ARUMI

ARUMI
Operasi



Keesokan harinya Arumi akan melakukan operasi mata, tentu dengan fasilitas yang memadai atas perintah dari Arya Wiguna.


Di ruang Arumi di rawat sudah ada keluarganya serta saudara-saudara lainnya untuk menemani Arumi operasi. Semua kerabat Ningrum bertanya-tanya bagaimana Arumi bisa di operasi mengingat ia berasal dari keluarga yang sederhana


Ningrum menjelaskan bahwa Arumi bisa di operasi karena ada jaminan kesehatan dari tempat kerjanya sehingga para kerabatnya sedikit percaya walaupun tidak sepenuhnya percaya


"Rum, yang semangat dong. Mau di operasi wajahnya kok cemberut amat sih" Mia sepupu Arumi yang sedikit menghibur Arumi agar tidak tegang


"Aku deg-degan Kak" Arumi memegang dadanya


"Udah, tenang aja. Semuanya akan berjalan dengan lancar kok" Mia memeluk Arumi untuk memberi ketenangan


"Kalo tidak bagaimana?" Arumi melepaskan pelukannya


"Huss, kamu ngmong apa sih. Kita harus berdoa saja yaa" Mia menutup mulut Arumi menggunakan telunjuk


"Itu mah setiap hari aku berdoa"


"Iyayaa. Operasinya jam berapa emang?"


"Jam 9 kata dokter"


"Sebentar lagi dong" Mia melihat jam di dinding


"Emang ini jam berapa?"


"Kurang 15 menit lagi"


"Ibu dimana kak?"


"Ibu ada di luar, menemani yang lainnya"


"Kok nggak di suruh masuk aja?"


"Kata dokter di dalam jangan rame-rame, nanti kamu terganggu lagi"


"Nggak juga ah, suruh masuk aja kak. Nggak enak aku nanti sama yang lainnya"


"Udah, nurut aja apa kata dokter. Kak Mia nggak mau nanggung resikonya" Mia menepuk punggung tangan Arumi pelan


"Terserah kak Mia aja"


"Ayah dimana kak?"


"Ayah di rumah nemenin Aldo, Tika ada disini dan Dayat sedang bekerja"


"Ohh, gitu kak"


"Kamu siap-siap gih, bentar lagi dokter akan kesini"


"Siap-siap apanya" Arumi mengerutkan keningnya


"Siapkan mental maksudnya, Hehe"


Canda Mia admgar Arumi tidak tegang saat akan melakukan operasinya


"Apaan sih kak"


***


Di Rumah


Dian yang berada di rumah menunggu Aldo cucunya yang kini memasuki Taman Kanak-kanak, setiap hari Aldo pulang bersama Ardi yang memang di jemput oleh ibunya.


Sudah hampir dua bulan Ningrum sering bolak-balik ke Rumah Sakit untuk menemani Arumi, Biasanya Ningrum Sering bergantian dengan Sanak saudaranya terkadang seminggu sekali Dian yang menjaga Arumi


Entah bagaimana Dian hanya sekali dalam seminggu menemani anaknya, Tentu di rumah terasa sepi tanpa ada keramaian ia hanya bisa berdiam diri di rumah sesekali pergi ke sawah jika ia merasa bosan


Sambil menunggu Aldo pulang dari sekolahnya, Dian termenung di belakang rumah sembari menatap pohon bambu dari kejahuan


"Maafkan Ayah nak, ayah memang nggak berguna buat kamu. Sekarang kamu yang menanggung ini semuanya, ayah jahat sama kamu membiarkan kamu merantau jauh-jauh dari rumah


Ayah memang nggak berguna buat keluarganya sendiri, ayah malu sama kamu nak. Gara-gara kaki ayah ini nggak bisa cari kerja yang bener. Hiiiiks..." Dian memukul kakinya dengan kepalan tangannya sendiri


"Andai saja kalau kamu tidak merantau pasti semua ini tidak akan terjadi, sekarang kamu menanggung semuanya nak. Maafkan ayah yang nggk berguna ini


Semua teman seusiamu masih sekolah, sedangkan kamu sudah menjadi tulang punggung keluarga ini. Maafkan ayah yang tidak bisa menyekolahkan kamu nak, ayah tahu kamu anak yang pintar tapi keadaan ini yang membuat ayah seperti sekarang


Untung saja waktu itu Tika pindah kesini saat ayah kecelakaan, dan dia mau menyekolahkan kamu walaupun hanya sampai SMA saja. Tapi ijazah itu sudah cukup untuk melamar pekerjaan sana-sini walau hanya sebagai buruh


Tapi semua itu hanya gara-gara ayah yang tidak berguna untuk keluarganya. Ayah benci diri ayah sendiri, ayah benci!!!"


Racau Dian sembari mukul-mukul kaki yang di tekuk ke depan


Flashback on


5 tahun yang lalu


Setiap hari Dian mengayuh sepeda butut dengan membawa barang dagangannya, ia menyusuri jalanan untuk mengais rezeki jika ada acara tertentu biasanya Dian mangkal di sana


Tetapi Hari itu juga tidak ada acara apapun sehingga Dian hanya berkeliling ke pinggir-pinggir jalanan, terkadang berkeliling di pedesaan dimana pasti banyak anak-anak yang masih bermain dengan segerombolan bukan anak zaman sekarang yang masih kecil saja sudah memiliki ponsel sendiri


Saat Dian mengayuh sepedanya, ada seorang anak kecil memanggilnya mungkin bermaksud untuk membeli mainan. Dian berhenti sejenak melihat posisi anak yang memanggilnya tadi, ternyata ada di seberang jalan dari posisinya


Dian yang hendak menyeberang ke sisi jalan tiba-tiba ada mobil yang menyerempet bagian samping Dian. Alhasil Dian ikut terseret sejauh lima meter dari posisi tadi, Semua orang melihat kejadian itu langsung berteriak histeris melihat langsung kejadian


Orang yang berada di sekelilingnya ikut membantu Dian untuk menepikan barang dagangannya, Dian yang merasa kakinya sakit tidak kuat untuk berjalan di bantu orang di sekitar guna memapahnya


"Tolong kaki saya tidak bisa di gerakkan!" ucap Dian yang merasa kakinya tidak bisa bergerak


"Iya Pak Iya" jawab beberapa orang langsung membopong tubuh Dian


"Mobilnya kabur Pak, Wah orang kaya jaman sekarang tidak bisa bertanggungjawab!"


"Iya, yang salah itu dia malah kabur"


"Awas saja, tak sumpahin biar dia kecelakaan juga!"


"Iya! Dasar tidak berperikemanusiaan"


"Tadi ada yang hafal nomor platnya nggak?"


"Yah, tidak sempat mas. Wong mobil tadi langsung belok ke sana" orang lain menunjuk arah mobil yang menabrak tadi


"Udah Pak, saya tidak kenapa-kenapa. Hanya saja mungkin kaki saya terfikir, nanti juga langsung sembuh"


"Pak jangan ngmong begitu, kaki bapak tidak berdarah tapi bisa saja kenapa-kenapa tulangnya. Bisa saja patah atau semacamnya"


"Insyaallah tidak Bu"


"Ayo Pak, biar kami yang mengantarkan bapak pulang ke rumah"


"Iya mas makasih ya"


Dian di antar beberapa orang menawarkan pulang tadi, tak lupa barang dagangannya juga di antar sampai ke rumahnya


Di dalam mobil


Sang sopir bergetar hebat ia melihat dari kaca spion tampak pedang yang tadi ia serempet jatuh sampai terseret hampir sejauh 5 meter


"Bagaimana ini pak?" Sopir mengurangi kecepatannya lalu bertanya kepada orang yang berada di belakang


"Biarkan saja, saya sudah hampir telat!"


"Tapi pak.." ucap sopir menggantung


"Biar asisten saya yang menangani itu!" potong Bapak-bapak dari kursi belakang


"Ba-baik pak" sopir langsung melajukan mobilnya meninggalkan kerumunan yang membantu pedagang yang terserempet


Flashback off


Hampir 3 jam berlalu dokter dan perawat lainnya ke ruang Arumi untuk melakukan operasi, Samapi sekarang operasi tersebut belum juga selesai


Semua orang yang berada di kursi tunggu luar operasi merasa tidak tenang apakah operasi akan berjalan dengan lancar atau tidak


Ningrum yang tidak kuat menahan air matanya, ia tumpahkan semuanya di pelukan Tika. Keduanya sama-sama menguatkan diri mereka untuk berfikiran positif


Sekian lama menunggu dokter Dharma keluar dari ruang operasi dengan wajah yang susah di tebak


Ceklek


Mendengar pintu ruang operasi di buka, semua orang yang menunggu reflek berdiri lalu menghampiri sang dokter


"Bagaimana operasi anak saya dok?" tanya Ningrum dengan mata sembabnya


"Anak ibu..." ucap dokter menggantung


***


Aduh, bagaimana kabar Babang Anwar ya?


Author kok rindu buat cerita si babang Anwar nih


Jangan lupa dukung terus ya Kaka ❣️❣️❣️