
Siang ini Ruby mendatangiku dan Platina di tempat kami disekap, di bangunan besi mirip gerbong kami lebih tepatnya. Tak seperti biasanya, kal ini gadis itu tampak terburu-buru dan tidak sabaran.
"Ayo kalian berdua ikut aku," perintahnya kasar.
"Oiya hampir lupa," dikeluarkannya dua lembar kain hitam dari saku celananya.
"Apa itu? Kamu mau apa?" tanyaku coba menyelidiki apa kira-kira yang diinginkannya dari kami berdua.
"Untuk jaga-jaga saja si," lanjutnya sambil menghampiri Platina dan menutup kedua matanya dengan selembar kain. Kemudian dia menghampiriku juga dan mengikatkan selembar kain yang tersisa pada kedua mataku.
Fix aku tak dapat melihat apa-apa sekarang. Hanya kegelapan pekat yang dapat ditangkap oleh indera penglihatanku. Tapi aku tak akan menyerah hanya karena itu, kucoba untuk lebih menguatkan indera yang lain untuk menggantikan penglihatan. Kucoba untuk bisa mendapatkan petunjuk dengan lebih menguatkan kepekaan indera perasaanku.
Ruby memanggil dua orang anak buahnya yang berjaga di luar ruangan untuk menuntun kami keluar. Kami berjalan beriringan sampai disebuah halaman dengan sebuah mobil yang menanti kami disana. Mereka memasukkan kami ke dalamnya dengan paksa. Tak lama kemudian mobil melaju dengan kencang membawa kami berdua pergi.
Kucoba untuk berkonsentrasi penuh menghafalkan setiap jalan dan rute yang kami lewati meskipun aku tak dapat melihatnya.
Hmmm jika mobil kira-kira berjalan dengan kecepatan konstan 60 km/jam, maka kami sudah berjalan lurus kira-kira 2 km, kemudian berbelok ke kanan 1 km, lurus sejauh 500 m. Kemudian ke kanan lagi, lurus, kiri, kanan dan kanan lagi. Aku mendapat firasat kalau mereka sengaja mengambil jalan berputar-putar. Aku yakin Jarak yang kami tempuh sebenarnya tak begitu jauh dari tempat penyekapan kami.
Kira-kira setengah jam kemudian mobil kami berhenti melaju, sepertinya kami telah sampai di tujuan. Anak buah Ruby kembali menggiring kami kami keluar dari mobil. Mereka menggiring dan menuntun kami berjalan menaiki beberapa anak tangga, memasuki sebuah gedung.
Suasana di gedung ini sangat ramai, bahkan dengan mata tertutup pun dapat kuperkirakan ada ratusan orang yang ada disini. Berbagai macam suara, nada dan logat, percakapan, gelak tawa sampai alunan musik semua bercampur menjadi satu, hinggar bingar dimana-mana.
Mereka membawa kami ke sebuah ruangan, kudengar bunyi debaman pintu tertutup dan tak lama kemudian seseorang membuka penutup mata kami. Aku mengedipkan mata sejenak untuk mengadaptasikan mataku terhadap cahaya. Dan hal pertama yang dapat kulihat ada Ruby, dia yang telah melepaskan penutup mataku. Kemudian dia juga melepaskan penutup mata dari kedua mata Platina.
Begitu dapat membuka matanya Platina langsung mendekatkan tubuhnya padaku, seolah mencari perlindungan. Kelihatan sekali gadisku itu sedikit ketakutan dengan Ruby yang berdiri di hadapannya. Ruby yang bisa menjadi orang baik namun sedetik kemudian menjadi bengis. Ruby dengan segala ketidak pastian sikapnya pada kami.
"Dimana ini? Kenapa ramai sekali?" Tanyaku menyelidik, ingin mencari tahu informasi.
"Tournamen Hall Bloddy Hell" Jawab Ruby santai.
"Sudah kubilang kan kau harus melakukan sesuatu untukku? Permintaanku atas balas jasamu."
"Benar. Apa permintaanmu?" Aku ingat benar masih berhutang satu permintaan darinya. Sebagai balas jasa karena dia menyelamatkan nyawa Platina.
"Kau harus mengikuti turnamen disini."
"Apa? Turnamen apa?" Tanyaku kaget.
"Biasa, pertarungan gear ringan seperti duel 1 lawan 1. Sangat mudah bagi prajurit sekelas Sersan Opal Sumeragi kan?" Kali ini kalimat Ruby penuh ancaman.
"Kau? Kau sudah tahu siapa aku?" tanyaku tak berdaya. Jadi di bahkan sudah menyelidiki tantang aku. Bahkan dia juga tahu pangkatku dalam militer?
"Tentu saja. Siapa sih yang gak kenal keluarga Sumeragi? Keluarga dokter dari berbagai generasi?"
Semakin mengerikan saja rasanya setelah tahu Ruby mengenali siapa kami sebenarnya. Dan mau tak mau aku jadi kepikiran lagi soal beberapa rambut Platina yang diambilnya waktu itu. Untuk apa?
"Jangan coba-coba mengacau atau gadis cantikmu ini tak akan cantik lagi." Tiba-tiba saja tanpa dapat kucegah, Ruby sudah mendekati Platina dan menempelkan pisau belati tajamnya ke wajah Platina penuh ancaman. Membuat Platina pucat pasi berdiri ketakutan sambil memejamkan matanya.
"Tidak! Hentikan! Akan kulakukan. Akan kuturuti apa maumu. Tapi tolong jangan kau sakiti Platina" Ujarku panik. Tak ingin gadis nekat itu manyakiti Platina.
"Aku takut, Kak Opal. Ruby benar-benar mengerikan," ujar Platima lirih dan tubuh bergetar ketakutan.
"Tak apa, aku akan menjagamu. Jangan khawatir," kugenggam sebelah tangan gadisku itu untuk sedikit menguatkannya, mencoba memberinya ketenangan dan keberanian.
"RUBY! Dimana kau!!" Pintu ruangan tiba-tiba berdebam keras, terbuka dengan kasar dan seorang pria menerobos masuk ruangan dengan paksa.
Beberapa anak buah Ruby coba mengentikan langkah pria itu, tetapi dengan mudah pria itu memukul dan meyingkirkan mereka dari hadapannya.
"Aduh Jade...Apaan sih? Jangan bikin heboh deh." Jawab Ruby santai menghampri pria itu.
Kuamati sesaat pria itu, dia memiliki wajah cukup tampan dengan rambut hitam cepaknya. Dia mengenakan pakaian rapi dan bagus dibandingkan anak buah Ruby. Kemungkinan dia orang yang berkedudukan disini. Tatapan matanya sangat tajam dan entah mengapa aku merasakan ada kesadisan yang tersembunyi disana. Dia seperti penjahat kelas kakap yang tak akan ragu untuk membunuh dalam setiap aksi kejahatannya. Dari raut wajahnya kuperkirakan pria itu usianya sekitar 25 an tahun.
"Apa maksud turnamen ini? Apa maksudmu akan menikah dengan pemenangnya hah?" Jade membentak Ruby, marah.
"Aku sudah dewasa. Sudah waktunya menikah," jawab Ruby enteng.
"Enak saja! Siapa dia?" Jade menyapukan pandangan bengisnya keseluruh ruangan dan tatapan tajamnya berhenti padaku.
"Oh jadi dia pria yang ingin kau nikahi?" Lanjutnya mengarahkan jari telunjukknya padaku dengan penuh emosi. Mengira aku adalah pria yang dimaksud.
Aduh gawat! Perkara apa lagi ini? Menikah? Ruby dengan aku? Tunggu dulu, pasti ada yang salah. Aku memang berjanji untuk melakukan apapun untuk Ruby demi menjaga keselamatan Platina. Bahkan mengikuti turnamen pun aku tak keberatan. Tapi untuk menikah?
"Bukan urusanmu aku mau menikah dengan siapa, Jade!" Teriak Ruby ikut emosi menghadapi Jade.
"Aku tidak setuju! Akan kugagalkan semua rencanamu gilamu. Akan kubunuh siapapun pria yang berani mencoba untuk menikahimu," ancam Jade dengan nada meninggi tak mau kalah.
"Memangnya kau siapa? Kau tidak berhak!"
"Aku kakakmu! Akan kupastikan bahwa kau tak akan menikahi laki-laki lain. Kau milikku!" Ujar Jade terakhir kali penuh penekanan dan ancaman sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan kami. Pria itu membanting pintu ruangan keras-keras sebagai tambahan ancamannya kepada Ruby.
"Aaaaahhhh persetan denganmu Jade. Dasar sister complex abnormal! Teriak Ruby, dan Jade tetap berlalu tanpa menghiraukannya.
"Dia adalah kakakku. Tapi kami tidak ada hubungan darah. Dia anak angkat ayahku. Dia itu abnormal gila. Masa dia ingin menikahiku?" Ruby mencoba menjelaskan situasi yang baru saja terjadi kepadaku dan Platina. Situasi aneh tentang hubungannya dengan kakak tirinya.
"Aku ingin menikah dengan pria lain yang kucintai. Atau paling tidak dengan gear master hebat yang bisa memenangkan turnamen ini. Bukan dengan si brengsek abnormal sepertinya. Bagaimanapun juga aku sudah menganggapnya kakak, aku tak bisa untuk menikahinya dan menjadi istrinya." Ruby menumpahkan segala uneg-unegnya pada kami.
Aku diam saja tak sanggup menjawab atau bereaksi. Hanya bisa saling pandang dan bergenggaman tangan tangan dengan Platina. Aduh kenapa kami terjebak dalam konflik rumah tangga yang pelik ini?
Jade sepertinya tidak main-main dengan ucapannya, dia tak akan segan membunuh dalam turnanamen ini.
Lalu jika apa yang mereka perdebatkan tadi benar, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus berjuang mati-matian untuk memenangkan turnamen dan menikahi Ruby? Atau harus mengatur rencana menyerah saja di tengah jalan?
Yah nanti saja dipikirkan lagi, kita liat perkembangan lebih lanjut saja nantinya.
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼