Hanya lima belas menit kini Anwar dan Arumi sudah sampai di depan kosnya Arumi


"Kamu duduk dulu" Arumi mempersilahkan Anwar duduk di depan kos yang ada bangku kecil


"Iya yang" Anwar menurut


"Bentar ya, aku masukin barang ini ke kamar" Arumi menenteng barang bawaannya dari rumah


"Biar aku bantu" Anwar yang ingin membantu Arumi untuk membawa barangnya tapi di tahan


"Nggak usah!" Arumi menjawab dengan ketus serta matanya melotot


"Iyayaa" Anwar takut


Arumi tidak ingin Anwar masuk karena di dalam ada temannya yang sedang menjemur pakaiannya didalam halaman yang memakai baju cukup terbuka, ia tidak mau nanti Anwar melihatnya


Arumi masuk kedalam kamarnya dan segera meletakkan barangnya di sembarang tempat, karena ia ingin sekali membuang air kecil yang sedari tadi ia tahan


Sreeeet... Suara pagar dibuka


Anwar mendengar langsung menengok siapa yang telah membuka pagarnya


"Astaghfirullah" Anwar spontan menundukkan kepalanya sambil beristighfar


Thanks for reading ❤️❤️❤️