
"Jawaban tadi pagi gimana, kamu udah ada jawabannya belum?" Anwar penasaran dengan jawaban yang akan di ucapkan Arumi
"Udah"
"Gimana?"
"Maunya gimana?
"Maunya ya di terima, tapi aku tetep mau hargai keputusanmu kok"
"Aku bingung Anwar"
"Bingung kenapa?"
"Kamu tau kan aku nggak di bolehin ayah pacaran dulu"
"Tapi kan rum, itu dulu waktu kamu sekolah. Sekarang kan sudah bekerja, masak masih dilarang ayahmu?"
"Iya sih"
"Emang kamu bisa LDR-an?" tanya Arumi hati-hati
"Insyaallah, bagiku LDR-an tidak masalah. Yang penting kita saling percaya dan mau terbuka"
"Terus para gebetanmu gimana?"
"Ya Allah Arumi, kan kamu tau dari dulu aku sukanya sama kamu doang. Aku nggak ada niatan buat deket-deket cewek lain"
Arumi luluh mendengar ucapan Anwar barusan yang di lontarkan
"Emm..."
"Gimana?"
"Yaudah deh"
"Yaudah gimana?"
"Bismillahirrahmanirrahim" dalam hati Arumi
"Iya aku terima perasaanmu" dengan malu-malu Arumi menjawabnya
"Aku nggak denger"
Anwar sebenarnya sudah mendengar jawaban Arumi tapi ia ingin sedikit menggodanya
"Nggak ada siaran ulang!"
"Iyaya, aku dengar kok. Makasih ya udah mau Nerima aku"
"Iya"
"Aku janji akan menjaga perasaanku hanya buat kamu, kamu juga ya"
"Insyaallah, tapi kalo punya pacar disini gapapa lah" Canda Arumi
"Tuh kan, aku baru bilang udah main gitu" Anwar cemberut
"Hehe, nggak-nggak. Aku juga bakal jaga hati disini"
"Yaudah, buruan bobok gih udah malem"
"Iya ini mau bobok, aku juga udah ngantuk"
"He em, Selamat tidur sayang"
"Iya, Good night"
Tuuut..Tuuut..
Arumi langsung memutuskan panggilannya secara sepihak, Karena ia malu mendengar kata sayang dari Anwar yang sekarang sudah jadi kekasihnya
Di Tempat Lain
"Arumi, sekarang kamu jadi milikku aku bersyukur banget bisa mendapatkan kamu aku berharap kamu juga bersyukur karena kita bisa bersatu. Insyaallah esok aku juga mau milikimu seutuhnya dan kita bisa menjadi keluarga" Harapan Anwar sedang melihat foto Arumi di galeri dan menjadikannya wallpaper di ponselnya
"Selamat tidur sayang, semoga tidurmu nyenyak yah" Anwar mencium foto Arumi yang ia ambil secara diam-diam
***
Keesokan harinya, Hari ini Arumi memasuki hari pertama melaksanakan training. Ia harus pandai-pandai memahami yang akan di ajarkan agar masa training ia bisa di percepat.
Pertama masuk training Arumi dan yang lainnya sedang tahap pembelajaran materi dimana di sana hanya ada materi tentang teknik mengukur badan, membuat pola, memotong, menjahit pakaian dan lain-lainnya
Sudah tiga hari Arumi melaksanakan materi-materi yang diajarkan, kini ia sedang belajar untuk menjahit mengikuti pola pakaian. Tentu mudah bagi Arumi karena ini bukan pertama kali ia menjahit baju dengan mesin jahit menggunakan listrik
"Mbak, memang kamu mengikuti kursus menjahit ya?" tanya bagian kepala training kemudian disusul oleh supervisor areanya
"Nggak buk, cuma bantu kakak menjahit di rumah"
"Coba saya lihat" Kepala training mengambil kain yang dijahit oleh Arumi namun belum jadi pakaian
"Bagus jahitanmu, rapi juga ini" Supervisor nya juga ikut berkomentar kemudian Ia pergi meninggalkan Arumi yang mulai belajar menjahit
"Aku minta hasil tes training yang mbak tadi, saya tunggu di ruangan saya" Supervisor
"Baik Pak" Kepala training tadi langsung menuju ruangannya dan mencari hasil tes yang kemarin Arumi kerjakan, ia sebenarnya tidak tahu namanya tapi ia melihat nomor mesin jahit yang dimana sama dengan nomor tesnya kemarin
Beberapa menit kemudian
Kepala training masuk ke ruangan Supervisor bagian training dan memberikan hasil tes training milik Arumi
Tok..Tok..Tok..
Pintu di ketuk sang Kepala training
"Masuk!" jawab dari dalam ruangan Supervisor
"Ini Pak, yang tadi Anda minta" Kepala training menaruh beberapa kertas di hadapan Supervisor
"Kamu boleh keluar"
"Iya Pak"
Kepala training langsung pergi keluar dari ruangan Supervisor
"Nilainya juga bagus, mendekati sempurna lagi. Tadi hasil jahitannya juga baik" Supervisor langsung menelpon ke sambungan kepala sekolah untuk meminta biodata dari Arumi
"Ini Pak, biodata yang Anda minta" Tak lama kemudian kepala training langsung mencarikan biodata milik Arumi dan menyerahkan ke supervisor
"Iya"
"Permisi Pak saya langsung keluar" Kepala training langsung keluar ruangan
"Arumi Putri Dianningrum, Nilai-nilainya bagus diatas 90 semua ini pintar sekali dia. Masak dia nggak mau kuliah ya, beneran ini dia dapat juara satu terus. Nggak nyangka ada orang sepintar dia tapi nggak mau kuliah malah pengen kerja"
Gumam supervisor setelah membolak-balikkan beberapa lampiran lamaran kerja Arumi
Sorenya
Sekitar dua jam sebelum pulang kerja, Arumi yang asik dengan menjahitnya di kejutkan tiba-tiba Kepala training menghampirinya
"Anda yang bernama Arumi?"
"Ah, Iya saya?"
"Anda di panggil Pak Arya di ruangan Supervisor sekarang juga"
Semua orang yang berada di sana langsung bergosip apakah Arumi membuat kesalahan sehingga ia di panggil oleh atasan
"Maaf, memang ada apa ya buk?" Arumi mulai cemas kenapa ia bisa di panggil supervisor padahal ia sudah mengikuti training sesuai prosedur
*
❣️❣️❣️