Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
82. Opal - Couple



Pagi hari yang cerah di kota Blody Hell, aku mengajak Platina berjalan-jalan untuk melihat-lihat dan berkeliling kota. Sejak mendatangi kota ini memang aku dan Platina tak pernah sekalipun dapat keluar dan berkeliling kota. Melihat bagaimana keadaan dan susana kota bebas tak bertuan ini. Beberapa hari ini kami berdua menghabiskan sebagian besar waktu kami di dalam ruang tawanan. Terkurung dan terus diawasi oleh beberapa pengawal Ruby agar kami berdua tidak kabur.


Setelah selesai pertandingan semifinal kemarin entah bagaimana Ruby akhirnya melepaskan aku dan Platina untuk bebas pergi kemanapun yang kami mau. Kami berdua bukan lagi tawanan yang dikurung dan disekapnya di ruang terkunci.


Ruby akhirnya melepaskan dan mengembalikan semua barang-barang kami. Yah meskipun bukan Ruby sendiri yang menemui dan melepaskan kami. Gadis itu seakan pergi menghilang begitu saja setelah pertandingan semifinal berakhir.


Mungkin karena negosiasinya dengan Diamond dan Kak Amethys, karena Diamond sudah membawa emas tebusan untuk kami dan bertarung menuruti kemauannya dalam turnamen. Atau mungkin juga karena sudah tak ada lagi yang dapat dilakukannya padaku dan Platina.


Kedua kandidat turnamen untuk mewakilinya dalam turnamen, aku dan Diamond sudah kalah. Ruby tak bisa lagi berharap untuk memenangkan turnamen tahun ini melalui kami. Yah meskipun masih ada Zircon yang nanti akan melawan Jade di pertandingan final. Tapi Zircon berbeda dengan kami, dia benar-benar berada diluar kendali Ruby.


"Kak Opal ayo ke sebelah sana," Platina menarik lenganku dan menggenggam sebelah jemariku, mengajakku setengah berlari.


Kami menghampiri salah satu toko aksesoris dan perhiasan. Platina berhenti disana memandang dengan takjub barang-barang yang dipajang di etalase. Berbagai macam perhiasan yang terbuat dari logam-logam mulia dalam berbagai bentuk dan ukuran. Dapat kulihat mata gadis itu terpaku pada beberapa cincin indah yang terbuat dari emas putih.


"Kamu suka? Pilihlah salah satu akan kubelikan untukmu," ujarku menawarkan padanya.


"Eh? Boleh? Aku...aku ingin cincin couple. Cincin kembar yang aku pakai dan Kak Opal Pakai." Jawab Tina ragu-ragu dengan wajah memerah menahan rasa malu.


"Couple?" Tanyaku heran. Aku memang tidak berminat untuk memakai perhiasan.


Tetapi aku sudah sering membaca bahwa beberapa orang mempercayai cincin yang berpasangan dapat digunakan sebagai penanda untuk mengikat suatu hubungan antara pria dan wanita. Menandakan keseriusan hubungan mereka, bisa juga menandakan bahwa keduanya sudah bertunangan atau menikah. Mungkin karena memikirkan hal itu Platina menjadi malu-malu.


"Pak tolong pria dan wanita yang untuk couple," pintaku kepada penjual di toko.


Sang penjual langsung mengeluarkan beberapa koleksinya dari etalase. Berbagai macam bentuk dan detail cincin tertata rapi disana yang membuatku makin bingung untuk memilihnya. Bagiku semua cincin itu terlihat sama saja meskipun detail kecilnya jelas berbeda-beda untuk setiap cincinnya.


Platina mengambil salah satu cincin dengan detail polos dan beberapa lekukan simple di pinggirnya, dia mencobanya di jari manis kirinya.


"Gimana kak Opal? Cocok tidak?" Tanyanya padaku sambil menunjukkan jemarinya padaku.


Kuperhatikan cincin di jemarinya yang terlihat sangat pas dan sesuai disana. "Bagus. Kamu mau yang itu?" tanyaku memastikan pilihannya.


"Tolong carikan pasangan untuk yang ini pak," pintaku pada sang penjaga toko. Sang penjaga toko langsung menyodorkan beberapa cincin yang sama seperti yang sedang dipakai Platina. Dengan ukuran yang lebih besar padaku. Kucoba beberpa cincin di jari manis tangan kiriku sebelum akhirnya kutemukan satu yang pas untuk ukuran jariku.


"Bagaimana? Cocok?" Kutunjukkan jemariku pada Platina untuk meminta persetujuan darinya.


"Cocok. Bagus sekali hehe," Platina tertawa kegirangan sebagai jawaban.


Gadis itu mensejajarkan telapak tangan kirinya dengan tanganku. Mengamati kedua tangan kami yang memakai cincin sama. Sesekali kucuri pandang padanya. Kulihat gadis itu terus saja senyum-senyum kegirangan, membuat hatiku pun ikut berbunga-bunga hanya dengan melihatnya.


"Terima kasih kak Opal" Ujarnya sambil memalingkan wajahnya dariku setelah menyelesaikan aksinya. Terlalu malu untuk menatap wajahku.


Manis sekali, tingkah Platina yang manis dan malu-malu itu mampu membuat dadaku bergemuruh kencang dengan bunyi dentuman keras setiap jantungku berdetak. Tidak kusangka Platina seberani ini menciumku bahkan didepan sang penjaga toko yang sedikit kaget melihat tingkah berani kami.


Pak tua itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua sejoli di hadapannya. Mungkin dia sudah terbiasa melihat tingkah para muda mudi yang kasmaran begini. Karena dia menjual cincin pasangan yang pastinya dibeli oleh sepasang kekasih juga.


"Baiklah aku ambil yang ini pak. Berapa?" Ujarku ingin segera mengakhiri transaksi di toko ini.


"747.000 gills untuk kedua cincin, Tuan", jawabnya setelah menghitung di kalkulator.


Kurogoh sakuku dan kukeluarkan sejumlah uang yang disebutkan tadi. Kusodorkan pada penjaga toko itu sebagai pembayaran tunai. Penjaga itu menawarkan untuk membungkus cincin kami, tetapi aku menolaknya karena kulihat Platina sudah sangat menyukai cincin yang bertahtah di jarinya, seakan dia tak ingin melepasnya lagi.


"Tak perlu bungkus pak, langsung dipakai saja." Ujarku memutuskan, langsung membawa Platina berlalu.


"Yuk kita lanjutkan belanja kita" Ujarku pada Platina. Kugengam erat sebelah tangannya dan kutuntun dia berjalan keluar dari toko perhiasan itu. Kubawa dia berjalan dan terus berjalan sampai kami berhenti di sebuah lorong sempit yang sepi diantara dua toko.


"Kok ketempat sepi begini?" Tanya Platina sedikit keheranan mengamati lorong tempat kami beduri.


"Karena aku belum sempat membalas ulah nakalmu padaku tadi," ujarku sambil mengedipkan sebelah mataku padanya.


Kudekati Platina, dekat dan semakin dekat, sampai kami berhadapan tanpa jarak. Kudongakkan dagu gadis itu untuk mengarahkan wajahnya ke arahku. Dengan sangat halus dan perlahan kudaratkan bibirku di bibir tipisnya yang merekah indah.


Untuk beberapa saat kami berdua menutup mata, menikmati segala sensasi rasa manis saat kedua bibir kami bertemu. Sensasi panas membara yang membakar tubuh kami, sensasi bahagia yang seakan dapat membuat tubuh kami melayang tinggi diangkasa. Sensari menyenangkan dan memabukkan.


"Untuk sekarang cukup begini saja. Aku akan melamarmu dengan lebih pantas saat suatu saat nanti." Ujarku setelah melepaskan tautan bibir kami. Kutatap wajah Platina yang sudah merah padam dan kusunggingkan senyuman terindahku untuknya.


"Aku...aku...." Platina tak sanggup bereaksi, dia terlalu malu untuk menjawab ucapanku, ditutupnya wajahnya dengan kedua telapak tangannya untuk mencegah aku terus memandangnya. Hehehe dia manis sekali.


Kutepuk-tepuk pelan kepalanya dan kugenggam erat tangannya lagi untuk melanjutkan perjalanan kami. Melanjutkan tujuan kami sebenarnya untuk berbelanja peralatan gear yang dibutuhkan untuk maintenance dan service Fenrir.


Yah setelah aku bukan tawanan lagi, sekarang aku bebas untuk berkeliling kota. Bahkan aku juga bisa membantu Zircon untuk mempersiapkan gearnya sebelum pertandingan final nanti.


..._______#_______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼