
Sudah semingguan kami berada dan tinggal di kawasan middle part kota Bloody Hell ini. Wilayah yang sebenarnya sangat menyenangkan dan damai untuk memulai hidup baru. Apalagi untuk pengantin baru hehehe. Kegiatan kami para pemenang turnamen selama seminggu ini cukup sibuk.
Hampir setiap hari kami menghadiri pertemuan dengan beberapa tetua di kota Bloody Hell ini untuk menyapa, beramah-tamah dan sekedar mengenalkan kami kepada seluruh penduduk kota. Para pemenang turnamen dianggap seperti pahlawan di kota ini. Kota yang lebih menghargai kekuatan dibandingkan apapun, yang kuat lah yang berkuasa di kota ini.
Persiapan pernikahan Ruby dan Zircon sedikit tertunda. Para panitia dan anak buah Ruby gagal untuk menemukan keberadaan Jade dan Paman Obsidian. Hal ini membuat Ruby jadi tak memiliki wali untuk memberikan restu pada pernikahannya. Dan sesuai adat di daerah ini pernikahan mereka tak bisa dianggap sah tanpa adanya wali.
Alhasil sebagai alternatif, Ruby dan panitia turnamen lainnya berencana untuk mengadakan pesta pertuangan saja dahulu. Pesta pertunangan Ruby dan Zircon rencananya akan diadakan nanti malam.
Huh, tak kusangka diantara kami berempat Zircon lah malah yang duluan yang meresmikan hubungannya dengan seorang wanita. Zircon yang sangat dingin, susah bergaul, bahkan yang paling lambat dalam menemukan cintanya.
'Sialan! Dia bahkan mendahuluiku sekarang!'
Pesta pertunangan nantinya akan diadakan di rumah Zircon, rumah pemenang turnamen. Karena kesibukan dan keruwetan panitia turnamen dalam mengatur pesta itu, kami semua akhirnya mengungsi di rumahku. Rumah yang kudapat sebagai juara ketiga turnamen yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah Zircon.
Para gadis sedang sibuk mengemasi barang-barang mereka. Barang belanjaan mereka lebih tepatnya. Kemungkinan besok atau lusa aku dan Opal akan mengantarkan mereka kembali ke West Line untuk selanjutnya kembali ke Istana. Memulangkan mereka.
Dan seakan kepergian mereka kesini adalah untuk bertamasya, mereka tak mau ketinggalan berbelanja habis-habisan membeli segala barang dan pernak-pernik yang tidak dapat mereka temui di kawasan istana. Dasar wanita, tak pernah jauh dari yang namanya shopping.
Seperti Amethys yang membeli banyak sekali bahan obat-obatan dari toko tradisional di pasar daerah Perifer Bloody Hell. Gadisku itu membeli barang-barang yang sangat berguna tentu saja.
Saphir dan Platina juga tak mau ketinggalan memborong berbagai baju macam padang pasir serta perhiasan dan aksesoris yang biasa dipakai di kota ini. Barang-barang tak berguna dan merepotkan saja.
"Mau bawa barang sebanyak apa lagi si, Saphir? Gearmu nanti gak bisa terbang lo keberatan muatan." Tegurku pada adikku yang sedang sibuk mengemasi belanjaannya dalam tas-tas berukuran besar.
"Enak saja, emang gearku selemah itu!" jawab Saphir ketus padaku. Meneruskan kegiatan packing-nya.
"Ya abisnya masa kamu mau menuhin kokpidmu dengan barang-barang gak jelas gitu," protesku.
"Udah deh kak, gak usah resek dan sirik." Saphir beralih menjauh dariku dengan kesal.
Sementara itu Platina dan Amethys cekikikan melihat aku disemprot oleh adikku sendiri. Huh dasar, padahal mereka sama sedang berkutat mengemasi barang-barang belanjaan mereka.
Daripada meneruskan pertengkaran dengan para gadis itu akhirnya aku mendekat ke arah Opal saja. Membahas tentang jalur kepulangan yang akan kami tempuh ke West Line nantinya.
"Apa kau sudah menghubungi Letnan Goldy?" Opal memastikan padaku.
"Sudah. Aku juga sudah menyuruhnya meminta pengawalan dari istana untuk mereka," jawabku.
"Apa gearmu sudah dilengkapi navigasi map zona bebas? Bagaiman kau bisa kesini dulu?" Opal menanyaiku tentang hal yang sangat penting. Peta navigasi free zone.
"Cuma sampai West Line. Dulu aku kesini dijemput oleh Ruby dengan pesawatnya," aku mengingat proses kedatanganku ke kota Bloody Hell ini.
"Berarti kau minta saja map navigasinya ke Ruby. Dia pasti punya kan?" celetuk Opal ringan.
"Aku yang minta?" tanyaku sanksi.
"Iyalah. Kayaknya dia lebih dekat padamu daripada aku. Tapi awas jangan dirayu lho ya, anjing herdernya galak sekarang hahahha," jawab Opal santai.
"Hahahaha benar sekali. Mana berani aku mengusik calon istrinya Zircon." Aku tertawa geli membayangkan wajah kesal Zircon jika aku dekat-dekat pada Ruby. Lucu banget asli melihat perubahan drastis dirinya.
Tanpa membuang waktu lagi, aku pun langsung beranjak dari sisi Opal untuk pergi mencari Ruby. Dan kudapati gadis itu tentu saja sedang berada di Rumah Zircon. Mempersiapkan segala sesuatunya disana.
"Ruby, Bisa bicara sebentar?" tanyaku pada gadis itu sekaligus meminta ijin pada Zircon yang sedang bersamanya. Meminjam calon istrinya itu sejenak.
Ruby langsung tersenyum sumringah menyambut kedatanganku. "Kolonel. Tentu saja!" Gadis itu langsung nempel dan menggandeng lenganku.
Sementara Zircon langsung melemparkan pandangan menusukknya padaku. Duh itu anak kayakmya udah bucin beneran deh sama Ruby. Bisa-bisanya dia cemburu padaku coba? Bukanya dia tahu benar sudah ada Amy untukku?
"Aku pinjem bentar ya calon istrimu, Zirc." pamitku padanya sambil membawa Ruby keluar dari ruangan. Kuabaikan tatapannya yang seolah mengatakan 'jangan macam-macam lho ya,' padaku.
"Ada perlu apa kolonel?" tanya Ruby padaku
"Aku ingin minta bantuanmu. Soal navigasi map di free zone. Aku yakin kau dan semua rekanmu pasti memilikinya." pintaku padanya.
"Kolonel mau pergi dari sini?" Ruby terlihat tidak senang mendengarnya.
"Aku ingin memulangkan para gadis ke West Line. Disini terlalu berbahaya untuk mereka." Jawabku jujur.
"Oh. I see." jawab Ruby.
"Nanti akan kusuruh anak buahku mengistal navigasi map-nya ke gear anda." Gadis itu sepertinya tak keberatan dengan jawbanku.
"Terima kasih Ruby," aku mengucapkan terima kasihku padanya.
"No problems."
"Aku senang sekali, kau mendapatkan Zircon sebagai lelaki-mu." Ujarku padanya mengutarakan kegembiraan atas hubungan mereka berdua.
"Anda pasti senang karena aku tak bisa untuk mengejar-ngejar anda lagi kan?"
"Hehe sejujurnya agak sedih juga. Rasanya ada yang hilang" Ujarku mengakui.
"Tapi aku tahu betul kau hanya terobsesi padaku, bukan cinta. Dan aku juga sejujurnya perduli padamu, aku sayang padamu. Aku menyayangimu seperti Saphir dan Platina, selayaknya adik perempuanku." Kukatakan apa yang kupikirkan tentang dirinya.
"Aku tahu..." Ruby tiba-tiba saja memeluk tubuhku. Pelukan ringan dan hangat tanpa adanya getaran asmara. Murni seperti pelukan persaudaraan.
"Maafkan semua kesalahanku padamu, Kolonel. Aku, aku sudah terlalu banyak merepotkanmu." Ujar Ruby terdengar sangat menyesali perbuatannya.
"Gadis bodoh. Sudah sepantasnya kan bagi adik perempuan untuk merepotkan kakaknya? I'm your big brother." kutepuk-tepuk pelan puncak kepala Ruby dengan sayang.
"Mulai sekarang jangan panggil aku Kolonel lagi, kau bisa memanggilku Kakak."
"Kakak....Kak Diamond...Terima kasih banyak." Ruby semakin erat memelukku. Seakan itu adalah pelukan perpisahan terakhirnya untukku. Seakan dia ingin mengakhiri segala hubungan kami sebelumnya.
Sekarang saatnya bagi kami berdua untuk memulai hubungan baru, selayaknya saudara. Apalagi jika dia akan menjadi istri Zircon nantinya, secara otomatis juga Ruby akan menjadi seperti adik iparku sendiri.
"Ada satu tempat yang aku ingin minta tolong kakak untuk memeriksanya. Akan kutandai nanti di navigasi map." Pinta Ruby sedikit ragu setelah melepaskan pelukanya padaku.
"Tempat apa itu?" tanyaku penasaran.
"Lokasinya tak jauh dari West Line. Aku curiga ayahku sedang berada disana saat ini." Jawab Ruby ragu.
"Ayahmu? Jendral Obsidian?"
"Benar. Dan aku takut terjadi sesuatu padanya sehingga beliau tidak bisa pulang untuk waktu yang cukup lama. Tolong bawalah ayahku kembali kesini dalam keadaan hidup ataupun sudah mati." nada suara Ruby terdengar sangat khawatir.
"Hidup atau mati?" tanyaku bingung.
"Yah kemungkinan terburuknya kan begitu." Ada suatu kesedihan di wajah cantik Ruby.
Mungkin Ruby juga sedikit sangsi akan keadaan dan keselamatan ayahnya yang bahkan sudah menghilang tanpa kabar sebelum natal. Berarti sudah hampir dua bulan dari sekarang beliau menghilang.
"Baiklah. Aku akan mencarinya untukmu." Ujarku menyanggupinya. Sebagian karena ingin membantu gadis itu, sebagian lain karena memang mencari paman Obsidian adalah tujuan kami dari awal.
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼