Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
109. Diamond - Mistery



Aku hanya bisa terdiam membisu tanpa sanggup bereaksi. Masih terduduk di ruangan pertemuan kecil itu dengan ayahku yang juga duduk diam di hadapanku.


Kupaksakan otakku untuk berpikir lebih keras dan loading lebih cepat untuk memproses segala informasi yang baru saja kudapatkan. Tentang garis keturuan kerajaan yang ternyata ikut melibatkan namaku didalamnya. Tentang darah murni solarisku. Juga tentang darah pewaris kerajaan Almekia yang mengalir di dalam tubuhku.


"Apa ibuku, yang mulia ratu , Bibi Nefrit membuangku?" Tanyaku tak berdaya pada ayahku.


Bagaimana mungkin bibi Nefrit yang terlihat lemah lembut dan sangat baik hati itu akan tega untuk membuang diriku? Aku yang merupakan putra kandungnya sendiri?


Aku juga tahu betul seberapa besar rasa kasih dan sayang bibi Nefrit pada Jasper, putranya yang lain. Bagaimana bibi Nefrit memperlakukan putranya itu dengan kasih sayang dan lemah lembut. Tapi mengapa perlakuannya padaku sangat berbeda? Kenapa dia begitu kejam padaku? Kenapa dia bahkan membuangku? Bukankah aku juga putranya?


Dan yang lebih janggal lagi kurasakan adalah sikap dari bibi Nefrit sehari-hari kepadaku. Beliau begitu lugas seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Dia juga sangat baik padaku, dia bahkan menyayangiku seperti layaknya anaknya sendiri, seperti keponakannya. Putra dari sahabat lamanya. Kenapa bisa begitu?


"Bukan begitu. Nefrit...Nefrit sama sekali tidak tahu menahu soal ini. Waktu itu Nefrit sedang tidak pada kondisi yang memungkinkan untuk mempertahankan dirimu" Jawab ayahku.


"Apa maksud ayah?..." Aku benar-benar tak habis pikir. Alasan seperti apa yang dapat membenarkan tindakan seorang ibu yang telah tega membuang putra kandungnya sendiri?


"Nefrit juga sama sekali tidak tahu bahwa kau adalah putranya...Tapi mungkin sekarang dia sudah tahu. Setelah kejadian sakitmu waktu itu. Setelah dia memberikan banyak sekali darah untukmu." Ayahku menjawab dengan pandangan menerawang, mempertimbangkan sesuatu.


"Bibi Nefrit baru tahu?" tanyaku.


"Iya. Nefrit ternyata juga sangat penasaran dengan darahmu. Bagaimana bisa hanya darahku dan darahnya saja yang kebetulan cocok untuk didonorkan padamu." Beliau berhenti sebentar dan mengambil napas.


"Nefrit diam-diam datang ke Rumah Sakit dan menyuruh Opal untuk melakukan tes DNA pada rambutnya dan rambutmu. Dan menurut Opal kecocokan DNA kalian bahkan 99,9%. Tak diragukan lagi bahwa kalian adalah ibu dan anak." Lanjut ayahku menjelaskan.


"Opal? Opal sudah tahu sejak waktu itu?" Aku kaget tak percaya Opal bahkan sudah mengetahui rahasia ini. Kenapa Opal bahkan tidak memberitahuku rahasia sepenting ini? Kenapa dia tak memberi tahuku tentang siapa orang tua kandungku?


"Iya. Opal merasa dia tidak berhak untuk menceritakannya padamu. Karena itu tadi dia memintaku untuk menceritakan sendiri padamu. Karena akulah yang lebih berhak untuk menceritakan hal ini padamu."


Aku semakin frustasi mendengarkan penjelasan ayahku yang terasa menyesakkan di dada ini. Ingin rasanya aku berteriak keras-keras, mengumpat bahkan mencaci maki atas segala ketidak berdayaanku ini.


Meratapi nasib dan kemalanganku yang baru kuketahui setelah dua puluh tahun lebih usiaku. Ingin rasanya menyalahkan seseorang atas semua kemalangan yang terjadi padaku. Tapi siapa? Siapa yang salah dalam kejadian ini? Haruskan aku menyalahkan Tuhan atas takdir burukku ini?


"Aku telah disumpah untuk tidak menceritakan apapun tentang almarhum paduka raja." Ayahku tiba-tiba mengatakan tentang sumpah magic mereka yang tak bisa dilanggar.


Sumpah sialan itu untuk apa coba? Menyulitkan kami saja untuk mencari dan mengungkap kebenaran yang terjadi. Menghalangi kami untuk menyibak tabir misteri yang menyelimuti seluruh kerajaan.


"Mulutku sudah terkunci rapat. Aku tak dapat berbicara mengenai hal itu...Tapi aku dapat menunjukkan sesuatu padamu."


"Apa? Menunjukkan apa?" Aku sudah tidak terlalu berharap banyak untuk mendapatkan informasi lebih jelas lagi. Aku tahu betul kekuatan sumpah itu. Kekuatan yang bahkan dapat menyakiti dan membunuh orang yang melanggar sumpahnya sendiri.


"Mungkin banyak yang tidak tahu. Aku adalah seorang wishperer, Diamond. Wishperer murni dari klan Solaris. Dapatkan kau bayangkan apa yang dapat kami lakukan?" Ayahku membuka tentang kemampuan rahasianya padaku.


"Bertelepati? Dengan jarak lebih jauh?" Aku mencoba menerka-nerka. Setahuku wispherer memiliki kemampuan untuk berbicara kepada orang lain melalui pikirannya.


"Lebih jauh lagi, aku dapat mengendalikan pikiran seseorang yang sedang lemah atau bimbang. Kadang aku juga dapat membaca pikiran mereka. Karena itu lah aku paling ditakuti oleh sebagian besar orang di istana."


Aku benar-benar kaget demi mendengarnya sekarang. Ternyata ayahku memiliki kemampuan semengerikan itu? Pantas saja dia dapat menduduki posisi perdana menteri dalam waktu yang sangat lama. Dengan kemampuannya itu pasti tidaklah sulit baginya untuk mengatur dan menata kerajaan sesuai dengan keinginannya. Seperi bidak catur yang dapat dimainkannya sepuasnya dan sesuka hatinya.


Jangan-jangan ayahku juga bisa membaca pikiranku? Jangan-jangan ayah tahu waktu aku mengumpat padanya dalam hatiku? Duh benar-benar gawat. Dengan begini aku bahkan tak akan bisa berbohong padanya.


"Kemarikan tanganmu." Perintah Ayahku sambil mengulurkan kedua tangannya si atas meja. Memintaku untuk meraih kedua tangannya dengan tanganku. "Akan kutunjukkan kepadamu seperti apa kemampuan wishperer murni yang lainnya."


Dengan sedikit ragu-ragu kuulurkan kedua tanganku untuk meraih kedua tangan ayahku. Kedua jemari kami bertemu, berhimpitan dan bertautan. Dapat kulihat ayahku memejamkan matanya dengan perlahan. Akupun tak mau ketinggalan mengikutinya memejamkan mataku. Menghadirkan suasana gelap yang sangat mencekam.


Dapat kurasakan kedua tanganku menghangat. Perlahan namun pasti dapat kurasakan tubuhku melayang-layang di udara. Tunggu dulu, bukan tubuhku. Sepertinya hanya pikiranku yang melayang, kesadaranku yang seolah melayang pergi jauh meninggalkan tubuhku...


Dapat kurasakan aku berada di dalam sebuah ruangan sempit yang mirip dengan sebuah kamar di sand submarine. Disana berdiri dua orang pria muda, salah satunya berambut pirang dengan sebelah mata memakai penutup mata. Seseorang yang pernah kutemui waktu aku sekarat diantara hidup dan mati. Dan satunya lagi seorang pria berambut silver dengan wajah kaku dan dinginnya yang seolah tanpa ekspresi.


Mereka adalah Ayahku, Kunzite dan paduka raja raja, Jasper waktu masih muda. Keduanya terlihat tampan seperti layaknya putra putri bangsawan kerajaan. Kuperkirakan usia mereka waktu itu masih sekitar awal dua puluhan tahun.


Dimanakah aku? Apakah ini kenangan masa lalu dalam benak ayahku? Jadi kemapuan lain wishperer murni adalah dapat menarik orang lain untuk melihat kedalam pikirannya sendiri? Melihat ingatannya?


Kunzite mengeluarkan sebuah liontin yang menggantung di kalung yang dikenakan dilehernya. Liontin yang terbuat dari batu giok berbentuk setengah lingkaran dengan banyak ukiran diatasnya. Ukiran yang seperti lambang kerajaan Almekia. Liontin itu seperti bagian dari liontin bulat yang terbelah tepat di tengahnya dengan potongan yang tidak rata dan tidak beraturan.


Jasper sangat kaget melihat liontin itu, cepat-cepat dirogohnya kantong celananya. Dikeluarkannya juga sebuah kalung dengan liontin yang hampir sama targantung disana. Liontin giok berbentuk setengah lingkaran juga.


Perlahan didekatkannya liontin miliknya dengan liontin milik Kunzite. Kedua liontin itu dapat bersatu dengan tepat dan berhimpitan. Tak diragukan lagi keduanya merupakan satu kesatuan liontin giok berbentuk bulat yang telah dibelah menjadi dua.


"Ayahanda pernah berkata sebelum meninggal bahwa aku memiliki seorang kakak laki-laki dari ibu lain, yang tinggal di Flying Island Solaris. Tak kusangka kaulah orangnya, Kakak" Jasper memeluk tubuh Kunzite dengan sangat erat. Mereka berdua berpelukan erat untuk beberapa saat. Seakan melepas segala rasa haru dan rindu karena telah menemukan saudaranya yang telah hilang setelah sekian lama.


"Sebelum kematiannya, ibuku juga memintaku untuk mencari ayah. Ibu berkata ayah ada di bumi, warga solaris yang tinggal di bumi. Aku akhirnya mengembara pergi dari solaris dan turun ke bumi. Untuk mencari kalian. Aku pun sempat menemui ayah kita, dan memintanya untuk menjadikanku sebagai pengawal pribadimu." Kunzite kembali menjelaskan.


"Kau yang lebih tua dariku. Seharusnya kau meminta tahta kepada ayahanda." Ujar Jasper


"Mana mungkin. Ibuku hanyalah istri raja sebelum menjabat. Dan ibumulah istri sah raja setelah menjabat. Maka dirimulah yang lebih berhak untuk melanjutkan tahta Almekia Kingdom." Kunzite menolak.


Jadi begitu... Ternyata ayahku dan almarhum paduka raja adalah saudara satu ayah? Pantas saja keduanya terlihat sedikit mirip. Terutama warna bola mata mereka yang sama-sama berwarna biru sejernih lautan. Warna bola mata biru yang menurun dan sama persis dengan kedua mataku sendiri.


Padahal kukira aku mendapatkan warna mata ini karena aku adalah putra Kunzite sang perdana menteri Almekia Kingdom. Tak kusangka bahwa aku malah mendapatkan warna mata ini bahkan dari warisan keturunan dan darah yang lebih dalam lagi. Darah keturunan kerajaan Almekia kingdom yang agung.


..._______#_______...