
Hari pelaksanaan babak kedua turnamen yang dinantikan telah tiba. Pada babak ini rencananya aka diadakan pertandingan gear satu lawan satu.
Pukul 10.00 pagi kami bertiga meninggalkan penginapan dan berjalan santai ke city hall, tak seperti babak penyisihan yang mengharuskan kami berangkat ke hall pagi-pagi untuk mengantri pendaftaran. Sebelum berangkat, tentu saja Zircon sudah memperingatkan kami untuk sarapan dan mengisi cadangan energi banyak-banyak. Selain itu dia juga sedikit memberikan tips dan trik tentang apa yang harus kami lakukan untuk pertarungan gear.
Setiba di gedung turnamen itu kami langsung menuju ke front office untuk mengkonfirmasikan kedatangan kepada petugas turnamen. "Zircon, Jasper dan Saphir," Zircon mewakili kami menyapa petugas.
"Baiklah. Kalian sudah check in. Silahkan ditunggu sampai ada pengumuman selanjutnya mengenai jadwal dan lawan pertandingan kalian."
"Ok," Jawab Zircon singkat mengajak kami menjauhi kerumunan orang.
"Kita tidak diberitahu untuk membawa gear masing-masing. Jadi kemungkinan pertarungan nanti akan menggunakan gear standart dari panitia" Ujar Zircon memberi tahu kami berdua.
"Tak masalah. Aku sudah sering berlatih menggunakan gear standart" Jawabku optimis.
"Bagaimana denganmu Saphir?" Tanya Zircon
"Ehm...tidak pernah hehe," Jawab Saphir ringan. "Tapi tenang saja aku pasti bisa mengendalikannya." Tambahnya saat menyadari kecemasan di wajahku dan Zircon sekaligus.
"Kalian berdua tak perlu memaksakan diri." Kali ini Zircon mengatakan dengan nada sangat serius.
"Aku tak ingin kalian terluka, jadi jika kalian merasa tidak akan bisa memenangkan suatu pertarungan menyerah saja. Biarkan aku saja yang akan bertarung sebisa mungkin memenangkan turnamen ini"
"Tapi kau juga tak boleh memaksakan diri, Zirc. Kau juga harus berhati-hati" Jawabku sedikit tidak tenang, tak mungkin kan aku membiarkannya memikul beban untuk memenangkan turnamen ini sendirian.
"Kau lupa ya aku sudah menghajarmu habis-habisan?" Jawabnya setengah mengejek dan menggodaku. Sejak masalahnya dengan Diamond serta ujianku selesai, aku merasa Zircon menjadi sedikit riang daripada sebelumnya. Lebih menyenangkan dan komunikatif pula untuk diajak bicara.
Dan dalam pelarian kami ini mau tak mau dialah pimpinan kami setelah kami berpisah dengan Opal dan Platina. Mau tidak mau dialah yang harus memutuskan apa yang harus dan tidak boleh kami lakukan. Dia pulalah yang bertanggup jawab penuh akan keselamatan kami.
Hal ini terjadi secara natural tentu saja karena dia sudah jauh lebih berpenglaman hidup diluar istana dibandingkan aku dan Saphir yang tidak pernah keluar istana. Dan hal ini pulalah yang menuntutnya untuk lebih banyak berbicara daripada biasanya.
"Aku mau ke toilet sebentar, kalian tetap disini jangan keman-mana," pamitnya pada kami sebelum berlalu melangkah ke arah toilet.
"Kira-kira kita bisa kembali pulang ke istana tidak ya?" tanya Saphir tiba-tiba dengan nada sedihnya.
Dapat kulihat ada seuatu kerinduan mendalam dimatanya. Mungkin dia merindukan ibunya, ayahnya, kakaknya, rumahnya dan semua hal yang telah ditinggalkannya di istana. Membuatku kembali merasa sangat bersalah telah melibatkannya dalam masalah besar ini. Masalah pelik yang seharusnya tidak melibatkan wanita seperti dirinya dan Platina.
"Tentu saja. Kita semua pasti akan pulang setelah semuanya berakhir," jawabku mencoba meyakinkannya. Meskipun jauh dari lubuk hatiku, aku sendiri tak yakin bagaimana akhir dari pelarian kami ini. Apakah kami masih bisa pulang atau tidak, apakah kami akan bisa bertahan hidup atau tidak.
"Apa kau masih sering mendapat penglihatan dan mimpi-mimpi aneh, Jez?" tanya Saphir menyelidik.
"Eh? Tidak. Mungkin karena pikiranku tersibukkan dengan masalah turnamen ini." Aku sedikit kaget juga menyadari beberapa hari ini aku tak pernah sekalipun mendapatkan bayangan atau mimpi lagi.
"Apa kau tidak merasa aneh? Kenapa baru setelah disini kau mendapatkan mimpi dan pengelihatan itu?"
"Sepertinya karena lokasi kejadiannya ada di kota ini. Penglihatan itu biasanya kudapatkan jika aku kebetulan melewati suatu tempat. Tempat yang sama seperti yang kulihat saat ini. Dan tempat itu pula yang didatangi oleh pria yang berwajah mirip denganku, ayahku." Aku mencoba mengutarakan teoriku.
"Hemmm masuk akal juga sih."
"Makanya aku merasa penglihatan itu seperti memories. Suatu kenangan masa lalu yang pernah terjadi. Dan entah bagaimana kenangan ayahku dapat tertanam juga di kepalaku."
"Lalu bagaimana dengan mimpimu? Apa itu nyata?"
"Sepertinya itu juga nyata walau aku tak dapat menjelaskan bagaimana teorinya atau membuktikan kebenarannya. Tapi kenyataan bahwa ayahanda bahkan sampai saat terakhirnya bersama dengan gear, seperti kata ibumu semakin menguatkan kalau yang kulihat adalah kejadian masa lalu."
"Ini gila...Tapi sungguh luar biasa," komentar Saphir.
"Kau benar. Memang sangat menyedihkan untuk mengetahui kenyataan ini. Tapi dilain sisi aku juga merasa sangat beruntung dapat mengetahui dan melihat sendiri apa yang sebenarnya telah terjadi."
"Sebagian misteri telah terpecahkan, tinggal sebagian lagi yang akan kita tanyakan secara langsung pada paman Obsidian. Kita juga dapat menanyakan kebenaran dari mimpi dan penglihatanmu kepadanya." Saphir terdengar semakin bersemangat.
"Kau benar, kita hanya perlu berjuang dalam turnamen kali ini." Aku membenarkan ucapannya.
"Kita pasti bisa." jawabnya mantap.
Pembicaraan kami terhenti ketika kami melihat Zircon berjalan kearah kami dengan langkah cepat dan wajah super serius. Dia memang selalu berwajah serius sih setiap harinya, tapi kali ini dia jauh lebih serius lagi.
"Opal. Aku tadi bertemu dengannya," jawab Zircon.
"Apa? Jadi Opal masih hidup? Syukurlah!" Saphir langsung bereaksi senang mendengarnya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanyaku tidak tenang melihat Zircon tetap dengan wajah seriusnya. Seharusnya kan dia memasang wajah gembira setelah mengetahui Opal masih hidup.
"Dia baik-baik saja secara fisik. Tapi dia terlihat tidak bebas, bahkan dia bersikap seolah tidak mengenalku. Ada dua orang laki-laki yang mengawalnya, mungkin dia tak ingin membuat mereka curiga..."
"Platina...Bagaimana dengan Platina?" Saphir kembali memotong pembicaraan Zircon.
"Opal tadi sempat mengirimkan telepati singkat padaku, dia mengatakan bahwa dirinya akan mengikuti turnamen ini sebagai perwakilan dari Ruby. Dan dia juga mengatakan bahwa Platina sedang dalam tawanan...Yah kemungkinan besar dia sedang diancam menggunakan Platina untuk mau mengikuti turnamen ini." Kali ini baik aku maupun Saphir hanya bisa mendengarkan tanpa sanggup bereaksi atau berkata-kata.
Aku tak bisa membayangkan apa yang telah Opal dan Platina alami setelah berpisah dengan kami, apakah mereka baik-baik saja? Apa mereka menderita? Apakah mereka disiksa?
Pikiran-pikiran mengerikan berkelebat di otakku. Perasaan bersalah kembali menghantuiku. Yah bagaimanapun juga mereka menderita karena aku. akulah yang membuat semua temanku mengalami semua ini. Karena untuk kepentingan pribadiku...
Tak lama kemudian layar super besar di tengah hall menyala. Menampakkan seorang panitia turnamen yang memegang microphone
"Selamat siang semuanyaaaaa! Bagaimana keadaan kalian semua? Apakah masih bersemangat mengikuti turnamen ini?" Dia mulai menyapa semua orang yang sudah menunggu di hall dari tadi.
Sorakan riuh langsung terdengar di seluruh ruangan sebagai jawaban. Semua yang hadir sangat bersemangat dan antusias menyambutnya.
"Pertarungan selanjutnya akan dilakukan menggunakan gear. Tapi gearnya akan disediakan oleh panitia untuk permulaan. Baru nanti babak semifinal untuk menambah keseruan peserta diperbolehkan memakai gear pribadi mereka!"
Layar-layar besar lain bermunculan di sepanjang tembok hall, menampakkan sebuah arena gear ground yang cukup luas, sebuah podium superbesar berbentuk persegi dan dibatasi oleh jeruji-jeruji besi disekililingnya. Tembok super tebal dari beton berdiri kokoh setinggi kurang lebih 7 meter mengelilingi arena pertandingan itu, sekitar 5 meter dari podium. Yah mungkin pengamanan ini diharapkan dapat menahan serangan dan ledakan dari pertarungan gear nantinya.
"Setiap peserta diharapkan masuk ruang karantina setelah ini. Untuk melakukan beberapa persiapan yang berhubungan dengan jadwal pertandingan. Untuk skema pertandingan akan kami jelaskan setelah ini. Dan tidak lupa saya ingatkan kepada kalian semua jangan lupa memasang taruhan untuk memilih siapa jagoan kalian. Dapatkan berbagai hadiah menarik jika kalian berhasil menebaknya dengan tepat!"
Teriakan, sorakan dan tepuk tangan semakin riuh. Jadi inilah tujuan utamanya? Taruhan? Tentu saja orang-orang bengis di daerah ini pasti sangat menikmati bertaruh dan menonton pertarungan yang mempertaruhkan nyawa ini.
Pantas saja turnamen ini begitu diminati dan dapat diselenggarakan tiap tahunnya. Pasti karena uang taruhan ini.
Grup A
Feri vs Ruby 1
Saphir vs Jack
Jasper vs David
Jade (auto win)
Grub B
Simone (auto win)
Yuna vs Ruby 2
Zircon vs Victor
Valeria vs Jose
Kemudian skema pertandingan ditampilkan, nama2 peserta turnamen disandingkan dengan lawannya masing-masing. Hanya 2 nama yang tidak mendapat lawan, Simone dan Jade.
Mungkin karena Simone merupakan juara turnamen tahun lalu, tapi siapakah Jade ini? Mengapa dia mendapat keistimewaan? Jika kuingat-ingat Jade ini adalah pria yang menerobos antrian pada saat pendaftaran babak penyisihan.
"Syukurlah kita tidak harus bertemu di awal pertandingan" ujar Zircon setelah mengamati layar. Kemudian tanpa basi-basi dia mengajak kami berdua ke ruang karantina peserta.
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼