Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
45. Zircon - Bloody Hell



Dalam kegelapan malam kami terus memacu gear kami kencang-kencang. Melaju dan terus melaju menyisiri gurun pasir tandus yang seakan tak berbatas dan bertepi ini. Walaupun jiwa dan raga kami sudah sangat lelah, kami tak bisa berhenti atau beristirahat sekalipun. Tujuan kami hanya satu, Bloody Hell! Kami harus sampai disana secepatnya.


Untungnya sejak kawanan perampok gear merah tadi tidak ada lagi perampok atau penjahat lain yang menghadang kami. Tak ada halangan yang berarti sehingga kami masih belum kehabisan bahan bakar gear meskipun kami melakukan perjalan nonstop.


Entah kenapa hatiku selalu gundah dan gelisah sepanjang pelarian ini. Ketakutan besar yang tak pernah melandaku sebelumnya bahkan separah apapun perang yang kuhadapi, terus saja berkelebat di kepalaku. Selalu menghantuiku sejak kami pergi dari istana ...


Ketakutan besar karena aku tak mampu melindungi teman - temanku, melindungi orang-orang yang kusayangi. Ketakutan bahwa sekali lagi aku gagal, kalah! Sekali lagi aku telah mencelakakan, mengorbankan sahabatku untuk keselamatan diriku sendiri.


Setelah aku menyebabkan Diamond nyaris kehilangan nyawanya, sekarang malah kutinggalkan Opal untuk bertarung sendirian. Meninggalkan dirinya melawan begitu banyak musuh demi memberi kami cukup waktu untuk kabur dari kawanan perampok. Demi keselamatan kami, keselamatanku.


Opal, maafkan aku. Maafkan aku  yang tidak berguna ini. Maafkan aku dengan ketidakberdayaanku.


Bahkan untuk menjaga Platina yang kau titipkan padaku pun aku tak sanggup. Padahal kau rela mengorbankan dirimu untuk kami semua. Mengulur waktu agar kami bisa kabur dan selamat.


Opal, kau masih hidup kan? Kumohon jangan mati dan semoga nanti kita akan bisa bertemu lagi di Bloody Hell suatu hari nanti.


Platina juga, entah kemana gadis itu pergi, dia seenaknya saja pergi memisahkan diri dari rombongan tanpa memperdulikan peringatanku. Aku tak bisa menyia-nyiakan pengorbanan Opal untuk mengejar dan membawa kembali Platina.


Aku harus terus memacu gearku dan menjamin keselamatan Jasper dan Saphir. Memprioritaskan keselamatan lebih banyak orang daripada satu orang. Tapi aku yakin Platina pasti pergi ke tempat Opal. Dan asalkan bersama Opal dia pasti akan baik-baik saja.


Kami terbang terus ke arah barat daya, arah yang ditunjuk oleh Opal sebelum berpisah. Dan benar saja menjelang subuh dapat kulihat sebuah kota besar yang terlihat terang. Kota dengan kerlap kelip penuh lampunya yang sangat kontras dengan keadaan sekitarnya yang gelap gulita. Pasti itu adalah Bloody Hell, tak mungkin ada kota lain di padang pasir setandus dan seberbahaya ini.


Layaknya sebuah kota biasa, kota ini juga memiliki hanggar gear di luar gerbangnya. Kuajak Jasper dan Saphir mendarat disana untuk memarkir gear kami. Kuamati sekilas hanggar gear sederhana itu, sepertinya tempat ini merangkap sebagai penginapan.


Kuajak Jasper dan Saphir untuk mendaratkan gear kami di depan hanggar dan memasuki bangunan itu. Dari luar bangunan ini seperti motel murahan yang kotor dan tak terawat. Cat di dindingnya sudah banyak yang terkelupas bahkan menghitam karena debu.


Keadaan di dalam gedung tak jauh berbeda dengan diluar, sama kotor dan kumuhnya, perabotan yang adapun sederhana dan berdebu. 


“Kami mau menitipkan tiga gear kami, dan apakah kami bisa menyewa kamar juga?” tanyaku pada receptionis yang duduk dibalik meja dengan terkantuk-kantuk.


“Hm, tentu. Mau nitip gear dengan jaminan keamanan brapa persen? Kamarnya mau kelas apa?” tanyanya acuh tak acuh, huh benar-benar pelayanan yang buruk.


“Garansi 100%, kamar doble standart 4 hari”


“Semuanya 770.000 Gils”


Tanpa pikir panjang langsung kurogoh kantongku, kukeluarkan beberapa lembar uang. Kubayar sejumlah uang yang dimintanya, tak ingin memperpanjang masalah. Petugas itupun langsung memberi kami 2 buah kunci kamar dan 3 acses card .


“Kamar nomer 17, lantai 2. Gear padnya F,G,H.”


“Makasih,” Ujarku mengambil kunci dan acces card itu. Kemudian cepat-cepat menggiring Jasper dan Saphir ke lantai 2 mencari kamar kami. Aku tak ingin ada yang memperhatikan kami mengingat penampilan kami yang sangat mencolok dengan gear suit.


“Hei Zirc, kenapa kau hambur-hamburkan uang kita?” protes Saphir begitu kami memasuki kamar kami.


Dinding kamar sudah tidak jelas lagi warnanya, entah krem atau coklat yang sudah ternoda oleh debu. Kamar yang sangat sederhana, disana hanya ada sebuah ranjang double size dengan kasur yang sudah tipis, sebuah sofa busa yang berlubang di beberapa bagian, lemari dan meja kecil dari kayu serta satu kamar mandi kecil.


Kamar sempit yang kelihatan sangat kotor dan tidak steril jika dibandingkan dengan kamar kami di paviliun apalagi kamar Jasper di istana.


Lain halnya denganku yang sudah bergabung dengan dunia militer, waktu di markasku North line aku sudah terbiasa tidur seperti pindang dengan banyak prajurit lainnya di dalam barak, bahkan tidur diatas pohon atau di udara terbuka yang sangat dingin pun pernah kujalani mengingat markasku di daerah pegunungan bersalju.


“Masa hanya untuk kamar bobrok begini kau mau mengeluarkan uang 770.000 gils? Ini namanya permapokan! Kau sadar tidak sih kita ini sedang dalam pelarian, kita harus menghemat uang!” Ujar Saphir dengan nada bicara yang menurutku menyebalkan karena kemiripannya dengan Diamond, kakaknya.


“Kita di Bloody Hell. Terserah kamar kita bagaimana yang penting gear kita aman.” Jawabku sambil meletakkan tas ranselku di lantai dan kurebahkan tubuhku di sofa.


“Istirahatlah dulu, kalian juga pasti lelah kan?” rasanya lega sekali, akhirnya setelah perjalan panjang yang sangat melelahkan jiwa dan raga, akhirnya aku bisa merebahkan punggungku dan memejamkan mataku.


“Tapi ini terlalu mahal...” Saphir masih bersikeras tak mau kalah.


“Ssshhhh sudahlan Saphir, Zircon pasti sangat lelah. Biarkan dia beristirahat sejenak." Jasper mencoba menghentikan protes Saphir padaku.


"Tapi kan..."


"Zircon itu jauh lebih berpengalaman tentang kehidupan diluar istana dibanding kita berdua. Mungkin dia hanya ingin memastikan keamanan gear kita. Bloody Hell ini adalah kota bebas tanpa hukum, tentunya banyak pencuri dan perampok berkeliaran. Atau bisa jadi malah pemilik hanggar gear ini sendiri adalah seeorang pencuri” Jasper berusaha menjelaskan pada Saphir dengan sabar tentang.


Aku lega Jasper bisa menjelaskan hal-hal yang tak bisa kukatakan. Yah memang benar perkataan Jasper, keamanan gear kami adalah prioritas utamaku.


Jasper  melepaskan ransel dari punggungnya dan meletakkan bawaannya itu diatas meja kecil disudut ruangan. “Sebaiknya kita juga beristirahat untuk memulihkan tenaga kita”


“Istirahat? Dimana? Disini Cuma ada satu ranjang kan?” Saphir memprotes sambil berdiri berkacak pinggang.


Kali ini Jasper tidak menjawab, dari sudut mata dapat kulihat dia sedang memandang keluar jendela dengan pandangan yang sulit diartikan.


Mungkin dia sedang berpikir tentang keadaan dan situasinya saat ini, atau bisa juga dia sedang menikmati kekebasannya, bebas dari paduka ratu, segala pengawalan, segala peraturan dan segala urusan istana yang menyesakkan setiap harinya.


Atau mungkin juga dia sedang mengamati keadaan kota yang bahkan tak pernah terbayangkan akan dikunjunginya. Yah meskipun keadaan diluar masih gelap gulita dan tak kelihatan apa-apa. Kota ini lah, Bloody Hell yang akan membawanya selangkah lebih dekat untuk mengungkap misteri besar tentang ayahnya... Misteri tentang mendiang Paduka Raja Almekia Kingdom yang agung.


“Itu kan ranjang double? Kau bisa tidur berdua dengan Jez disana.” Jawabku tanpa membuka mataku yang sudah sangat berat seakan digandoli oleh beberapa kilogram benda.


Aku sungguh heran dan tak bisa mengerti jalan pikirannya Saphir. Memangnya kenapa? Bukannya nyaman sekali tidur diranjang saat tubuh kita sedang benar-senar lelah?


“A, apa? Aku...aku tidur dengan Jez?” Tanya Saphir tiba-tiba gugup, membuatku membuka sebelah mata karena penasaran dan kudapati wajah malu gadis itu yang merah padam.


“Kau tidak keberatan kan Jez?” tanyaku pada Jasper dan dia langsung mengangguk setuju dengan sedikit rona merah diwajahnya, membuatku sedikit tersadar arti penolakan Saphir dan tingkah Jasper.


“Awas kau Jez, kalau berani macam-macam pada Saphir, kau pasti akan dibunuh dan dicincang habis oleh kakaknya!” tambahku saat keduanya berjalan perlahan dengan malu-malu kearah ranjang.


Setelah itu kututup kembali mataku dan kulanjutkan tidurku.


..._______#________...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼