
Hari pertandingan final turnamen Bloody Hell akhirnya tiba juga. Aku bersemangat sekali untuk menghadapi hari ini. Lonjakan hormon adrenalin dalam tubuhku seakan meningkat tajam menambah excitedment yang merasuki jiwaku.
Perasaan tegang dan berdebar-debar di dada. Perasaan tak sabar untuk segera bertarung dan beradu pedang. Bertukar jurus dengan lawan yang tangguh. Naluri alamiah sebagai petarung sejati bergejolak dan bergemuruh menjadi satu.
Tepat tengah hari aku beranjak pergi ke turnamen hall dari penginapanku. Memang pertandinganku masih lama tapi aku ingin mampir ke suatu tempat sebelum bertanding nanti. Jasper dan Saphir sudah duluan pergi entah kemana. Mungkin mereka memanfaatkan saat-saat kebersamaan mereka selagi mereka bebas di luar istana. Kencan.
Setiba di turnamen hall kuarahkan langkahku ke bagian terdalam bangunan, ke bagian guess room. Aku inget betul arah dan ruangan yang mana saat Ruby menarik lenganku kemarin. Kuketuk pintu salah satu guess room itu perlahan, ruangan yang sama dengan yang kemarin.
Entah mengapa aku ingin melihat wajah gadis itu sebelum pertandinganku nanti. Untuk beberapa saat aku menanti namun tetap tak ada jawaban. Kemana dia? Apa Ruby sedang tidak di ruangannya?
Untuk beberapa lamanya aku menanti dan berdiri disana, sesekali mengetuk pintu dan menunggu. Menanti sang pemilik ruangan untuk menyambut dan membukakan pintu untukku.
Dengan sedikit kecewa akhirnya kutinggalkan pintu kamar Ruby karena tak kudapatkan jawaban, dan aku melanjutkan perjalananku ke arah hanggar gear. Tepat di gear pad Fenrir, sudah menantiku Opal dan tentu saja Platina yang selalu bersamanya.
Opal sedang berkutat dengan komputer hologram yang tersambung dengan Fenrir, gearku. Sementara Platina duduk saja menemaninya dengan setia. Diam tanpa banyak berkata-kata.
Rasanya menyejukkan hati untuk melihat kedua pasangan ini, pasangan yang selalu terlihat adem, berdampingan, harmonis tanpa ada pertengkaran.
Berbeda sekali dengan pasangan Diamond dan Kak Amethys yang meskipun lebih dewasa mereka sering sekali meributkan berbagai macam hal. Bahkan mulai hal kecil dan tidak penting pun sering menjadi alasan pertengkaran mereka. Dan satu lagi pasangan Jasper dan Saphir yang lebih seperti hubungan percintaan anak sekolahan yang sedikit kekanakan. Seperti cinta monyet saja dilihatnya.
Mau tak mau aku jadi kepikiran juga kira-kira bagaimana nantinya hubunganku dengan Ruby jika kami bersama? Seperti apakah interaksiku dengannya nanti? Apakah akan adem ayem atau malah runyam karena banyaknya konflik dan pertengkaran di antara kami?...Duh sudah mikir kemana si? Pertandingan final saja belum dimulai malah mikirin bisa berhubungan dengan Ruby.
"Hi Zirc bagaimana keadaanmu? Apa tidurmu semalam nyenyak? Apa kau sudah makan cukup?" Opal menyapaku dan menanyakan pertanyaan standart seorang gear tecnician pada client-nya yang akan melaksanakan duel gear.
"Aku sudah siap," jawabku singkat padanya. Opal langsung menjawab dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Bagaimana Fenrir? Manteinance dan pengaturannya sudah beres?" Aku balik bertanya pada Opal.
"Beres. Tinggal bayarnya yang belum, hehe."
"Bayar? Kamu mau diabayar apa?"
"Traktir makan sepuasnya." Jawab Opal sambil tertawa ringan.
"Nanti kalau sudah kembali ke istana." Balasku ikut tersenyum membayangkan kami kembali ke istana. Kembali ke kehidupan normal kami sebelumnya. Apa bisa? Apa kami bisa kembali ke saat-saat damai itu?
"Kau tak ingin menemuinya?" Tanya Opal padaku tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Siapa?"
"Siapa lagi? Kalau bukan Diamond. Kapan terakhir kau bertemu dengannya?" Opal mengatakan sesuatu yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya.
"Di istana. Sebelum ujian Jasper"
"Yaampun itu sudah sangat lama sekali. Pertandingan finalmu juga masih beberapa jam lagi kan?Temuilah dia, pasti Diamond juga sudah sangat merindukanmu. Dia ada di klinik sekarang," Opal memberi saran.
"Baiklah aku akan kesana. Kau mau ikut?" Aku memberikan penawaran. Entah mengapa rasanya masih sedikit canggung untuk menyapa Diaomond.
"Tidak-tidak. Kami mau jalan-jalan sebentar hehe," Opal mengedipkan sebelah matanya ke Platina yang langsung membalasnya dengan senyum malu-malu.
Haduh tingkah dan kemesraan mereka lama-lama membuatku mual juga lama-lama. Eneg dengan ke-uwuan mereka yang overdosis. Yah mungkin karena jauh dilubuk hatiku ada rasa iri juga melihatnya, karena aku tidak memiliki hubungan seharmonis itu dengan wanita manapun.
Segera kutinggalkan mereka berdua sebelum perasaanku semakin buruk. Kutinggalkan hanggar gear, terus berjalan ke arah klinik di sayap kiri hall.
Kuketuk pintu klinik dan kudapati Saphir yang membukakan pintu untukku. Oh rupanya dia dan Jasper ada di sini, kukira mereka sedang berkencan dimana entah kemana.
"Bagaimana keadaannya?" Tanyaku pada Saphir dan Jasper yang ada di ruang tunggu.
Aku segera berlalu dari ruang tunggu klinik menuju keruangan yang lebih dalam. Ruang pemeriksaan atau ruang perawatan pasien. Dapat kulihat Diamond sedang duduk di atas ranjangnya sambil menikmati sepiring makanan di pangkuannya. Sementara Kak Amethys duduk di kursi sebelah ranjang sambil tangannya dengan cekatan memainkan sebuah pisau, mengupas buah apel.
"Halo," sapaku sedikit canggung pada mereka berdua, pada sepasang kekasih itu.
"Zircon!" Ujar Diamond terlihat sangat senang dengan kehadiranku tanpa ditutup-tutupi.
"Rasanya sudah seabad gak ketemu," lanjutnya sambil menyuapkan sendok terakhir makanannya. Dia kemudian menyerahkan nampan makanannya kepada Kak Amethys.
Wanita itu meletakkan apel yang telah selesai dikupas di tangannya ke piring di atas meja tepat disebelah ranjang Diamond. Kemudian diterimanya nampan yang berisi bekas makanan Diamond tadi. Lalu membawa nampan itu pergi, berlalu meninggalkan kami berdua di dalam ruangan.
Kak Amethys tersenyum manis saat melewatiku, terlihat sekali sengaja memberikan waktu untuk aku dan Diamond berduaan saja.
"Kau nampak lebih baik," ujarku sambil mendekati sahabatku itu. Dengan melihat sepintas saja sudah dapat diketahui bahwa keadaan tubuhnya sudah jauh lebih baik daripada saat terakhir aku melihatnya di rumah sakit pusat istana.
Warna kulitnya sudah kembali merona berisi darah, bukan sepucat mayat seperti waktu itu. Raut wajahnya juga sudah tak terlihat kesakitan lagi. Dia sudah erangsur sembuh dan membaik.
"Zirc, maaf ya. Sepertinya sekali lagi beban berat harus berada di pundakmu," Diamond memulai pembicaraan kami.
"Hah? Apaan si?"
"Maaf karena aku tak bisa mengalahkan Jade. Jadinya kau yang harus berhadapan dengan Jade." Lanjutnya dengan nada penyesalan.
"Apa kau gila? Sudah untung kau tidak mati waktu melawannya! Memangnya kau punya berapa nyawa hah?" Jawabku sedikit emosi mendengar ucapan Diamond. Dasar sok kuat.
Mau sampai kapan dia terus begitu? Mau sampai kapan dia harus berkorban dan memaksakan dirinya untuk kami?
"Peranmu sudah selesai. Sekarang giliranku yang akan tampil. Kau tinggal melihat saja dengan tenang dari ranjangmu. Orang sakit tiduran saja!" Ujarku padanya.
"Hahahha kau benar." Diamond tertawa mendengar jawaban dariku. Mengakui ketidak berdayaannya.
"Hajar dia untukku juga!" Pintanya padaku.
"Tentu saja. Akan kuhajar dia untukku sendiri, untumu, untuk Jasper dan untuk Ruby..." Buru-buru Kuhentikan perkataan ku saat kusadari aku kelepasan bicara.
"Hah? Untuk Ruby?!" Diamond langsung bereaksi kaget mendengar ucapanku.
'Sial!' Aku mengutuk kebodohanku sendiri. Bisa-bisanya aku menyebut nama Ruby di depan Diamond.
"Sudah dulu ya aku mau melakukan persiapan pertandinganku," Aku benar-benar salah tingkah dibuatnya, berusaha mengelak, menghindar dan beralih meninggalkannya.
"Hoi apa maksudnya ini? Jangan-jangan kau memang dari awal sudah berniat untuk menang demi mendapatkan Ruby ya?" Goda Diamond sambil cekikikan dengan terang-terangan.
"Tak kusangka seleramu adalah yang seperti Ruby hahaha. Yang sedikit liar dan ganas rupanya."
"Fuxk you!" umpatku padanya terang-terangan.
"Yah harus kuakui dia gadis yang sangat manis meski sedikit unik hahahha" Diamond terus saja mengoceh, mengolok-olok dan menertawaiku sampai aku meninggalka dirinya keluar ruangan.
'Aaaarrrgh Sungguh Sial'
Dari semua orang kenapa aku harus keceplosan dihapannya? kenapa harus Diamond orang pertama yang mengetahui perasaanku pada Ruby. Apes banget rasanya.
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼