Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
76. Opal - Result



Suasana arena pertandingan tournamen Bloody Hell begitu gaduh. Segala bentuk umpatan, makian, cemooh, sumpah serapah bahkan sampai hujatan-hujatan mengerikan terlontar. Seluruh penonton yang melihat pertandingan semifinal pertama hari ini hanyut dalam kericuhan. Semuanya merasa kecewa dengan hasil akhir pertandingan itu.


Wasit memutuskan hasil akhir pertandingan bahwa Diamond didiskualifikasi dari tournamen karena dianggap melakukan kecurangan. Diamond dianggap melibatkan orang atau gear ketiga untuk membantu melindunginya. Dan dengan hal itu secara otomatis Wasit menyatakan Jade sebagai pemenang pertandingan tersebut. Jade akan menjadi salah satu dari dua orang yang akan melaju ke babak final.


Kehebohan berawal setelah kemunculan mendadak Leviathan di tengah arena pertandingan. Entah dari mana datangnya gear ungu yang mengganggu jalannya pertandingan itu. Dan entah bagaimana gear itu tiba-tiba dapat muncul ditengah arena.


Tepat waktu untuk melindungi gear merah Diamond yang sudah tak berdaya. Gear ungu itu berhasil untuk menyelamatkan Phoenix dari ledakan energi yang dihasilkan oleh serangan Grock, gear hijau milik Jade. Ledakan yang kemungkinan besar dapat meledakkan dan menghancurkan Phoenix serta membunuh Diamond. Jika sampai terkena secara langsung serangan itu dalam jarak demikian dekat.


Untuk beberapa saat sebelum segala kehebohan pecah dan membahana, suasana arena pertandingan menjadi hening. Semua yang menonton sibuk dengan pikiran di otak masing-masing. Sibuk mencerna kejadian apa yang sedang terjadi di arena.


Bagaimana ledakan energi yang luar biasa besar itu tiba-tiba menghilang? Bagaimana bisa ada tiga gear yang berdiri di arena? Bagaimana bisa ada gear ketiga yang menyusup ke arena dan mengggangu jalannya pertandingan yang sedang seru-serunya ini?


Aku bisa menebak sebagian besar jalan cerita tentang apa yang sedang terjadi. Siapa lagi coba yang bisa melakukan hal senekat itu? Siapa lagi yang begitu tak sayang nyawanya sendiri untuk menghentikan ledakan chi yang begitu dahsyat dari jarak sedekat itu. Siapa lagi yang rela melakukan kegilaan apapun untuk menyelamatkan nyawa Diamond? Sudah pasti dialah oranganya. Dia adalah kakakku, Kak Amethys.


Tapi aku bersyukur Kak Amethys-lah yang akhirnya menjadi wanita pilihan Diamond, untuk menemani dan mendampingi sahabatku itu. Kak Amethys adalah wanita kuat dan mandiri. Bahkan mungkin saking kuatnya dia sanggup untuk bertukar peran menjaga Diamond.


Untuk mencegahnya bertindak bodoh bahkan menyelamatkan nyawanya di saat yang terdesak seperti ini. Kakakku bukan wanita lemah dan cengeng yang hanya bisa merepotkan kaum lelaki. Dia adalah wanita yang sangat cerdas, kuat dan mandiri.


Dan rencana penyelamatan ini pastinya sudah direncanakan oleh Kak Amethys dengan sangat matang. Kakakku itu bahkan lebih cermat dan teliti daripada aku dalam membuat perencanaan. Kalau tebakanku benar, mungkin dia telah meminta bantuan Zircon untuk menyelundupkan gearnya ke hanggar gear sebelum pertandingan berlangsung.


Mungkin dengan memecah gearnya menjadi bagian-bagian kecil. Menyamarkan Leviathan menjadi bagian dari gear zircon, menjadi sparepart atau senjata yang dapat dibawa masuk oleh Fenrir ke hanggar.


Kemudian Kak Amethys sendiri menyusup ke hanggar sebelum pertandingan dimulai. Mengamati jalannya pertandingan dan bertindak pada saat yang benar-benar dibutuhkan. Dia bahkan telah mempersiapkan rose shield, equipment tingkat tinggi yang dapat menahan segala macam serangan dengan efektif. Baik serangan magic maupun fisik dapat diredam oleh shield itu, bahkan tembakan bazokapun dapat diredamnya. Seolah jalannya pertandingan ini sudah dapat diprediksi oleh Kak Amethys.


Dapat kulihat dilayar besar ruang tunggu Jade menerbangkan gearnya kembali ke hanggar. Tak lama kemudian Leviathan, gear ungu kak Amethys memapah dan membawa Phoenix terbang juga untuk segera kembali ke hanggar gear.


Di tengah jalannya pertandingan tadi saat suasana pertandingan sudah semakin memanas, Ruby memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menjemputku dari ruang tawanan bersama Platina. Ruby membawaku masuk ke ruang tunggu peserta tournamen yang akan bertanding hari ini, para semifinalis.


Ruby memintaku bertindak sebagai dokter hari ini, kalau-kalau diperlukan dan ada peserta tournamen yang terluka parah. Mungkin Ruby juga mengkhawatirkan keselamatan Diamond dan Jade. Mengingat mereka berdua dengan kedua gearnya bertarung dengan sangat sengit dan tak ragu untuk saling membunuh satu sama lainnya di pertandingan semut tadi.


Aku bergegas ke hanggar gear untuk menyambut kedatangan gear-gear yang baru saja bertanding itu. Aku berharap semoga tak ada yang terluka serius. Berharap semua baik-baik saja... Ruby juga sudah menantikan kedatangan mereka di hanggar dengan sanggat gelisah dan emosi.


Gadis itu mondar mandir dalam patern tetap, maju mundur sambil menggepalkan kedua tangannya dan menggigiti bibirnya. Mungkin dia tak mengira kalau Jade akan dapat mengalahkan Diamond di pertandingan tadi.


Mungkin dia marah dengan hasil yang begitu tak terduga, dengan adanya gear ketiga yang menggangu jalannya pertandingan. Yah mungkin Ruby tidak tahu kalau Diamond baru saja sembuh dari keadaan nyaris mati. Dia tak tahu keadaan tubuh Diamond saat ini.


Gear hijau Jade lah yang pertama mendarat di gear pad hanggar. Tak lama kemudian Jade keluar dari kokpid gearnya. Pria itu terlihat sedikit pucat mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan energi dalam pertandingannya tadi. Selain gear hijaunya yang rusak parah di bagian lengan kiri tak ada luka atau cidera yang berarti di tubuh Jade.


Jade berjalan perlahan menghampiri Ruby, dan dapat kulihat gadis itu sedikit bergetar ketakutan menyambutnya. Didekatinya gadis itu, dekat dan semakin dekat sampai jarak yang memisahkan diantara mereka tidak sampai setengah meter saja


"Can you see the result?...Aku menang! Tinggal satu langkah lagi dan kau akan jadi milikku!" Ujarnya pada Ruby dengan nada sangat sinis.


"Masih ada pertandingan final." Jawab Ruby mengatasi ketakutannya. Tampak jelas dia berusaha terlihat tegar dihadapan Jade.


Jade mendengus dan tertawa sinis, dia bertingkah seakan Ruby baru saja mengatakan guyonan yang tidak lucu.


"Kita lihat saja nanti..." Ujarnya sebelum melenggang santai, berlalu meninggalkan Ruby. Berjalan keluar hanggar gear.


Segera kuhampiri mereka dan kuraih tubuh Diamond dari bopongan kakakku. Kudukung dan kubopong dia dengan melingkarkan lengannya di leherku. Sepertinya Diamond masih setengah sadar. Yah meskipun dia hampir pingsan, dengan tubuhnya yang sangat kelelahan sampai sulit untuk bergerak.


"PLAK!"


Tanpa kuduga Ruby menghampiri Kak Amethys dan menampar wajahnya. Membuat pipi kanan berkulit putih wajah kakakku itu berubah warna menjadi merah.


"Beraninya kau! Beraninya kau mengacaukan segalanya! Asisten jal*ng sialan!!"


Kak Amethys diam saja tidak menjawab. Dia hanya menatap Ruby dengan tatapan tajam menantang sambil memegangi pipinya.


"Memangnya kau siapa hah? Kau wanita jal*ng yang merayu atasanmu?!" Ruby semakin emosi dan bersiap-siap untuk kembali memukul dan menampar Kak Amethys lagi.


Tapi langkah Ruby terhenti saat Diamond yang tanpa kusadari sudah beranjak dari boponganku. Dia berjalan sempoyongan dan terhuyung-huyung diantara kedua gadis itu, menghalangi Ruby menyerang kak amethys.


"Hentikan! Dia...Amethys adalah Wanitaku." Ujar Diamond menatap tajam pada Ruby. Terlihat jelas dia tak rela kakakku disakiti lagi oleh Ruby.


Hening. Suasana tiba-tiba menjadi hening, sunyi dan mencekam. Tak ada satupun dari kami yang sanggup bereaksi. Ruby pun nampak berusaha keras meredam emosi dan kemarahannya. Kumanfaatkan momen ini untuk kembali membantu Diamond berdiri dengan melingkarkan lengannya ke leherku.


"Tindakan ini sudah tepat. Kalau dipaksakan meneruskan pertandingan Kolonel Diamond pasti sudah mati sekarang." Aku membantu menjelaskan keadaan kepada Ruby.


"Kolonel sangat kuat. Tidak mungkin dia bisa dikalahkan Jade dengan mudah." Pekik Ruby tak dapat menerima alasanku.


Kubuka resleting bagian atas gearsuit Diamond. Terlihat jelas oleh kami beberapa plester penutup luka yang menempel memenuhi dadanya dan berwana kemerahan, warna darah. Sesuai dugaanku akibat serangan Jade tadi pasti bekas luka Diamond terbuka lagi, tapi tak kukira akan separah ini perdarahan yang dideritanya.


"Kenapa? Kenapa Kolonel Diamond bisa terluka separah itu?" Kali ini Ruby terbelalak kaget melihat luka-luka di dada Diamond.


"Kolonel Diamond tertembak dan nyaris kehilangan nyawanya dalam peperangan di West Line beberapa minggu yang lalu." Kak Amethys menjelaskan dengan nada datar, mau tak mau aku harus memuji kemampuan kontrol emosi kakakku itu.


"Kolonel bahkan sempat koma beberapa hari. Dia masih belum sembuh benar dan masih dalam masa penyembuhan. Tapi Kolonel memaksakan dirinya untuk menuruti semua keegoisanmu meskipun keadaanya masih sangat lemah seperti ini"


"Jadi...Jadi. Dia terluka separah ini. Bagaimana bisa dia bertarung seperti itu tadi melawan Jade? Dia bisa mati..." Ruby sedikit syok dan khawatir akan keselamatan Diamond. Mungkin gadis itu memang benar menyimpan rasa pada Diamond.


"Dia kekasihku. Apa kau pikir aku tega melepasnya pergi sendirian dan bertaruh nyawa untukmu?...Apa kau pikir aku akan diam saja melihatnya dibunuh oleh Kakakmu yang psikopat itu? Tidak akan!" Ujar Kak Amethys memberiku isyarat untuk membawa tubuh Diamond keluar dari hanggar.


"Tidak usah menghawatirkan Kolonel Diamond. Mulai sekarang aku yang akan mengurusinya. Kau tak usah ikut campur." Kak Amethys mengakhiri pembicaraannya dengan nada dramatis.


Ruby hanya diam tak sanggup menjawab ucapan kak Amethys. Dia terlihat sangat bingung, perpaduan antara rasa bersalah, marah, gelisah, cemburu berkecamuk menjadi satu di dadanya.


Kak Amethys berjalan perlahan meinggalkan Ruby yang masih berdiri membatu. Aku pun mengikuti kakakku itu, berjalan dibelakangnya dengan memapah tubuh Diamond yang sudah kembali kehilangan kesadarannya. Membawanya ke klinik di tournamen hall untuk merawat luka-lukanya.


..._______#_______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼